LSL Rentan Tertular Aids

34

KEPALA Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Romi Abdurrahman, mengatakan penularan Virus HIV/Aids di Kota Cimahi didominasi oleh pergaulan seksual sesama jenis.

Menurutnya, kasus penggerebekan pesta gay di Jakarta dan kontes gay Nusantara jadi salah satu indikasinya. Hal tersebut lantaran mereka memiliki kecenderungan kerap berganti pasangan dan tak aman ketika berhubungan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi, penderita HIV-Aids pada Tahun 2005-2016 dengan faktor risiko hubungan seksual sebanyak 307 kasus. Sedangkan untuk 2017, mulai dari Januari-April, telah dikonfirmasi 313 kasus HIV/Aids akibat hubungan seks.

”Sekitar 10 tahun yang lalu, kasus HIV/Aids tertinggi itu disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang bergantian. Untuk sekarang justru berbalik. Dibandingkan akibat jarum suntik, HIV/Aids tertinggi itu akibat hubungan seks,” ungkap Romi.

Dia melanjutkan, jika dirinci, kasus penularan HIV/Aids dari ibu ke anak sebanyak 18 kasus atau sebesar 6 persen. Penularan akibat perilaku transeksual sebesar 60 persen, dan yang melalui jarum suntik sebesar 34 persen.

”Untuk penderita laki-laki sebesar 67 persen dan perempuan 27 persen serta waria 6 persen. Peningkatan kasus penularan kasus HIV/Aids di Kota Cimahi hampir seluruhnya lewat hubungan seksual,” paparnya.

Penularan virus HIV sebenarnya bukan karena masalah orientasi seksual seseorang, namun lebih menitikberatkan pada seperti apa perilaku orang tersebut dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangannya ataupun.

Di Indonesia angka heteroseksual yang terkena virus HIV lebih tinggi ketimbang mereka yang ada dalam kategori LGBT. Namun demikian, di Kota Cimahi dan Bandung Raya, tren penularan virus HIV justru lebih banyak melalui LGBT, khususnya pada kategori gay dan waria atau LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki).

”Ironisnya, banyak mereka yang LGBT khususnya gay dan waria, yang terkena HIV/Aids ini. Sehingga dulu ada singkatan AIDS itu ‘Akibat Intim dengan Sesama’, karena pada awalnya menyebar di kalangan gay,” terangnya.

Terpisah, Pengurus Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Cimahi, Kin Fathuddin, mengakui jika populasi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Cimahi mencapai ratusan orang. Menurutnya, para LGBT itu kerap melakukan komunikasi transaksional melalui media sosial atau langsung bertatap muka, salah satunya di Alun-alun Kota Cimahi.

”Berdasarkan data tahun 2017, Lelaki Seks Lelaki (LSL) itu sampai 705 orang. Mereka itu termasuk yang biasa melakukan seks dengan waria juga,” ungkap Kin saat ditemui di Sekretariat KPA Kota Cimahi.

Namun, dia tidak mengetahui apakah ada perwakilan dari kelompok gay di Kota Cimahi yang terbang ke Bali untuk mengikuti Kontes Gay Nusantara.

Belakangan ini, masyarakat dikagetkan dengan adanya informasi mengenai Kontes Gay Nasional di Bali dan penggerebekan pesta gay di Jakarta. ”Biasanya mereka bergerak secara diam-diam. Kita juga tidak tahu apakah ada atau tidak yang ke sana. Tapi kalau melihat kemungkinan, sepertinya tidak ada,” bebernya.

Dikatakannya, populasi LGBT di Kota Cimahi juga ada yang berasal dari kalangan pelajar. Rata-rata populasi usia LGBT di Kota Cimahi berada dikisaran usia 15-24 tahun.

”Ada juga dari pelajar, tapi tidak banyak. Untuk populasi 15-24 tahun itu persentasenya sekitar 30 persen. Bisa saja menular, tapi kembali lagi ke personalnya masing-masing,” pungkasnya.

Sementara itu di Kabupaten Purwakarta, hingga September 2018, Yayasan Resik menemukan 102 penderita HIV-Aids. Tahun sebelumnya, hingga Desember 2017 yayasan tersebut mencatat 350 penderita. Kumulatif kasus HIV-Aids di Purwakarta hingga kini tercatat sebanyak 452 orang.

”Kasus HIV-AIDS mayoritas berusia produktif, yakni berumur 26-48 tahun. Namun ditemukan pula kasus HIV yang berusia 0-4 tahun, penularan keanak disebabkan adanya penularan dari ibu HIV positif ke bayi melalui persalinan yang normal yang dilahirkan dari ibu yang tertular HIV-Aids,” ujar Direktur Yayasan Resik, Hasanuddin, ditemui di kantor Yayasan Resik, Perumahan Bukit Citara Persada, Desa Mulayameka, Kecamatan Babakancikao, Purwakarta, kemarin (11/10).

