Kodam Ungkap Sebab Citarum Tercemar

195
DOK. TNI
ALAT BERAT: Excavator Perum Jasa Tirta II saat membersihkan sungai Citarum dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 TNI.

BANDUNG – Kodam III Siliwangi menyatakan telah mengetahuisemua permasalahan yang menjadi penyebab tercemarnya sungaiCitarum, hingga mendapat predikat sungai terkotor di dunia.

Permasalahan tersebut di­katakan Kapendam III Siliwangi Kolonel ARH MD Aryanto, diketahui setelah pencanangan program Citarum Harum. Pada program itu, Kodam III Siliwangi menerjunkan 20 orang Kolonel untuk menyisir aliran Sungai Citarum.

”Jadi semua permasalahan Sungai Citarum di tiap-tiap sektor itu sudah diketahui,” kata Aryanto di Bandung ke­marin (4/1).

Aryanto memaparkan, per­kembangan dari hasil survei yang dilakukan pihaknya menghasilkan beberapa fak­ta yang dianggap sebagai penyebab tercemarnya sung­ai. Dia menyebutkan, salah­satunya beberapa perusa­haan secara sengaja membu­ang limbah ke sungai. ”Tidak hanya pabrik, ternyada ada juga hotel dan sebagainya itu sudah ada datanya. Nanti kita akan sampaikan secara detail,” lanjutnya.

Aryanto mengungkapkan, saat ini Kodam III Siliwangi sedang menyusun beberapa hal diantaranya terkait ang­garan, kebutuhan alat serta jumlah personil yang akan menjalankan program pem­bersihan Sungai Citarum seperti yang telah dicanang­kan. ”Kita siapkan semua yang dibutuhkan untuk melaks­anakan kegiatan pembersihan yang sering disampaikan Pangdam,” tambahnya.

Dikatakan Aryanto, angga­ran yang akan digunakan dalam program tersebut sudah ada dan berbeda-beda ter­gantung kebutuhan. Menurut­nya, akan ada badan sendiri yang nantinya mengatur ang­garan tersebut termasuk ang­garan dari berbagai sponsor. ”Jadi anggarannya ini tetap nanti dari APBD mana dan sebagainya, baik itu dari pro­vinsi, kabupaten/kota itu semuanya ada dan akan di­bagi-bagi,” kata dia.

Meski begitu, Aryanto me­nilai yang paling penting buk­anlah perihal anggaran, me­lainkan penegakkan hukum terhadap perusahaan yang masih membuang limbahnya ke sungai. Untuk itu kata dia, Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Doni Munardo telah me­maparkan kepada praktisi hukum agar bisa menindakla­njuti permasalahan tersebut.

”Kita minta bantuan hukum agar penanganan masalah Citarum dapat berjalan dengan baik. Karena tanpa bantuan hukum, maka penanganan kita untuk sungai Citarum tidak ada apa-apanya selama ini,” kata dia.

Menurutnya, langkah hukum dapat menjadi suatu cara yang dinilai akan menimbulkan efek jera bagi para perusa­haan dan juga siapa saja yang masih membuang limbah ke sungai Citarum. ”Misalnya limbah pabrik yang sampai ini masih susah karena payung hukum tidak ada, walaupun perda sudah ada. Jadi ini yang akan dilakukan,” kata dia.

Sementara itu, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Ke­polisian Daerah Jawa Barat Jabar (Ditreskrimsus Polda Jabar) Kombes Pol Samudi mengatakan, untuk menanga­ni permasalahan limbah sungai Citarum pihaknya menggunakan dua azaz, ya­kni ultimum premedium dan premium premedium.

”Untuk ultimum premedium khususnya adalah untuk penanganan limbah cair. Se­betulnya ultimum itu pamun­gkas atau terakhir kita mela­kukan penegakan hukum,” kata Samudi.

Dia melanjutkan, jika pe­ringatan atau sanksi adminis­trasi yang diberikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat kepada perusa­haan yang membuang limbah ke sungai sudah ditaati, maka penegakkan hukum tidak dilakukan. ”Itu khusus untuk penanganan limbah cair, ke­mudian untuk penangangan premum atau yang lain tanpa memberikan sanksi, ini kita sudah melakukan penindak­kan,” kata dia.

Dipaparkan Sambudi, se­lama tahun 2017 pihaknya telah melakukan penindakkan sebanyak 133 kasus yang di­nilai mengalami peningkatan. Sebab, pada tahun 2016 pi­haknya hanya menindak 88 kasus saja terkait pencemaran lingkungan. ”Artinya 2017 kita sudah lebih intensif untuk melakukan penindakkan,” kata dia.

Dikatakan dia, untuk pen­cemaran yang berhubungan dengan sungai Citarum, pi­haknya telah menangai seba­nyak 17 kasus yang melibatkan sejumlah perusahaan di se­panjang Daerah Aliran Sung­ai (DAS) Citarum. ”2017 sudah di proses semua. Itu yang aksesnya langsung ke Citarum ada 17 kasus, tapi yang lingkungan hidup ada 133, kasus” kata dia.

Meski begitu, Sambudi me­nilai penanganan limbah Sungai Citarum tidak bisa hanya dilakukan kepolisian saja. Menurutnya, perlu peran serta dari berbagai pihak ter­masuk masyarakat dalam melestarikan sungai Citarum.

”Jadi bukan tugas Polri saja, ini termasuk kesadaran ma­syarakat membuang sampah dan pengusaha ternak yang tidak buang kotoran ke sung­ai,” kata dia. (mg1/ign)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.