Debu Batu Bara Tidak Menyebabkan TBC

36
SUDAH KESAL: Puluhan warga memprotes keberadaan pabrik di kawasan industri Leuwigajah yang kerap membuang limbah dan menimbulkan polusi dari hasil pembakaran menggunakan Batubara.

CIMAHI – Seperti enggan disalahkan, Dinas Kesehatan Kota Cimahi malah balik menuding jika penyebab kasus Tuberculosis yang menimpa seorang bocah berusia 6 tahun di RW 09, warga Kampung Cibodas Campaka, Kelurahan Utama, bukan karena limbah batu bara.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Fitriani Manan mengatakan,Kawasan RW 09 Kampung Cibodas Campaka, memang menjadi salah satu kawasan padat penduduk, yang juga berdampingan dengan puluhan bahkan ratusan pabrik.

Namun, pencemaran limbah batu bara yang belakangan ini kembali mengemuka, bukan penyebab utama kasus Tuberculosis menyerang warga.

Menurutnya, Debu-debu dari batu bara jika bersentuhan dengan kulit hanya menyebabkan gatal-gatal, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), ataupun mata perih.

“Kalau secara khusus menjadi penyebab Tubrculosis, itu sepertinya tidak mungkin. Kalau kemudian memperberat gejala ISPA dan tuberculosis, itu masih masuk akal,’’jelas Fitriani ketika di hubungi kemarin (9/4)

Dirinya memastikan, untuk temuan kasus anak usia 6 tahun yang terkena tuberculosis sampai sekarang belum ada laporan. Sebab, petugas puskesmas pun rutin melakukan pengecekan.

Terkait kasus Tuberculosis yang menyerang bocah berusia 6 tahun di kampung tersebut, Fitriani menduga kuat jika ada orang dewasa yang sudah mengidap tuberculosis dan akhirnya menularkan pada orang lain du kampung tersebut, termasuk anak-anak.

“Otomatis ada orang dewasa yang jadi penyebabnya, bisa dia sadar atau tidak. Dan artinya, keluarga anak yang terserang tuberculosis itu, harus juga dilakukan pemeriksaan dahak dan yang lainnya. Wajib juga mereka pakai masker untuk kegiatan sehari-hari,” tuturnya.

Masih mengenai kasus tuberculosis yang menyerang anak usia 6 tahun itu, Fitriani menegaskan jika saat ini perlu dicari tahu siapa sumber penularan awalnya, sebab berpotensi menularkan penyakit tersebut ke 10 sampai 15 orang lainnya.

“Kalau misalnya belum diobati, ya akan kita obati langsung. Sudah tahu tinggal di lingkungan tidak sahat dan berpolusi, seharusnya lebih peduli pada kondisi sendiri dan orang lain,” terangnya.

Masih kata Fitri, pihaknya menemukan 544 kasus positif tuberculosis yang menyerang warga Cimahi, namun diklaim semuanya telah mendapatkan pengobatan.

“Untuk pengobatannya itu gratis, tapi harus intensif, minimal terapinya itu 6 bulan. Jadi nanti ada berbagai tahapan pengobatan, termasuk tes dahak setiap bulannya. Untuk yang tidak mampu, jangan takut untuk berobat kalau memang positif tuberculosis,” jelasnya.

Tak hanya tuberkulosis, di RW 09 Kampung Cibodas Campaka sendiri banyak jenus penyakit lain yang diderita oleh warganya, seperti kudis dan infeksi kulit. Namun lagi-lagi, Fitriani menegaskan jika sanitas dan pola hidup yang tidak sehat, menjadi penyebabnya.

“Kalau untuk kudis, sebelumnya sudah pernah ada pemeriksaan ke pengidapnya, ternyata itu skabies, atau gatal-gatal karena kutu. Bisa jadi dari pakaian atau handuk yang dipakai bersama-sama, jadi terserang gatal-gatal dan skabies. Intinya sih lola hidup sehatnya tidak berjalan,” pungkasnya. (ziz/yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here