Dulu Budhi Doyan Nyangkruk dan Ngobrol soal Musik Rock

Para Pelaku Pengeboman dan Terduga Teroris di Mata Tetangga, Teman, dan Polisi (1)

98

Dari dulunya ramah dan dermawan, Budhi Satrijo berubah menjadi sangat tertutup sejak tak lagi mengajar. Di kampung asalnya, Dita Oepriarto pernah menjadi ketua RT. Tapi, sudah dua tahun ini dia tak pernah menjenguk sang ibu.

MIFTAKHUL F.S., Sidoarjo-M. SALSABYL ADN, Surabaya


PERUBAHAN tingkah keseharian si tetangga itu mulai dirasakan Sigit Priyadi dalam dua tiga tahun terakhir. Tak ada lagi tegur sapa. Atau guyonan sembari nyangkruk.

’’Orangnya (menjadi) tertutup,’’ kata Sigit.

Sigit paham betul karena dirinya dan Budhi Satrijo, si tetangga itu, sudah sejak 2006 bertetangga. Rumah mereka berdampingan di Perumahan Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur.

Meski sikapnya berubah jauh, tetap saja Sigit dan para tetangga yang lain benar-benar kaget ketika mengetahui Budhi diduga terlibat jaringan terorisme. Pria 48 tahun itu disergap dan ditembak mati oleh Densus 88 pada Senin lalu (14/5).

Penangkapan pada Senin pagi itu hanya berselang sehari setelah serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Pada malamnya (13/5), bom juga meledak di salah satu rumah di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Budhi adalah wakil ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur. Ketuanya adalah Dita Oepriarto yang mengajak istri dan empat anaknya mengebom tiga gereja di Surabaya.

Azizah, tetangga yang lain, mengingat bagaimana dulu Budhi dan sang istri, Wqh, begitu dermawan kepada anak-anak tetangga. ’’Anak saya termasuk yang sering dikasih makanan,’’ kata Azizah yang tinggal hanya beberapa rumah dari rumah pasangan yang belum dikaruniai anak tersebut.

Baca Juga:  Laporkan Ujaran Kebencian, Tim Pemenangan Ihsan Datangi Mapolres Garut

Setiap Lebaran, Budhi dan istri juga tak pernah alpa untuk anjangsana. Bersilaturahmi kepada para tetangga. ’’Mereka yang datang ke rumah-rumah,’’ ungkap Azizah.

Keramahan itu juga ditunjukkan kepada tetangga yang berlainan agama. Kebetulan, tetangga depan rumahnya pemeluk Kristen.

Yono Nur Kholiq, suami Azizah, dulu juga sering nyangkruk bareng Budhi. Banyak hal yang mereka obrolkan. Salah satunya tentang musik.

’’Beliau itu suka musik rock. Dulu katanya juga nge-band,’’ ujar Yono.

Dengan latar belakang seperti itu, meski sikap keseharian Budhi berubah dalam dua tiga tahun terakhir, para tetangga sama sekali tak menyangka Budhi terlibat jaringan kelompok radikal. Apalagi, istrinya adalah pegawai negeri sipil di Kementerian Agama (Kemenag). Persisnya sebagai staf tata usaha (TU) di Kantor Kemenag Kota Surabaya.

Seingat Sigit, ketertutupan Budhi terasa sejak dia tidak lagi mengajar di sebuah sekolah swasta. Budhi kemudian berbisnis.

Lulusan jurusan kimia perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya itu mendirikan usaha jual beli detergen. Labelnya Al Biruuni. Detergen itu diproduksi sendiri.

’’Beliau itu dulu kuliah jurusan kimia. Jadi, ya nggak heran kalau kemudian memproduksi detergen,’’ katanya.

Nah, setelah menjalankan bisnis itulah, Budhi menjadi tertutup. Bahkan sangat tertutup. ’’Yang kami tahu, setelah menjalankan bisnis, beliau berniat menjual rumah dan mobilnya. Tapi tidak laku-laku,’’ papar Sigit.

Aktivitas Budhi yang terlihat warga setiap hari hanyalah mengantar sang istri kerja. Setiap pagi pukul 05.30 pada hari kerja.

Termasuk pada Senin pagi sebelum penggerebekan itu. Selepas pulang mengantar istrinya kerja itulah, baru Budhi digerebek Densus 88.

