Gigih Mengejar Mimpi Menjadi Pengusaha Muda

Berkenalan dengan CEO KS-Group, Nadya Hersa Ursulla Permana

732
Nadya Ursula, CEO KS-Group

USAHA mikro, kecil dan men­engah (UMKM) merupakan salah satu penunjang kebangkitan ekonomi Indonesia. Merintis usaha tidak semudah membalik­kan telapak tangan. Perlu mental yang kuat agar usaha yang didi­rikan bisa berkembang dan ber­saing di tengah arus globalisasi.

KOMPAK: (kiri-kanan) Toga Crhistovel, Nadya Ursula dan Hani Kusmiati bersama-sama membangun bisnis KS-Group dari nol.

Kali ini, Jabar Ekspres memper­kenalkan seorang pengusaha muda inspiratif yang menjadi salah satu owner Klinik Susu (KS)- Group. Company ini menaungi produk minuman susu dan yogurt Nulla Lac serta kripik singkong K.Savetos. Dia adalah Nadya Hersa Ursulla Permana. Berkat kegigihannya, perempuan 21 tahun ini sukses meraup untung ratusan juta. Berikut wawancara antara reporter Jabar Ekspres Ahmad Taofik dengan Nadya.

Mbak Nadya, bisa dijelaskan awal mula anda me­mu l a i KS-Group ini?

Awalnya pada 2015, kami ber­tiga, yaitu saya, pacar saya Toga Crhistovel dan sahabat saya Hani Kusmiati bekerja dalam perusa­haan yang sama di bidang mar­keting. Namun, karena cita-cita sejak kecil ingin jadi pengusaha bukan pekerja, jadi saya memu­tuskan keluar pekerjaan untuk merintis usaha. Padahal, waktu itu posisi saya sudah jadi manajer.

Apakah tidak sayang dengan posisi manajer, mendapat gaji besar malah buka usaha yang mungkin waktu itu belum pasti akan berhasil?

Lihat Juga:  Maung Kehilangan Taring

Tekad saya dari dulu memang ingin jadi pengusaha muda. Saya bekerja hanya untuk men­gumpulkan modal. Atau jadi batu loncatan saja. Setelah punya modal, akhirnya saya memutuskan untuk bisnis dengan mengajak serta pacar dan teman saya.

Memangnya, sejak kapan anda berkeinginan jadi pengusaha?

Saya sudah mulai coba-coba usaha sejak SMP. Saya suka jualan menawarkan produk ke teman-teman. Entah itu permen atau kripik.

Apa yang mendorong dan memotivasi anda merintis usaha minuman susu?

Ingin membuktikan kepada keluarga bahwa saya bisa sukses menjadi pengusaha.

Dukungan keluarga anda se­perti apa?

Jujur, saya sama sekali tidak mendapat dukungan dari kelu­arga. Bahkan, keluarga mereme­hkan saya. Keluarga sering mer­agukan saya karena mereka mengangap saya ini bodoh. Jadi buat apa usaha kalau sudah dapat kerjaan ya tinggal lanjutkan saja.

Bagaimana meyakinkan kelu­arga bahwa anda mampu?

Selama bekerja saya banyak belajar. Saya pernah dimarahi keluarga karena memakai gudang untuk produksi. Tapi saya cuek. Karena jika bilang dengan cara baik-baik juga tak akan dikasih izin. Akhirnya saya pakai saja ruangan di rumah itu untuk usaha. Setelah cukup maju, saya akhirnya bisa membuka satu kedai di Wastukencana.

Lihat Juga:  Muay Thai Cirebon Loloskan Lima Atlet

Mengapa yang dipilih produk food and beverages?

Saya suka minum susu. Kan susu itu banyak manfaatnya termasuk untuk kecerdasan. Saya dulu pelupa, jadi tiap pagi harus minum susu. Saya ingin, produk yang dibuat itu memang memiliki manfaat be­sar untuk orang lain.

Berapa modal awal untuk merintis KS-Group ini?

Modalnya sekitar Rp 10 juta. Ngumpulin dari kami bertiga.

Kesulitan apa yang dirasa saat menjalankan usaha anda?

Banyak kendala. Mulai dari ci­biran orang. Tidak ada dukungan keluarga. Bahkan bukan hanya keluarga saya saja yang tidak mendukung. Keluarga Bang Toga dan Hani juga meragukan. Hani sempat dibawa pulang keluarga­nya ke Garut karena bisnis ini engak jalan. Bang Toga juga sem­pat pulang ke Medan. Akhirnya saya merenung, saya berpikir harus bangkit. Saya corat-coret buat skema dan perencanaan, lalu saya telepon Hani dan Bang Toga meyakinkan mereka agar melanjutkan usaha ini. Akhirnya mereka pada mau balik ke Bandung dan usaha bersama.

Lihat Juga:  Pemkab Bakal Revitalisasi Pertigaan

Saat ini usaha sudah menunjukkan hasil. Berapa kapasitas produksi Nulla Lac dan K.Savetos?

Untuk Nulla Lac sekitar seki­tar sembilan sampai sepuluh ribu botol per bulan. Sedangkan K.Savetos bisa sampai satu ton singkong.

Bagaimana kiat anda menja­lankan bisnis ini?

Saya membuat sistem. Saya belajar dari waktu masih be­kerja. Intinya, sistem marketing harus jalan. Saya merekrut orang yang ingin punya penghasilan dengan cara jadi reseller. Dan mereka tanpa modal. Hanya butuh keinginan saja.

Jadi, berapa omset yang dip­eroleh per bulan?

Omsetnya paling rendah Rp 200 juta per bulan. Kalau lagi ramai bisa sampai Rp 400 juta.

Adakah yang masih ingin di­raih setelah sukses seperti ini?

Ya, saya masih belum puas. Saya ingin mengembangkan bisnis fashion di Bali. Selain itu, saya juga ada rencana membuat produkbaru yatu sereal tapi tetap dengan brand Nulla Lac. (a2/fik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.