Guru dan Tantangan Perubahan

55

Hadirnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Abad-21 telah menimbulkan berbagai perubahan yang begitu cepat di semua sektor kehidupan. Kita dapat merasakan jauh jarak secara geografis tidak lagi menjadi jauh secara social dan pribadi.

Layanan transportasi dengan mudah dihadirkan di lokasi dimana kita memerlukan. Transaksi jual beli dilakukan tanpa harus bertemu dan mengenali barang dan jasanya secara langsung. Hal yang terjadi di belahan dunia nun jauh disana dapat diketahui di rumah kita sendiri pada waktu yang bersamaan peristiwa terjadi. Berbagai macam informasi dengan mudah untuk diakses, bahkan kadang datang dengan sendirinya tanpa diundang, informasi yang diperlukan maupun tidak diperlukan oleh kita.

Globalisasi menjadikan dunia tanpa sekat, banjir informasi terjadi diberbagai ruang, luas maupun sempit, ruang pribadi maupun ruang publik. Kiriman informasi terjadi terus menerus setiap detik dan sulit dibendung dengan sekat-sekat konvensional berupa larangan, pamali, atau sejenisnya.

Sekadar kata ”jangan” sudah tidak ampuh lagi untuk menjauhkan anak-anak kita dari berbagai informasi yang terus mengalir melalui berbagai media bervariasi.  Mungkin di rumah tanpa TV, tapi di lingkungan lainnya tersedia banyak tayangan TV dan video.

Mungkin di kelas tanpa gadget, tapi setelah keluar kelas mereka bermesraan dengan gawai.  Oleh karena itu hal penting di era banjir informasi ini bukan saja bagaimana siswa dapat menguasai sejumlah informasi dan pengetahuan. Tapi, lebih kepada bagaimana anak-anak memiliki ”kedewasaan” untuk memilah, memilih, bahkan mengkreasi informasi yang konstruktif bagi kemajuan diri dan lingkungannya.

Sebagaimana dikemukakan para ahli, informasi dan pengetahuan yang diperoleh seseorang akan berpengaruh pada sikap dan perilakunya. Mereka yang memiliki informasi dan pengetahuan banyak tentu lebih luas cakrawala pandangnya.

Tapi, apakah informasi dan pengetahuan yang dimiliki itu mampu menjadi jalan solusi masalah kehidupan? Tentu akan tergantung seberapa besar mereka memiliki sikap mental dan multi kecerdasan untuk memanfaatkannya. Penguasaan informasi dan pengetahuan saja tidak cukup. Mereka akan lebih produktif dan berkreasi jika didukung dengan berbagai kecakapan lain.

Einstein mengatakan bahwa ”Imagination is more important than knowledge”. ”Knowledge is power but character is more”. Pernyataan ini menegaskan bahwa menguasai sejumlah pengetahuan tidaklah cukup. Memiliki kebiasaan-kebiasaan baik secara kemanusiaan dan berbudaya ilmu pengetahuan menjadi modal utama.

Berusaha mencari, mengkreasi, dan mengembangan pengetahuan adalah hal yang lebih penting. Ini artinya bahwa mereka-mereka yg selalu mengembangkan diri untuk berimajinasi akan senantiasa haus berilmu pengetahuan, ketimbang mereka-mereka yang hanya berusaha menumpuk ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Oleh karena itu untuk membekali anak-anak kita bisa sukses di kehidupannya ke depan, tidak cukup mereka dijejali dengan informasi dan pengetahuan, lebih penting mereka dikuatkan dalam kompetensi proses. Bukan sekadar kompetensi hasil apalagi jika hasil yang dimaksud hanya berupa kemampuan kognitif tingkat rendah.

Kini kita dihadapkan dengan kebutuhan baru, apa yang disebut kompetensi abad-21. Banyak pendapat para ahli tentang jenis kompetensi ini. Supaya mudah dipahami paling tidak kita coba ingat enam kompetensi pokok, yaitu kompetensi komunikasi, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, karakter, dan literasi.