Menurutnya, penyebaran HIV-Aids di Kabupaten Purwakarta telah meluas ke 14 wilayah kecamatan. Itu artinya, hampir seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten telah ditemukan kasus HIV-Aids.

”Kegiatan pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui Puskesmas untuk deteksi dini kasus HIV-Aids terus gencar dilakukan selain itu pemberian informasi tentang HIV-Aids terus dilakukan oleh Yayasan Resik. Hampir semua kecamatan di Kabupaten Purwakarta ada kasus HIV-Aids. Bisa saja semua kecamatan ada temuan kasus baru HIV-Aids,” kata Hasanuddin.

Dia menambahkan, sikap ODHA yang menutup status dirinya, dikarenakan masih terjadi stigma di dalam diri ODHA itu sendiri dikarenakan masih ada kekhwatiran akan dijauhi dari lingkungan masyarakat itu bagian kendala yang dihadapi oleh ODHA. Diperlukan kepedulian dari seluruh masyarakat agar tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. ”Jadi kita jauhi virusnya bukan orangnya,” ucapnya.

Penularan HIV hanya melalui hubungan seks berisiko yang gonta-ganti pasangan, penggunaan jarum suntik yang tidak seteril dan dari Ibu HIV ke banyinya melalui persalinan.

”Untuk itu kami Yayasan Resik mengedukasi dan memotivasi kepada setiap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) untuk terbuka minimal kepada pihak keluarga,” kata dia.

Selain itu, lanjut Hasan sapaan karibnya, Yayasan Resik Purwakarta memberikan sosialisasi tentang HIV-Aids, seperti apa bahayanya virus tersebut bagi tubuh, cara penularannya, cara pengobatannya, serta cara mendapatkan pelayanan kesehatan atau perawatan bagi orang yang terinveksi virus HIV-AIDS.

”Kita berharap jangan ada prilaku diskriminasi terhadap ODHA, karena pada dasarnya penularan HIV-AIDS tidak segampang yang dibayangkan selama ini. Selain itu, dibutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat. Serta perlu adanya Rencana Strategi dari pemerintah daerah Purwakarta untuk menanggulangi kasus HIV agar bisa menekan laju kasus HIV-AIDS, selain peran pemerintah daerah, peran masyarakat mutlak diperlukan. Dalam rangka Pengendalian HIV-AIDS,” demikian Hasan.

Sementara itu, Yayasan Matahati mencatat setidaknya ada 383 laki-laki yang memiliki orientasi seksual sebagai gay atau LSL di Kabupaten Pangandaran.

Manajer Matahati Agus Abdulah mengatakan dari total 383 gay tersebut, 15 diantaranya dari kalangan pelajar. ”Rata-rata mereka berusia 25 tahunan dan sudah terkena HIV/AIDs,” jelasnya saat dihubungi Radar, kemarin (10/11).

Menurut data dari Dinas Kesehatan, kata Agus, ada 32 orang  LSL  yang terjangkit HIV/AIDs sampai tahun 2017, sementara data di AIDs Healcare Foundation (AHF) sebanyak 24 orang di tahun 2018. ”Sebagian dari mereka masih mengikuti Anti Retroviral Virus,” ujarnya.

Agus menambahkan masih ada gay atau LSL yang belum terdata oleh pihaknya, jadi dipastikan jumlahnya masih bisa bertambah. ”Ya kemungkinan masih ada lagi, diluar jumlah tersebut,” tuturnya.

Menurut dia, sifat gay tidak menular kepada orang yang ada didekatnya, tapi sifat tersebut bisa terbentuk karena pengalaman seksual orang itu sendiri.” Bisa saja si gay ini dulunya pernah melakukan penetrasi seksual melalui dubur,” terangnya.

Perencana Program Komisi Penanggulangan AIDs (KPA) Kabupaten Pangandaran Aris menuturkan pihaknya terus melakukan pendampingan dan penyuluhan kepada kaum gay, melalui LSM penjangkau. ”Diberikan pemahaman bahaya prilaku seks menyimpang, terutama bahaya tertular viru HIV/AIDs,” ujarnya.

Lanjut Aris, kaum penyuka sesama jenis ini memang sangat tertutup, sehingga dalam pendataan masih sulit dilakukan. ”Apalagi stigma mereka di kalangan masyarakat sangatlah buruk,” terangnya.  (ziz/aga/den/ign)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.