Baca Juga:  Kemeriahan Pesta Pergantian Tahun di The Luxton Bandung

’’Kaget juga waktu ada beberapa mobil datang, lalu meminta kami masuk ke rumah. Apalagi, setelah itu ada tembakan,’’ ungkap Ari Mengah Mbewa, tetangga Budhi lainnya.

Memang, sebelumnya beberapa tetangga dimintai keterangan oleh polisi tentang Budhi. Tapi secara diam-diam. Sembari sang petugas pura-pura beli sesuatu di toko tetangga Budhi.

Para tetangga baru menyadarinya saat terjadi penggerebekan. Yang diawali dua tembakan. Kemudian disusul satu lagi tembakan.

Puluhan kilometer dari Sukodono, di kawasan Tembok Dukuh Gang V, Surabaya, keterkejutan juga dirasakan keluarga serta tetangga Dita Oepriarto. Sosok yang dikenal ramah itu bisa demikian tega mengajak istri dan empat anaknya menjadi pengebom bunuh diri.

’’Saya langsung loncat pas lihat foto dia sama keluarganya. Saya ke rumah Mbak Sum (Sumiyati, ibu Dita, Red) bilang Dita ngebom gereja saya,’’ ungkap Hanna Ningsih, tetangga masa kecil Dita.

Hanna pun langsung dipeluk keluarga Dita sambil menangis minta maaf. Sejak itu, perempuan 55 tahun tersebut langsung linglung. Benar-benar tak menyangka, pria yang tumbuh dekat rumahnya tersebut bisa berbuat seperti itu.

Dita yang mengendarai mobil sudah teridentifikasi sebagai pelaku pengeboman di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno pada Minggu pagi lalu. Dua anak lelakinya, sembari menaiki motor, mengebom Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya. Adapun sang istri yang mengajak dua anak perempuannya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro. Semua gereja itu di Surabaya.

Hanna masih ingat bagaimana Dita semasa masih mahasiswa suatu malam datang ke rumahnya. Bertanya tentang ilmu usaha percetakan. Dari sanalah, Dita mencetak dasarnya sebagai pengusaha percetakan.

Baca Juga:  Momentum Basmi Terorisme

’’Kalau ketemu saya, dia itu pasti nyapa akrab. Beberapa kali dia ke rumah buat minta bantu jual produknya. Pernah sari dele (kedelai), habatussaudah, sampai saya pernah ikut MLM gara-gara dia,’’ ungkapnya.

Saat berpapasan tahun lalu, mereka juga masih bertegur sapa. Tapi, tahun ini Hanna mengaku belum sempat bertemu.

Seingat dia, sedari kecil Dita tidak pernah menunjukkan sikap ekstrem. Bahkan, dia tak pernah melihat Dita mengumpat.

Lalu, sejak kapan sikap Dita itu berubah? Tak ada yang benar-benar tahu. Pihak keluarga, saat ditemui Jawa Pos pada Senin lalu, mengaku sudah dua tahun Dita tak pernah menjenguk sang ibu di Tembok Dukuh. Padahal, mereka masih tinggal sekota.

Kemarin rumah yang ditinggali ibu dan adik Dita terkunci. Tidak ada aktivitas yang terlihat di rumah yang juga menjadi tempat toko kelontong dan laundry itu.

’’Keluarganya sedang keluar, Mas. Kabarnya sedang mengurus jenazah Dita,’’ ujar Abdul Hamid, ketua RT 8 Tembok Dukuh.

Wakil Ketua RW 1 Kelurahan Tembok Dukuh Karyono menambahkan, ibu Dita shock setelah mendengar kelakuan anaknya. ’’Golek opo sih bocah kuwi?’’ kata Karyono menirukan sang ibu saat mengeluh.

Saat di Tembok Dukuh, tutur Karyono, Dita dikenal baik dalam keseharian. ’’Dulu pernah jadi ketua RT (8 periode, 2005–2010),’’ ungkap Karyono.

Istri Dita juga dikenal aktif memimpin ibu-ibu PKK RT menggagas pengobatan gratis. Meski begitu, Karyono juga mengakui bahwa tak ada satu pun warga yang benar-benar akrab dengan keluarganya. (*/c5/ttg)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here