68

Jelang Lebaran, Gas Melon Langka

DOK. JABAR EKSPRES
Kelangkaan gas elpiji 3kg mulai terjadi lagi di beberapa daerah di Jawa Barat

SUKABUMI – Dua pekan men­jelang Hari Raya Idul Fitri 1439 H, kelangkaan gas elpiji  diala­mi warga Kampung Bojong, RT 04 RW 04, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupat­en Sukabumi. Warga setempat terpaksa beralih menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi untuk memasak keper­luan buka puasa maupun sahur. “Disini gas sudah mulai sulit dicari, kalo adapun harus nyari ke kampung lain, itupun jauh,” kata Sudarmo, 60, warga Kam­pung Bojong, kepada Sukabumi Ekspres, kemarin (6/6).

Sudarmo mengungkapkan, tanda-tanda kelangkaan gas subsidi tersebut sudah terasa di sekitar tempat tinggalnya satu hari sebelum Ramadan. Sampai saat ini, dia belum dapat mem­beli gas elpiji ukuran 3 kilogram dari warung langganannya. Ia dan tetangganya harus pergi ke warung yang jaraknya cukup jauh, itu pun tidak ada jaminan gas elpiji 3 kilogram dapat diper­oleh dengan mudah. “Saya telah berusaha untuk mencari gas elpiji ke desa lain. Tapi di desa lain pun rebutan, sama-sama langka. Jadi untuk keperluan memasak kami terpaksa pakai kayu bakar,”kata Sudarmo.

Tidak hanya di Bojongkem­bar, kelangkaan gas juga ter­jadi di Desa Cikujang Kecama­tan Gunungguruh, Kecama­tan Gegerbitung, Desa Jam­pang Tengah dan Kecamatan Nyalindung.

Kelangkaan gas elpiji 3 kilo­gram juga terjadi di beberapa titik di Kota Sukabumi, sep­erti di Kamupung Sukasari, Kecamatan Warudoyong dan Kelurahan Nangela Kecamatan Baros. “Karena sudah hampir beberapa hari tidak ada pasokan gas elpji dari pangkalan, saya bingung menjawab permintaan konsumen. Soalnya di warung saya juga kosong, ” kata Dewi Ratnasari, pemilik warung di Kampung Jajaway, Desa Ci­kujang.

Dewi tidak mengetahui secara pasti penyebab tersendatnya pasokan gas elpiji melon terse­but. Padahal, semula pihak pangkalan menjamin pasokan gas tetap lancar selama Rama­dan da Idul Fitri. Tapi faktanya sampai saat ini pasokan gas masih tersendat-sendat. Kelang­kaan ini membuat konsumen yang mayoritas kalangan ibu rumahtangga mengeluh. “Ya bagai mana tidak kebingun­gan, soalnya bagi kaum ibu rumahtangga gas elpiji san­gat dibutuhkan untuk masak sehari-hari,”katanya.

Dia berharap pihak Hiswana Migas dapat segera menor­malkan pendistribusian gas elpiji dipasaran. Pasalnya pasca dikuranginya bahan bakar minyak tanah, mayoritas masyarakat memanfaatkan gas epiji untuk keperluan me­masak. “Kalau bahan bakar gas elpiji sulit diperoleh, ba­giamana nasib para ibu ruma­tangga yang akan melakukan aktivitas masak dirumahnya. Soalnya tidak ada alternatif lain selain bahan bakar lainnya, ” katanya.Sementara Kepala Disperindagkop Kabupaten Sukabumi, Asep Jafar ketika dikonfirmasi mengenai kelang­kaan bahan bakar gas elpiji dis­ejumlah daerah di Kabupaten Sukabumi mengaku belum memerima keluhan langsung dari masyarakat. Namun, dia berjanji segera menindak­lanjuti informasi tersebut. “ Untuk mengetahui secara pasti apakah benar-benar ada kel­angkaan gas elpiji, kami akan segera menurunkan petugas kelapangan untuk mengecek langsung pasokan gas elpiji dieceran,”tandasnya.(udi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.