Candaan Jadi Strategi, Rindu-DM4Jabar Lebih Realistis

134
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
DEBAT KANDIDAT: Empat pasangan calon Pilgub Jabar 2018 mengikuti Debat Publik Pertama di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari, Kota Bandung, kemarin (12/3).

Bandung – Debat publik pertama pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilgub Jabar di Gedung Sabuga, Kota Bandung, Senin (12/3) malam, masih membekas. Sebab, penonton menjadi sangat terhibur dengan candaan-candaan berisi dari Anton Charliyan.

Pengamat Komunikasi Politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Komunikasi Politik Adiyana Slamet mengatakan, pada konteks komunikasi politik dalam ruang political simbol, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk merebut hati publik. ”Syaratnya program itu bisa dipahami oleh masyarakat,” kata Adiyana, kemarin (13/3).

Adiyana menjelaskan, dalam pemaparan visi misi di sesi pertama, paslon nomor urut dua menyebutkan program prioritas yang mudah dipahami oleh semua kalangan. ”Paslon ini memunculkan program yang mudah dimengerti oleh emua kalangan, seperti molotot.com, Jabar Edun bahkan Imah Rempeug,” ujarnya.

Dalam persepktif komunikasi politik, kata dia, itu semua adalah simbol politik untuk mengikat pemilih yang dominannya berasal dari etnis Sunda. ”Menghargai bahasa Sunda yang dikonversi sebagai prospective policy choice,” ujarnya.

Selain itu, dalam debat kandidat pertama, figur Anton Charliyan mampu mencairkan suasana. Menyampaikan candaan-candaan yang sesungguhnya adalah bagian dari strategi komunikasi politik untuk mendekontruksi debat kandidat sesuatu yang serius. ”Debat kandidat terlihat cair, mendapatkan respon yang positif,” ujarnya.

Debat kandidat di luar negeri, kata dia, itu dikemas dalam konsep santai, namun tidak menghilangkan esensi program prioritas yang akan dijalankan ketika memenangkan Pilgub Jabar 2018.

”Masyarakat juga harus bisa menangkap informasi dari program yang sudah ditawarkan masing-masing kandidat,” ujarnya.

Meski demikian, menurutnya, dalam debat calon kandidat kemarin, hampir semua kandidat menguasai panggung dalam rangka merebut hati publik masyarakat Jawa Barat.

Lembaga Survei Indo Barometer juga ikut berkomentar prihal hasil debat kandidat pertama di Sabuga, Senin (12/3) malam. Bagi Indo Barometer, pasangan calon Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang lebih realistis dalam penyampaian visi misi. Termasuk menjawab permasalahan yang tengah dihadapi Jabar.

Lihat Juga:  Pamriadi Ajak Ribuan Warga Ikuti Jalan Sehat “Anti Radikalisme”

”Hanya beberapa pasangan calon yang memiliki solusi atas permasalahan di Jabar,” tutur Peneliti Senior dari Lembaga Survei Indo Barometer, Asep Saepudin kepada Jabar Ekspres.

Dia berpandangan, paslon Rindu mengusai pemaparan visi dan misi maupun menjawab pertanyaan. Penguasaan yang sama juga ditunjukkan pasangan calon nomor urut 4 yaitu Deddy Mizwar dengan Dedi Mulyadi.

Sedangkan pasangan calon lainnya terang dia, yaitu, pasangan calon nomor urut 2 yaitu TB Hasanuddin dengan Anton Charliyan dan nomor urut 3 yaitu, Sudrajat dengan Ahmad Syaikhu bagi dia, paling tidak menguasai materi, tanggapan dan pertanyaan dari moderator.

”Paslon satu dan empat memiliki kebijakan ekonomi mumpuni dan paling realistis untuk diterapkan. Sedangkan pasangan calon nomor urut 2 dan 3 paling rendah atau tidak memiliki kebijakan ekonomi yang baik (tak realistis),” ungkap dia.

Untuk persoalan gambaran persoalan infrastruktur, tambah Asep, pasangan calon nomor urut satu dan empat lagi-lagi dinilai paling unggul. Seperti mengulang kekurangan di materi kebijakan ekonomi, pasangan calon nomor dua dan tiga juga dipandang paling tak terkonsep atas kebijakan atau gambaran mengenai infrastruktur.

”Meski begitu, untuk kebijakan karakter manusia paling unggul adalah kebijakannya pasangan calon nomor urut 4 atau Deddy-Dedi. Disusul oleh pasangan calon nomor urut satu atau Rindu,” katanya.

Paslon dua dan tiga lagi-lagi terlihat tidak siap ketika ditanya soal program atau kebijakan karakter manusia unggul. Tapi, tidak berarti benar-benar jeblok. Pasangan nomor urut dua dan tiga paling unggul dalam bidang keamanan.

”Ini mengacu rekam jejak Sudrajat maupun TB Hasanuddin dan Anton Charliyan yang sangat paham mengenai isu keamanan maupun pertahanan wilayah,” tandasnya.

