Gelar Doktor Yang Tertunda

Bertepatan Momen Hari Perempuan Internasional

40
Megawati Soekarno Putri

SUMEDANG – Mantan Presiden Megawati Sukarnoputri kembali mendapat gelar Doktor Honoris Causa untuk kali ke tujuh. Megawati mendapat gelar doktor di bidang politik dan pemerintahan bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, di kampus Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN), kemarin (8/3).

Megawati membacakan orasi ilmiah berjudul ”Pancasila dan UUD 1945, Pancang Politik Pemerintah”. Dia menyinggung beberapa hal, seperti masih banyaknya keputusan politik yang menitikberatkan pada teknis administratif. Padahal, menurut Megawati, semestinya keputusan politik diambil berdasarkan pertimbangan semua aspek yang berujung pada kesejahteraan rakyat.

Megawati juga menyinggung pentingnya keberadaan haluan negara dalam proses pembangunan jangka panjang. ”Saya berjuang keras agar Indonesia tetap memiliki blueprint rencana pembangunan. Karena saya meyakini langkah politik konkret untuk menjaga NKRI yang berideologi Pancasila adalah melalui politik pembangunan,” papar Megawati saat membacakan orasi ilmiahnya.

Di sisi lain, Presiden ke-5 RI itu juga juga meminta keputusan politik tidak diambil dengan hanya mempertimbangkan teknis adiministratif. Sebab, kata dia, hal itu bisa membuat jarak dengan rakyat.

”Jangan hanya menghitung untung rugi dari sisi bujet sesaat. Keputusan politik tidak boleh diambil hanya mempertimbangkan aspek finansial kas negara belaka,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, bagaimana saat ini sedang memperjuangkan nasib para peneliti madya Indonesia. Telah terbit aturan menteri yang mempercepat usia masa pensiun bagi peneliti, dari 65 tahun menjadi 60 tahun. Padahal bangsa ini sangat kekurangan peneliti.

”Dari awal saya telah memberi saran kepada Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, agar membuat kajian pemetaan aparatur negara,” ungkap Megawati.

Dia menuturkan, reformasi birokrasi harus secara tepat memperhitungkan mana yang layak atau tidak. ”Mana aparatur yang harus dipangkas, mana yang harus dipertahankan dan diprioritaskan untuk kepentingan pembangunan,” ungkap Megawati.

Dia berpandangan, tidak ada salahnya jika aturan tersebut ditinjau kembali. ”Apalagi saat ini kita sedang berupaya membangun science based policy,” ujar Megawati.

Untuk diketahui, Megawati sudah menerima enam gelar doktor honoris causa. Enam gelar itu dari Universitas Waseda, Tokyo, Jepang (2001); Moscow State Institute of International Relation, Rusia (2003); Korea Maritime and Ocean University, Busan, Korsel (2015); Universitas Padjadjaran (2016); Universitas Negeri Padang (2017); dan Mokpo National University, Mokpo, Korsel (2017).

”Pemberian gelar Doktor Honoris Causa (ketujuh, Red) untuk Ibu Megawati, sempat tertunda selama lebih dari 1,5 tahun,” kata Menteri Dalam Negeri,Tjahjo Kumolo di IPDN, Sumedang, kemarin.

Tjahjo menambahkan, mendiang proklamator Republik Indonesia Presiden Soekarno, yang juga ayah Megawati, turut berperan mendirikan IPDN. Bahkan, bisa dikatakan, Bung Karno adalah bapak pendiri sekolah pamong ini.

Karena itu, untuk mengenang jasa Bung Karno, di seluruh kampus IPDN akan didirikan patung sang proklamator tersebut. ”Di seluruh IPDN di Indonesia mau kami pasang patungnya Bung Karno sebagai Bapak Pendiri IPDN,” kata Tjahjo.

Setelah prosesi pemberian gelar Doktor Honoris Causa, Megawati memberi kuliah umum di hadapan seluruh mahasiswa IPDN. Menurut Tjahjo, masukan dan arahan dari Megawati sangat diperlukan, khususnya bagi IPDN agar lebih baik lagi ke depannya.

”Me-review kembali bahwa di era reformasi itu kan eranya Ibu Megawati. Munculnya BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) juga ide Ibu Megawati, munculnya amandemen UUD terutama Pak Amin Rais. Makanya banyak hal yang ingin digali intinya ingin membukukan dululah,” kata mantan Sekretaris Jenderal PDIP tersebut.

Rektor IPDN Ermaya Suradinata menjelaskan bukan sebuah kebetulan IPDN memberikan gelar doktor kehormatan kepada Megawati pada peringatan Hari Perempuan Internasional. Megawati dinilai merupakan pemimpin perempuan Indonesia yang tangguh. ”Perempuan yang banyak memberi inspirasi,” kata Ermaya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meresmikan Monumen Soekarno di depan Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Monumen itu untuk mengenang Presiden pertama RI itu sebagai pendiri IPDN. (kos/rie)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.