Doni: Pastikan Program Citarum Tetap Jalan

61

BANDUNG – Kendati tidak menjabat menjadi sebagai Panglima Kodam Siliwangi III karena diangkat jadi Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Mayor Jenderal Doni Mordano memastikan seluruh program Citarum akan tetap jalan sesuai target.

”Program revitalisasi Sungai Citarum akan terus berjalan, baik itu Panglima Kodam Siliwangi III atau gubernurnya yang ganti. Dan saya, akan pastikan program ini akan terus berjalan,” tutur Panglima Kodam Siliwangi III, Mayor Jenderal Doni Mordano, Bandung, belum lama ini.

Menurutnya, memastikan program revitalisasi Sungai Citarum itu sangat penting mengingat sungai tersebut sangat strategis melebihi sungai yang ada. Sehingga, dalam hal ini program revitalisasi akan terus menjadi program prioritas siapapun itu gubernur dan pangdam-nya nanti.

“Maka dari itu, Sungai Citarum akan terus Kita benahi, dan dengan dukungan masyarakat terutamanya program revitalisasi ini tentu akan efektif (berhasil),” jelasnya.

Menurut Mayor Jenderal Doni Mordano, karena nilainya yang strategis Sungai Citarum memiliki banyak fungsi salah satunya menghidupi warga Jabar termasuk DKI Jakarta. Di sisi lain, air Sungai Citarum yang ditampung di Saguling, Cirata dan Jatiluhur meski mengandung banyak bakteri dan logam berat, airnya tetap bisa menghasilkan kurang lebih 1.888 megawatt.

”Kalau kita asumsikan setiap megawatt itu 2.200 liter minyak disel atau solar, 1 mega watt setara dengan 1 liter, kalau dikalikan dengan 1.888. Maka, nilai setahun sudah lebih dari Rp200 trilun,” katanya.

Jika dihitung kembali untuk pasokan air minum, kurang lebih 10.000 liter dikali 35 juta jiwa sudah berapa trilun yang bisa dihasilkan dari Sungai Citarum, dan itu baru air dan listrik belum hal lainnya yang dialiari oleh Sungai Citarum.

”Ditambah dengan pertanian, dari Karawang dan Indramyu termasuk wilayah tengah hulu, 420 hektar padi tergantung dari Sungai Citarum, jadi sudah dipastikan Sungai Citarum ini sangat strategis bagi Jabar dan Indonesia,” terangnya.

Apabila bercermin pada 1970-an terang dia, kondisi Sungai Citarum dari hulu sampai hilir merupakan berhak banyak masyarakat Jabar khususnya karena masih bersih. Saat ini ironisnya lebih banyak sampah rumah tangga, limbah pabrik, limbah pertanian dan lain sebagainya. Setiap harinya industri mengeluarkan kurang lebih 5 juta limbah yang tidak diproses sebelumnya. Hal ini dilakukan karena industri tidak mau merugi karena harus mengeluarkan biaya untuk mengolah limbah hingga bisa layak buang atau tidak berbahaya kembali.

”Tetapi hal tersebut tidak sebanding dengan kehancuran ekosistem atas perilaku industri tersebut, dan masyarakat lagi yang akan terkena dampaknya,” ujarnya.

Untuk itu selain penegakkan tegas, harapan kesadaran pihak industri dan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai sangat diharapkan. Disisi lain, peran media yang harus mengawal program revitalisasi Sungai Citarum harus dilakukan terutamanya di proses pengadilan sampai ke Mahkamah Agung agar bisa dikawal dan dipastikan tidak akan ada lagi industri-industri pelanggar yang menang di meja hijau. (mg2/ign)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.