Sementara itu, Analis Politik Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), Wawan Gunawan menilai, penyelenggaraan debat kandidat pertama paslon pilgub 2018 terasa kurang greget. Sebab, semua pasangan calon terkesan mengedepankan sisi hiburan dibanding substansi dari materi debat yang disampaikan.

Lihat Juga:  Heboh! Katy Perry Nyanyi Lagu Sambalado Milik Ayu Ting Ting

”Mungkin baru debat pertama. Dialektika argumen masing-masing kandidat masih ngambang. Kita tunggu debat kedua dan ketiganya saja,” kata Wawan kepada Jabar Ekspres.

Senada dengan Asep  Saepudin, hanya dua pasangan yang terlihat paling dominan selama debat: yaitu Rindu dan DM4Jabar). Kedua pasangan tersebut dinilai berada di atas angin, apalagi jika melihat rekam jejak para kandidat yang pernah menjadi kepala daerah.

”Pasangan Rindu dan DM4Jabar melalui argumennya saat debat sangat mewakili kepentingan publik. Artinya, nyambung antara yang dibutuhkan publik dengan apa yang disampaikan melalui program yang ditawarkan,” urainya.

Dalam memaparkan program-program dan beradu gagasan dengan pasangan lainnya, lanjut Wawan, pasangan Rindu dan DM4Jabar juga terlihat lebih santai dalam menyampaikan setiap argumennya. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan kedua pasangan memiliki rentan usian yang terbilang lebih muda jika dibandingkan pasangan lainnya.

”Maka penampilannya juga apa yang disampaikannya lebih terlihat tidak ada beban ketimbang dua paslon lainnya,” ujarnya.

Dalam debat semalam, perilaku koruptif pada sebuah pemerintahan menjadi permasalahan yang harus segera dituntaskan hingga ke akarnya agar birokrasi berjalan bersih. Untuk itu, solusi untuk permasalahan tersebut menjadi pertanyaan yang ditujukan kepada semua pasangan calon.

Cagub nomor urut satu, Ridwan Kamil mengatakan, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mencegah korupsi, yaitu kepemimpinan dan teknologi. Menurutnya di Kota Bandung, selama menjabat 5 tahun terakhir sebagai wali kota, pihaknya memiliki kebijakan tertentu untuk memutuskan sebuah perizinan, bantuan pemerintah atau sebagainya.

Dia memaparkan, pihaknya membentuk sebuah tim insyinyur untuk mempertimbangkan dan menilai apakah suatu organisasi atau individu layak mendapat persetujuan dari apa yang diajukannya. Sehingga, setiap perizinan tidak langsung kepada walikota karena, melainkan harus melalui beberapa tahapan.

Lihat Juga:  BIJB Jadi Peluang Usaha

”Tidak ada diskresi, supaya kalau ada orang minta kemudahan tidak langsung ke wali kota dan lain-lain. Itulah cara kita secara kepemimpinan,” kata Ridwan.

Selain itu, Emil -sapaan Ridwan Kamil- menuturkan, pihaknya juga memiliki solusi dalam hal teknologi, yaitu dengan menerapkan aplikasi anti korupsi yang bisa dipakai setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Bandung. Jika terpilih menjadi gubernur, maka dirinya akan menerapkan hal serupa untuk 27 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat.

”Kita ada ratusan aplikasi anti korupsi dan dua bulan lalu KPK memerintahkan 30 daerah seluruh Indonesia untuk datang ke Bandung, meng-copy apa yang kita lakukan. Insya Allah jika terpilih,  kita wajibkan menggunakan sistem aplikasi anti korupsi yang sudah di-approve (disetujui) oleh KPK,” tandasnya.

Sementara itu, Cagub Jawa Barat, Deddy Mizwar menilai praktik korupsi kepala daerah tidak akan terjadi apabila tata kelola pemerintahan dilakukan dengan baik dan memenuhi unsur transparansi dan akuntabel. Dirinya berkomitmen untuk mewujudkan konsep reformasi birokrasi dengan pendekatan informasi sebagai misi pertama dari 5 misi yang disampaikan.

”Pendekatannya bisa dengan teknologi informasi. Ini bukan hanya urusan kepala daerah tapi semua pihak. Sistem yang ada hanya sebagai penguat,” urai Deddy.

Lebih lanjut, Deddy menjelaskan, lima misi tersebut adalah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih melalui pelaksanaan reformasi birokrasi. Selain itu, pihaknya juga bertekad mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif, unggul dan berkarakter, mewujudkan tata kelola tata ruang serta infrastruktur dan sumber daya alam yang berkeadilan.

”Terus misi itu adalah mengembangkan potensi dan daya saing daerah ekonomi berkeadilan dan berkelanjutan. Terakhir menata kearifan lokal berbudaya, demokratis dan mandiri,” tandasnya.  (mg2/mg1/him/rie)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.