9

Mahasiswa USM Ciptakan Listrik

MAKIN menipisnya sumber daya minyak bumi untuk mem­produksi listrik, mendorong Nur Hidayat meneliti lebih jauh fenomena lumpur menyembur di Desa Kuwu, Kecamatan Kra­denan, Grobogan, Jawa Tengah. Benar saja, instingnya itu menuntunnya kepada temuan mutakhir, yakni penciptaan energi listrik bertenaga lumpur.

Nur merupakan mahasiswa semester tujuh Teknik Elektro Universitas Semarang (USM). Dia baru saja merampungkan pene­litiannya selama sebulan, menga­nalisa kandungan di dalam lum­pur yang ia ambil dari lokasi bernama Bleduk Kuwu itu.

”Karena awalnya melihat warga desa Kuwu meman­faatkan lumpur jadi garam. Maka saya tertarik kenapa tidak dicoba saja garam yang sifatnya penghantar tegangan listrik ini,” kata Nur di Audi­torium Kampus USM.

Karena, kata Nur, selain endapan garam, lumpur tadi ternyata juga mengandung magnesium, tembaga, seng, besi, dan alumunium. “Ka­darnya cukup tinggi sebagai energi pembangkit listrik,” sambung remaja asal Pati kelahiran 22 tahun silam itu.

Kendati demikian, untuk men-dapatkan menciptakan energi listrik, harus dibuatkan panel berangkai seri terlebih dahulu. Memanfaatkan puluhan potong pipa diameter 3 cm. Dijadikan satu dan diberi penghantar di tiap ujungnya. Bentuknya, lebih mirip sebuah dinamit.

Tentunya, di dalam tiap pralon itu, ia isi beberapa liter lumpur tadi sebagai sumber energi listrik. “Tapi ada kendala di sini, karena kalau lumpur itu cair kan jadinya kalau goyang penghantarnya bisa bersentu­han, drop tegangannya. Jadi pakainya lumpur kering, kita kasih air, dia akan konstan, tak akan goyah,” tambahnya.

Setelah utak-atik cukup lama, ia pun memperagakan ki­nerja panel bikinannya itu. Dimulai dari mengukur te­gangan, dimana per pipa be­risi lumpur atau ia sebut sel, bisa mencapai 0.80 mini am­pere. ”Maka dikalikan saja itu, ada 27 sel per panelnya. Jadi total berapa. Arusnya DC (di­rect current),” sambungnya.

Tak lama kemudian, ia sam­bungkan panel tadi ke sam­bungan kabel lampu 12 watt yang telah ia bawa sebelum­nya. Terbukti, penelitiannya bukan bohong belaka. Lum­pur Bleduk Kuwu bisa mem­buat lampu itu menyala terang.

”Dengan satu panel ini bisa tahan lima hari. Pernah saya panjer selama itu, matinya perlahan. Tidak langsung mak pet, tapi dari redup dulu. Kalau mau lebih lama, ya tinggal di­perbesar saja rangkaiannya ini. Ke depan, saya mau coba buat menghidupkan motor,” katanya Alumni SMK 2 Pati itu.

”Ketika garam terkena air maka mengalami proses men­gurai senyawa negatif dan positif. Garam inilah yang jadi penghantar ion listrik melalui seng dan besi-besi yang dipasang di peralon. Untuk seliter lumpur yang diambil dari Desa Kuwu sudah bisa menghasilkan tegangan 16,4 volt,” terangnya lagi.

Nur pribadi harus merogoh kocek sebesar Rp 600 ribu un­tuk membiayai temuan ilmi­ahnya tersebut. Tapi, perabot­nya tak harus sama seperti miliknya. Seperti pralon bisa diganti botol atau logam bisa diganti dengan yang lebih mu­rah, asal karakteristiknya sama.

”Banyak yang tidak percaya awalnya sebelum saya tunjuk­kan. Karena memang bahan dasarnya ini. Saya sendiri pilih lumpur, karena air laut itu cair, bisa goyang. Angin itu jam-jam an. Tak setiap waktu. Nah lum­pur ini pas dan saya lihat di jurnal-jurnal penelitian lain belum ada,” katanya.

Kendati demikian, harapan­nya agar temuannya ini bisa jadi solusi energi listrik terbaru­kan tetap saja ada kendalanya. Lantaran, lokasi bahan dasar lumpur, yaitu Bleduk Kuwu itu sendiri masuk ke dalam kawa­san dilindungi negara. Makanya, ia berpikiran mengambil Lum­pur Sidoarjo yang ia analisa punya kandungan mirip jika tak dapat izin Pemkab Grobogan.

”Ini sangat ramah lingkungan. Karena lumpur Bleduk Kuwu hanya dibiarkan begitu saja. Inilah peluang yang harus di­gunakan sebagai energi alter­natif pengganti cadangan mi­nyak bumi yang terus menurun tiap tahunnya. Lagipula saya hanya ambil energinya. Setelah itu saya kembalikan dan kandun­gannya akan kembali seperti semula saat didiamkan,” ce­tusnya. (gul/JPC/ign)

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.