Kembalikan Lagi Gairah Eropa

471
Di Francesco

ROMA – Andai yang lolos ke semifinal Liga Champions adalah Barcelona dan Man­chester City, mungkin sen­sasi yang terjadi kemarin dini hari biasa saja karena keduanya memang superior di liga masing-masing musim ini. Namun, menjadi istime­wa karena hal tersebut ter­jadi ke AS Roma dan Liverpool yang bahkan masih harus berjuang mengamankan po­sisi di empat besar klasemen.

Lolosnya kedua klub juga membuat Liga Champions lebih “seru”. Sebab, di dua slot semifinal lainnya, sangat mun­gkin diisi tim lain yang memang langganan, yakni Real Madrid dan Bayern Muenchen. Kedua klub itu sama-sama menang di leg pertama dan sangat diuntungkan di leg kedua dini hari nanti karena bersta­tus tuan rumah.

Faktor lainnya, yang dilaku­kan Roma dan Liverpool un­tuk menembus semifinal bisa dibilang epik, terutama Roma. Tim polesan Eusebio Di Francesco itu tampil di empat besar Liga Champions untuk kali pertama dalam 34 tahun setelah hanya unggul gol tandang (agregat 4-4) dari Barcelona pasca menang 3-0 di Olimpico kemarin.

Perjudian pelatih 48 tahun itu juga sukses. Ya, Di Francesco menerapkan formasi 3-5-2 dengan Edin Dzeko dan Patrik Schick sebagai ujung tombak. Nah, saat bertahan, formasi tersebut bertransisi menjadi 5-3-2. Taktik ini sukses meredam Lionel Messi dkk karena diba­rengi dengan high press.

Pakem tersebut terbukti jitu meredam agresivitas Messi, Luis Suarez, dan Andres Iniesta. Bahkan, rekor unbeaten di 38 jornada La Liga yang baru dibu­kukan pekan lalu seolah menguap begitu saja di Olimpico.

Roma menjadi tim ketiga dalam sejarah Liga Champi­ons yang mampu membalik keadaan di leg kedua fase knock out setelah defisit tiga gol di leg pertama. Dua tim lainnya adalah Deportivo La Coruna (2003-2004) dan Bar­celona musim lalu.

Roma juga berhasil menapak sukses mereka melawan Bar­celona di musim 2001-2002 dengan skor serupa. Bahkan, dua protagonista kala itu, Francesco Totti dan Antonio Cassano hadir di tribun Olim­pico kemarin.

‘’Saya mengambil keputusan itu (memainkan formasi 3-5-2, Red) karena ingin kami bermain lebih melebar yang membuat kami bisa mengan­dalkan serangan balik. Namun, yang benar-benar berpenga­ruh adalah filosofi bermain dengan memanfaatkan lebar serangan,’’ kata Di Francesco kepada Reuters.

Hanya saja, serangan dari sisi lapangan tidak melulu jadi aliran utama Roma untuk me­nyerang Barca. Sebab, Barca juga bisa membaca itu. Di luar dugaan, saat tim polesan Ernesto Valverde lebih fokus meredam Roma dari sektor sayap, se­rangan dari tengah justru mem­bunuh mereka. Dua awal gol Roma jadi bukti sahih.

Dan, Dzeko menjadi sosok penting agar skema tersebut berhasil. Golnya di menit keenam yang berhasil me­lewati penjagaan Samuel Umtiti dan Gerard Pique adalah jawabannya. Hadiah penalti bagi Roma yang sukses dieksekusi De Rossi pada menit ke-58 juga berasal dari pola serangan serupa. Bedanya, Pique kali ini me­langgar Dzeko.

Kemenangan tersebut mem­buat Roma berhasil memper­tahankan rekor tidak ke­bobolan mereka selama ber­laga di Olimpico. Spirit me­reka pun berlipat menyongsong Derby della Capitale melawan Lazio (16/4) yang juga kru­sial untuk posisi empat besar Serie A.(io/ign)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here