152

Duo Elektronik Bottlesmoker Diadili di Pengadilan Musik DCDC

Miliki Segudang Pengalaman

MENGUJI KELAYAKAN: Sausana Pengadilan musik DCDC Jaksa penuntut mengajukan beberapa pertanyaan kepada terdakwa.

BANDUNG – Bottlesmoker menjadi terdakwa Pengadilan Musik DCDC edisi ke-27. Duo musisi elektronik asal Kota Bandung yang terdiri dari Ang­gung Suherman (Angkuy) dan Ryan (Nobie) Adzani tersebut, terpaksa diadili karena berbagai prestasi di dalam maupun luar negeri yang telah berhasil diraih.

Prestasi yang belum lama ini berhasil diraih Bottlesmo­ker datang pada penghujung 2018. Bottlesmoker bertandang ke Vietnam untuk tampil pada salah satu festival ber­tajuk Quest Festival. Perjalanan Bottles­moker menuju Vietnam secara penuh dinaungi program DCDC DreamWorld yang konsisten mendukung musisi tanah air untuk melebarkan sayap dan mem­perluas jejaring ke ranah internasional.

Akan tetapi, nilai-nilai dari aktivitas Bottlesmoker tersebut harus dikaji ulang. Bottlesmoker harus bisa mem­buktikan jika perjalanan mereka ke Vietnam memiliki manfaat bagi khay­alak ramai dan bisa dipertanggung­jawabkan. Mereka dituntut membuk­tikan Bottlesmoker memang layak untuk tampil di panggung skala in­ternasional dan juga memberi dampak positif bagi tanah musik di indonesia.

Memasuki pukul 20.00 WIB, sejumlah penonton tampak mulai memenuhi area Pengadilan Musik DCDC di Kantin Nasion Rumah The Panas Dalam di Jalan Ambon, Kota Bandung. Diawali dengan pemba­caan sejumlah prestasi Bottlesmoker, acara dibuka Eddi Brokoli sebagai Panitera.

Seperti biasanya, Pengadilan Musik DCDC dipimpin Man Jasad sebagai Ha­kim Ketua, Budi Dalton dan Pidi Baiq yang menjadi Jaksa Penuntut serta Yoga PHB dan Ruly Pasar Cikapundung se­bagai Pembela. Jaksa Penuntut dalam hal ini Budi Dalton mengawali perta­nyaan dengan mempertanya­kan desain nama Bottlesmoker.

Suasana area Pengadilan Mu­sik DCDC semakin meriah dan pecah serta penuh tawa ketika Jaksa Penuntut Budi Dalton dan Pidi Baiq secara bergantian sa­ling melempar pertanyaan-pertanyaan yang jenaka. Ten­tunya, candaan-candaan tersebut sema­kin menambah hangat malam Minggu di Pengadilan Musik DCDC.

Anggung Suherman atau biasa disapa Angkuy menyebut mnggeluti dunia seni sama artinya dengan masuk dalam satu area kreatif yang luas dan bebas. Sebab, dunia seni menuntut pelakunya berkreasi dan menciptakan sesuatu karya dengan berbagai esensi.

“Seni adalah ruang tanpa batas yang memperbolehkan penggiatnya be­reksplorasi, dan bebas karena sepatut­nya tak ada tuntutan tentang seperti apa seni seharusnya dibuat,” kata Angkuy di Bandung, kemarin.

Dia menjelaskan, seni adalah tentang seniman memaknai karyanya, termasuk merespon berbagai hal yang dinilai tidak mungkin menjadi mungkin. Melalui seni yang dibuat, seniman harus meny­ampaikan karya yang diciptakan bisa dinikmati khalayak ramai.

Angkuy menjelaskan, karya-karya mu­sik yang dimainkan Bottlesmoker bera­sal dan terinspirasi dari berbagai teori yang didapatkan ketika menjadi maha­siswa. Meski tidak memiliki lirik, tetapi muasik yang diciptakan dinilai bisa mewakili perasaan para pendengarnya.

“Tidak ada lirik atau vokal yang kita berikan tapi mampu mewakili perasaan melalui suara. Kami menuliskan dan memikirkan bit termasuk tempo musik yang akan kami ciptakan,” kata dia.

Sementara terkait nama, Angkuy menyebutkan jika nama Bottlesmoker berawal dari kebiasaan saat menjadi anak kosan. Menurutnya, nama ter­sebut berasal dari dua kata, yaitu Bottle dan Smoker yang berarti botol dan asap, di mana mereka kerap me­manfaatkan botol sebagai asbak.

“Waktu di kosan kami kerap kehilangan asbak, dan kami memanfaatkan botol se­bagai tempat membuang rokok,” kata dia.

Perwakilan DCDC Regional Bandung, Dikki Dwi Saputra mengungkapkan, di­pilih Bottlesmoker sebagai terdakwa Pengadilan Musik DCDC lantaran keu­nikan musik yang mereka mainkan. Selain itu, sejumlah prestasi yang diraih di luar dan dalam negeri juga menjadi alasan pihaknya memgadili Bottlesmoker.

“Mereka adalah salah satu band lokal Bandung yang bisa go interna­sional dan alirannya juga cukup unik, mereka memainkan elektro tapi hukan EDM,” kata Dikki.

Dikki megatakan, jenis atau aliran mu­sik yang dimainkan duo elektronik Bott­lesmoker memang terbilang berbeda dan cenderung langka di Indonesia. Dari beberapa band yang pernah tampil di Pengadilan Musik DCDC, mereka dinilai memiliki keunikan tersendiri.

“Dari sisi musikalitas mereka memang sangat berbeda dari sejumlah band lainnya. Jenis musik elektro ritual, saar ini memang jarang di Indonesia,” kata dia. (mg1/yan)

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.