79

DPRD Sebut ”Jabar Caang” Belum Optimal

Pemprov Buktikan dengan Rekor MURI

PENERANGAN DAERAH: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat mendatangi rumah warga di kawasan Jawa Barat selatan saat memantau listrik desa dalam program Jabar Caang, baru-baru ini.

Bandung – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat menilai program ‘Jabar Caang’ yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) sebagai upaya percepatan pelaksanaan pemerataan pengaliran listrik di pedesaan belum optimal. Alasannya, keterbatasan akses dan belum tersinkronisasinya data dari daerah serta masyarakat yang belum teraliri listrik.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Herlas Juniar mengungkapkan, meskipun instansi terkait dalam hal tersebut Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim elektricity sudah mencapai 98 persen terpenuhi. Namun, fakta di lapangan berdasarkan pantauan pihaknya menunjukkan masih banyak daerah yang belum mendapatkan akses listrik.

Menurutnya, daerah-daerah di Jawa Barat yang belum mendapatkan akses listrik paling banyak berada di wilayah yang bisa dibilang terpencil. Beberapa daerah tersebut terdapat di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Di antaranya ialah daerah Cianjur Selatan, Sukabumi Selatan, Garut Selatan serta Tasikmalaya bagian Selatan.

”Biasanya akses yaitu akses jalan yang jauh, kedua narik listrik dari sumber pembangkit listriknya karena rata-rata PLN juga tidak ada di situ,” kata Herlas kepada Jabar Ekspres, kemarin (9/3).

Herlas memaparkan, selain permasalahan infrastruktur yang menjadi penghambat program tersebut belum mampu berjalan optimal, akses informasi soal data wilayah serta masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik juga dinilai sebagai kendala bagi program ‘Jabar Caang’. Untuk itu, permasalahan terkait sinkronisasi data wilayah serta penerima aliran listrik sempat mendapat kritisi dari Komisi IV DPRD Jabar.

”Jadi data yang kita punya dengan data yang dari masyarakat dan di verifikasi dengan PLN ini belum ada kecocokan data yang pas,” kata dia lagi.

Herlas menuturkan, untuk menanggulangi keterbatasan energi, masyarakat menggunakan pembangkit listrik tenaga mikrohidro ataupun membangun kincir. Namun, dirinya menilai energi listrik yang bersumber dari kincir dengan memanfaatkan arus air tidak bisa menjadi prioritas. Sebab, energi yang bersumber dari kincir ditentukan kondisi air yang digunakan.

”Kalau arusnya besar ya kebawa banjir tapi kalau gak ada arus malah mati dan gak bisa menghidupi turbin kalau airnya gak ada,” ujarnya.

Maka dari itu, dirinya mengaku akan segera menggelar rapat bersama beberapa pihak terkait untuk mencari solusi agar permasalahan tersebut bisa diselesaikan. Pihaknya juga akan melakukan kerjasama dengan Babinsa dan Babinkamtibmas untuk membantu melakukan pendataan ulang serta mendorong agar data yang dikeluarkan sesuai dengan di lapangan.

Selain itu, pihaknya juga akan berupaya mencari terobosan energi baru manakala di daerah tersebut tidak terdapat sumber pembangkit listrik. Sebab, jika hanya memasang gardu tapi pasokan listrik tidak tersalurkan, maka dirasa akan percuma. Untuk itu, dirinya menilai perlu adanya upaya untuk mendorong pembangkit listrik tenaga alternatif.

”Misalkan lewat mikrohidro ataupun yang lainnya. Ini menjadi alternatif yang sangat rasional kita dorong atau juga untuk membuka selain daerah-daerah yang terutama memang akses listriknya tidak ada,” tandasnya.

Sebaliknya, kendati dikritik Pemprov menunjukkan fakta berbeda. Pemprov Jabar berbangga hati lantaran program Jabar Caang mendapatkan penghargaan dari MURI.

Jabar Caang merupakan wujud komitmen Pemprov Jabar dalam memberikan akses listrik kepada masyarakat miskin dan meningkatkan angka rasio elektrifikasi Jabar menuju 100 persen pada 2019.

Sejak Tahun Anggaran 2008 hingga Tahun Anggaran 2017, Pemprov Jabar telah melaksanakan penyambungan listrik terhadap masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak 234.109 rumah tangga yang tersebar di 18 kabupaten dan 9 kota di Jabar dengan total anggaran yang sudah diserap lebih dari Rp 320,4 miliar.

Alhamdulillah untuk kategori provinsi besar dalam waktu sepuluh tahun bisa menyelesaikan sampai angka 99,87 persen sudah cukup baik. Sebab, dulu waktu 2008 elektrifikasi desa saja masih belum selesai, tapi 2010 kita selesaikan elektrifikasi desa,” tutur Gubernur JabarAhmad Heryawan, Kamis (8/3) lalu.

”Tapi rumah tangganya belum, jadi baru di desa itu listrik sudah masuk, asalnya ada desa yang belum teraliri listrik sama sekali,” sambungnya.

Atas capaian tersebut Pemprov Jawa Barat mencatat rekor Muri sebagai provinsi yang melakukan Pemasangan Sambungan Listrik Rumah Tangga Terbanyak pada Satu Provinsi dalam Kurun Waktu 10 Tahun.

”Listriknya sudah masuk kita sebut desa itu Desa Caang. Sekarang Jabar Caang, kalau Jabar Caang rumah tangga ukurannya,” urainya.

Pria yang disapa Aher ini menerima langsung Piagam Penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia dengan Nomor: 8353/R.MURI/III/2018 dari Senior Manager Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), Ngadri, pada peresmian ”Jabar Caang 2018” menuju rasio elektrifikasi listrik Jawa Barat 100 persen di Lapangan Sepak Bola Desa Sukalillah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Rabu (7/3).

Pemprov Jabar juga mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada PT PLN (Persero) Distribusi Jabar atas komitmen dan kerja sama yang telah terjalin selama 17 tahun dalam rangka peningkatan rasio elektrifikasi di Jabar. (mg1/rls/rie)

BAGIKAN
Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.