Debat Publik Pertama: Lebih Cair di Sesi Tiga

Rindu Paling Siap Menjawab, Hasanah Sangat Menghibur

127
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
DEBAT PERTAMA: Empat pasangan calon Pilgub Jabar 2018 mengikuti Debat Publik Pertama di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari, Kota Bandung, kemarin (12/3)

BANDUNG – Debat kandidat pertama Pilgub Jabar 2018 di Sabuga, Kota Bandung berjalan kondusif. Sebab, jalannya debat dibuat santai pada sesi ketiga.

Pada sesi tiga debat tersebut, para pasangan calon diminta oleh moderator untuk menampilkan kreativitasnya masing-masing. Mereka boleh tampil berdua (paslon), ataupun bersama pendukungnya untuk menampilkan kreasi masing-masing.

Paslon nomor satu, menampilkan vokal grup bersama dengan pendukungnya menyanyikan lagu pemenangan Rindu (Ridwan Kamil–Uu Ruzhanul Ulum. Kemudian, Paslon nomor dua, Tubagus Hasanuddin–Anton Charliyan (Hasanah) menampilkan pencak silat.

Nah, ketika paslon Sudrajat–Ahmad Syaikhu, menyayikan lagu kemenangan paslon nomor 3 ditemani oleh para penari, para paslon lain rupanya ikut menari. ”Visi dan misi boleh berbeda tapi urusan kesenian, semua berbaur. Dengan adanya ini diharapkan tidak ada ketegangan menjelang pilkada nantinya,” ujar kata moderator Rosi Silallahi, kemarin.

Sementara itu, paslon empat Deddy Mizwar–Dedi Mulyadi, menampilkan artis Charlie Van Hauten untuk menyayikan lagu pemenangan paslon nomor 4. Setiap paslon memiliki waktu sekitar 2 menit untuk menampilkan hasil kreativitasnya.

Pada sesi sebelumnya, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) beradu program dengan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) soal program ekonomi kreatif jika memimpin Jawa Barat nanti. Pertanyaan dilontarkan oleh Uu yang sebelumnya lebih banyak diam. ”Jikalau menang, sekarang musim digital termasuk ekonomi kreatif. apa konsep yang diberikan?” tanya Uu.

Anton Charliyan menjawab molotot.com sebagai bentuk salah satu ekonomi kreatif dan pemanfaatan teknologi informasi. ”Lalu ada isu disruption. Bagaimana bisnis terganggu bisnis digital,” kata calon Wakil Gubernur bernomor urut dua tersebut.

Hasanah juga menyiapkan program Ekonomi, Dunia, dan Network. yang disingkat Edun. Dengan program pemanfaatan teknologi untuk ekonomi, kata Anton, akan membuat masyarakat melek internet.

Lihat Juga:  IMB Belum Keluar, Tanah Dikeruk

Uu membalas, perlu ada program untuk membuat masyarakat melek internet dan teknologi. Rindu memiliki program agar internet masuk ke desa. Masyarakat desa pun diharapkan semakin melek ekonomi kreatif dan internet dengan program ini.

”Jika tidak, desa akan selalu tertinggal,” kata bupati nonaktif Tasikmalaya ini.

Menyikapi hal itu, Tb Hasanuddin mengkritik kelemahan program Rindu. Sebab, pria yang akrab disapa Kang Hasan itu, internet masuk desa tidak akan berhasil karena menjadi satu lubang permasalahan. ”Saya di Komisi I DPR RI. Internet masuk desa itu selalu gagal karena koneksi tidak merata,” paparnya.

Karena itu, dia merasa perlu ada program pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang merata agar ekonomi kreatif Jawa Barat bisa melesat.

Di bagian lain, calon Wakil Gubernur Jabar dari koalisi Gerindra, PKS dan PAN Ahmad Syaikhu menyindir latar belakang calon Wakil Gubernur Dedi Mulyadi semasa menjalankan jabatan Bupati Purwakarta yang menerapkan kebiasaan memasang kain sarung di pohon-pohon.

”Di Purwakarta, banyak pohon-pohon ditutup dengan kain, kenapa seperti itu?,” tanya Ahmad Syaikhu kepada Dedi Mulyadi.

Seperti diketahui, kebijakan Dedi Mulyadi di Purwakarta sebelumnya memunculkan kontroversi. Selain penggunaan kain sarung di pohon-pohon, kontroversi pernah muncul ketika Dedi mendirikan pendirian patung tokoh pewayangan di Purwakarta.

Menyikapi hal tersebut, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa penggunaan sarung bagi pohon adalah bentuk memuliakan alam dengan menghormati dan menjaga keberadaan pohon-pohon di Purwakarta.

”Pohon dikasih kain, maka tidak akan ada yang paku. Tidak akan ada iklan yang masang di situ, lebih mulia dikasih kain dibanding pohon dipakuin dipasang iklan sedot tinja,” urainya.