Inilah kompetensi yang diprediksi dapat mengantarkan orang-orang mencapai sukses di era digital. Jelas kita lihat bahwa masa kini dan ke depan, pendekatan yang menekankan pembekalan penguasan konten semakin jauh dari tujuan pendidikan. Anak-anak kita harus lebih banyak difasilitasi agar berkembang kompetensi abad-21 yang dibutuhkan.

Banyak hasil riset meyakinkan bahwa kesuksesan seseorang di era digital sekarang banyak dipengaruhi faktor soft skill seseorang. Jika dunia sekarang menuntut kecakapan hidup, soft skill, karakter, dan berbagai kompetensi abad-21 sebagaimana diuraikan di atas, barukah ini di dunia pendidikan? Hal barukah bagi seorang guru? Rasanya tidak!

Bagi mereka yang komitmen pada tujuan pendidikan dan menempatkan siswa sebagai subyek seorang anak manusia dengan bekal potensi luar biasa, pasti masih ingat dan bisa mengasosiasikan dengan istilah-istilah serupa yang sudah digaungkan sejak lama di dunia pendidikan.

Ahli pendidikan klasik Langeveld menyatakan bahwa mendidik adalah upaya sadar dan sengaja memberikan pembimbingan kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya untuk menuju ke arah kedewasaan dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan-tindakannya menurut pilihannya sendiri.

Mengapa memberikan pembimbingan bukan memberikan sesuatu. Sebab, seorang anak manusia punya potensi yang perlu dikembangkan. Mendidik bukanlah mengisi kekosongan/kekurangan kemampuan siswa, tapi lebih memberdayakan potensi siswa untuk berkemampuan.

Arah kedewasaan mana yang dituju dalam pendidikan itu? Buku Ilmu Mendidik yang penulis baca 1970-an sebagai siswa Sekolah Pendidikan Guru (SPG) jelas menyatakan bahwa kedewasaan yang dimaksud bukan hanya dewasa usia atau fisik. Tapi juga dewasa etis, estetis, intelektual, dan spiritual.

Bandingkan dengan pemikiran tentang multi kecerdasan yang akhir-akhir ini menggema, ada kecerdasan social-emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Atau apa yang dituangkan dalam naskah kurikulum 2013,yakni olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah rasa.

Komitmen terhadap tujuan pendidikan yang hakiki menjadi keharusan bagi seorang guru professional, para pengelola, dan pengelenggara pendidikan. Komitmen bahwa pendidikan adalah sector pembangunan prioritas, bahwa pendidikan adalah urusan wajib pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar warga negara, komitmen mengupayakan terus anggaran pendidikan 20 persen.

Tentu itu semua merupakan komitmen yang baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Tapi, tanpa komitmen yang kuat akan tujuan pendidikan maka cara-cara yang ditempuh akan sangat pragmatis mengikuti musim, mengikuti apa yang menjadi mainstream kebijakan saat tertentu, yang kadang dirancang berbasis pada kerangka berpikir siapa yang berkuasa menyusun kebijakan, atau berbasis pada program dan kegiatan yang rutin dilakukan.

Begitu mulia  tujuan pendidikan yang diamanatkan dalam Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, pasal 3 berbunyi: ”Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Guru Profesional percaya diri bahwa dia memiliki latar pengetahuan dasar ilmu mendidik dan pengalaman baik (best practices) selama menjadi guru. Guru Profesional selalu siap belajar dan mempelajari apa yang diperlukan dalam mengemban tugas sebagai guru sesuai perkembangan. Guru Profesional siap menghadapi tantangan perubahan dengan terus memantapkan diri menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Tapi mengapa kita sekarang banyak dikeluhkan akan kompetensi dan layanan guru? Teman-teman guru, mari kita lakukan refleksi, jangan menunggu dievaluasi apalagi sekedar menunggu hasil tes kompetensi. Mari kita bersilaturahim, berkarya, berbagi, dan mengabdi. Professional Learning Community, komunitas pembelajar guru professional di Finlandia dan negera-negara hebat lain telah terbukti menjadi alasan kemajuan mutu pendidikan.

Semoga SPG Institute yang kita launching di awal tahun 2018 ini bisa menjadi fasilitator tumbuhkembangnya Komunitas Guru Pembelajar.

*Alumni SPG Negeri Ciamis

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.