35

Drainase Buruk Timbul Banjir Cileuncang

banjir cileuncang
AIR MELUAP: Warga yang berada di pinggir sungai menunjukkan luapan air yang meninggi pasca-hujan yang terjadi dini hari kemarin. Menurut BPBD Kota Cimahi Ketinggian air mencapai lebih kurang 30 cm.

CIMAHI – Hujan deras yang mengguyur Kota Cimahi pada Selasa dini hari kemarin (30/10). Kembali berdampak pada meluapnya aliran sungai, akibatnya beberapa titik jalan dan pemukiman warga tergenang cileuncang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Dani Bastiani mengungkapkan, akibat beberapa jam diguyur hujan, sekitar pukul 06.50 air meninggi sekitar 30 cm. Banjir terjadi di daerah Melong dan beberapa titik jalan seperti, Jalan Mahar Martanegara dan Jalan Sasak Golkar.

”Selain Melong, dua titik itu juga merupakan langganan banjir jika musim penghujan tiba,” ungkap Dani, saat dihubungi, kemarin (30/10).

Menurut Dani, buruknya drainase Jalan Mahar Martanegara dan dangkalnya saluran sungai di samping Jalan Sasak Golkar diduga menjadi penyebab utama kerap banjirnya dua titik itu. Terkait penanganan dari BPBD Kota Cimahi, Dani mengatakan, pihaknya dipastikan melakukan assesment, pengecekan ke lokasi.

”Kita lihat terdampaknya seperti apa dengan sumber terdampaknya seperti apa, nanti kita laporan ke Wali Kota,” katanya.

Dani mengaku, pihaknya menyiagakan personel BPBD selama 24 jam dengan 20 personil dibantu oleh Tagana, PMI, Pasukan Kecebong dan instansi terkait lainnya. ”Sekarang ini memang sudah memasuki musim penghujan, sebaiknya masyarakat selalu waspada dan siap siaga,” tandasnya.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, M Nur Kuswandana, menyebut masalah banjir Melong dan Jalan Mahar Martanegara saat musim hujan tak lepas dari masyarakatnya yang tidak peduli terhadap lingkungannya.

Menurutnya, banjir di dua kawasan tersebut akibat dangkalnya saluran sungai karena terdapat tumpukan sampah yang dibuang secara sembarangan oleh masyarakat sekitar.

Dia mengatakan, perilaku masyarakat dalam membuang sampah ke aliran sungai menyumbang penyebab adanya banjir di dua kawasan tersebut. Selain itu, adanya kabel PLN berukuran besar yang diameternya mencapai 10 hingga 15 sentimeter dalam gorong-gorong juga, salah satu penyebab meluapnya air.

”Salah satunya sampah karena di gorong-gorongnya banyak kabel PLN dan kabel telepon sehingga sampah yang dibuang ke saluran air tersangkut dan air meluber ke jalan,” katanya.

Namun, kata Nur, untuk menyelesaikan permasalahan adanya kabel PLN dan kabel telepon di gorong-gorongnya tersebut yang harus melakukan penindakannya yakni Satpol PP atau Dinas PUPR Kota Cimahi.

”Kalau sampah yang tersangkut di kabel itu sudah dibersihkan aliran air bakal normal kembali,” pungkasnya.

Sementara itu di tempat terpisah luapan air cileuncang juga terjadi di Kabupaten Bandung. Karena itu  Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan mengharapkan, pembangunan danau retensi di bekas lahan Kampung Cieunteung, Kel/Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, bisa secepatnya selesai dan segera beroperasi. Hal itu untuk meminimalisir banjir luapan dari sungai Citarum, mengingat saat ini sudah memasuki musim penghujan.

Menurut Gun Gun, tiga Kecamatan di Kabupaten Bandung, yakni Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang dikenal sebagai wilayah yang selalu terdampak banjir akibat meluapnya air dari sungai Citarum. Sehingga, keberadaan danau retensi diharapkan bisa mengurangi dampak tersebut.

”Tentunya, dengan percepatan danau retensi bisa mengurangi dampak dari musim penghujan dan luapan air dari anak-anak sungai yang bermuara di Citarum. Karena, saat musim hujan debit air akan bertambah dan mempengaruhi daerah yang cukup rendah seperti Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang,” ujar Gun Gun saat ditemui di Bojongsoang, kemarin (30/10).

Selain pengerjaan proyek pembangunan danau retensi oleh Balai Besar Wilaya Sungai (BBWS) Citarum, yang terus dikebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung pun terus berupaya memperbaiki sarana-sarana air dan drainase.

“Untuk sungai besar, tentunya kami meminta kerja sama dan perhatian dari Pemerintah Pusat dan Provinsi, untuk memperbaikinya lebih cepat lagi, apalagi sekarang sudah mulai musim penghujan,” katanya.

Disinggung terkait pembangunan embung yang tengah direncanakan Pemkab Bandung di sejumlah Kecamatan, kata Gun Gun, hal tersebut sudah dipetakan dan sedang dirancang agar bisa segera direalisasikan.

“Kami sudah mengusulkan embung-embung untuk tangkapan air. Bisa berfungsi untuk menampung air dan jadi cadangan air untuk pertanian saat musim kemaray. Itu di Bojongsoang, Majalaya dan Soreang sudah dipetakan. Tapi kerja sama dan perhatian dari pusat juga kami tunggu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, luas embung-embung yang akan dibangun di tiga kecamatan itu lebih kecil dari danau retensi di Cieunteung. “Tapi bisa memecah debit air yang masuk ke Citarum, jadi ditampung dulu, tidak langsung masuk ke sungai,” ujarnya.

Pembangunan danau retensi di Cieunteung, ditargetkan selesai pada Desember 2018 mendatang. Namun, Pemkab Bandung berharap pembangunannya selesai sebelum Desember.

“Pembangunan danau retensi bisa selesai pada desember mendatang, untuk mengantisipasi banjir yang terjadi di wilayah baleendah, dayeuhkolot,” pungkasnya (ziz/rus/ign)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.