Bahkan, menurut Dedi, hal tersebut sebagai bentuk aplikasi pemahaman ilmu alam yang mengharuskan saling menjaga antar sesama mahluk hidup. Dedi menegaskan, kebiasaan tersebut lebih baik daripada memberlakukan penebangan terhadap pohon.

Lihat Juga:  Permohonan Perumahan Meningkat di 2016

”Ilmu lingkungan mengajarkan memuliakan, pohon memberikan energi bagi lingkungan, memberikan air. Dibandingkan orang yang nebang pohon dimana-mana. Pohon dikasih kain lebih utama dibandingkan ditebang demi kepentingan ekonomi,” tuturnya.

Menanggapi jawaban tersebut, Ahmad Syaikhu yang juga politikus PKS ini menyayangkan kebiasaan penggunaan kain sarung terhadap pohon sebagai bentuk memuliakan. ”Saya agak ironis, pohon-pohon dikasih kain sementara anak-anak kekurangan kain sampai bahkan. Kalau kita ingin memulikan pohon, bagaimana mungkin manusia tidak dimuliakan,” tegasnya.

”Memuliakan manusia lebih terhormat dibandingkan memuliakan pohon. Rasanya kebijakan-kebijakan seperti itu kurang tepat, apalagi kalau nanti diberlakukan se Jawa Barat berapa banyak pohon yang harus diberi kain,” tambahnya.

Tidak kalah tegang, Cawagub Jabar Anton Charliyan menyerang Cagub Jabar nomor urut 4 Deddy Mizwar soal izin pembangunan Meikarta. Keduanya mempertanyakan Pemprov Jabar yang akhirnya mengizinkan pembangunan Meikarta.

”Mohon dijelaskan masalah Meikarta, dulu (Pemprov Jabar) menolak, tapi akhirnya mengizinkan juga,” tanya Cawagub Anton kepada Deddy Mizwar.

Menanggapi pertanyaan Anton, Deddy menegaskan hanya mengizinkan 84,6 hektar lahan dari 500 hektar yang diminta oleh Meikarta. Lahan itu juga, kata dia, memang sudah mendapatkan izin dari pemerintahan sebelumnya.

”Jadi yang kami izinkan hanya 84,4 hektar dari permintaan 500 hektar oleh Meikarta. Itu juga lahan yang sudah diizinkan oleh pemerintah sebelumnya tahun 1994, kita melayani hak mereka,” papar Demiz.

Menurutnya permintaan 500 hektar dari Meikarta tidak sesuai dengan tata ruang di Jabar khusus di Bekasi. Sehingga, sambung dia, tidak mungkin Pemprov Jabar mengizinkan pemanfaatan lahan tersebut. ”Ini masalah tata ruang, kecuali ada perpres. Kalau ada orang bilang bermain ini ada fitnah mengurangi dosa saya,” tegasnya.

Lihat Juga:  18 Hacker Diciduk Polisi, Pelaku Incar Pengguna Kartu Kredit

Di sesi terakhir, Calon Gubernur Jabar Ridwan Kamil memiliki sejumlah iming-iming agar warga Jabar memilihnya pada hari pencoblosan 27 Juni mendatang.

”Mengapa memilih Rindu (Ridwan-Uu)? Karena ini pasangan yang paling pas untuk lima tahun ke depan,” ucap Emil.

Menurut Emil saat ini zaman dan logika sudah mengalami perubahan. Sehingga diperlukan pemimpin yang siap menghadapi perubahan dalam membawa warga Jabar ke arah lebih baik.

Terlebih, kata Emil, dia sudah berpengalaman memimpin Kota Bandung sementara wakilnya Uu Ruzhanul Ulum berpengalaman dalam memimpin kabupaten dan desa di Kabupaten Tasikmalaya. ”Kita pasangan paling muda, berlari paling cepat, melompat paling tinggi,” ujarnya.

Seperti saat pembukaan, Emil kembali menutup debat dengan pantun. Kali ini pantun Emil bertema tim kebanggaan Bandung dan Jabar yakni Persib Bandung. ”Persib main di hari Rabu. Yang paling sip, pasangan Rindu,” tandas Emil.

Sementara itu, Ketua KPU Jabar Yayat Hidayat mengaku senang karena debat kandidat pertama berjalan cukup lancar. Dia juga meyakinkan jika materi pertanyaan pada para kandidat, dalam debat kandidat di Pilgub Jabar cukup berbobot karena melibatkan tim perumus.

Dalam sambutannya, Yayat memaparkan, tim perumus materi terdiri atas para guru besar dan dosen senior dari berbagai disiplin ilmu dan keahlian dari IPB, Unpar, Unisba, UI, UPI, Unpad, dan UIN SGD.

”Materi pertanyaan terkait hukum, politik, ekonomi dan pemerintahan daerah. Itu dirumuskan oleh 18 orang dari kalangan profesor, doktor, guru besar dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Jabar,” tutur Yayat. (mg1/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.