Bobotoh Kecam Keputusan PSSI

Turun ke Jalan untuk Menyuarakan Keadilan

21
bobotoh kecam PSSI
MINTA KEADILAN: Ribuan Bobotoh menggelar aksi unjukrasa di depan Gedung Sate Bandung pada Sabtu (13/10). Mereka mengecam sanksi yang diberikan oleh Komdis PSSI terhadap Persib, salah satunya soal larangan menonton hingga pertengahan musim 2019.

BANDUNG– Ribuan Bobotoh pendukung setia Persib Bandung, menggelar aksi unjuk rasa dengan turun ke jalan pada Sabtu (13/10) di depan Gedung Sate, Kota Bandung. Hal itu dilakukan atas sanksi yang dijatuhi Komdis PSSI salah satunya soal pertandingan tanpa penonton hingga pertengahan musim 2019.

Sanksi tersebut bermula usai peristiwa tewasnya suporter Persija, Haringga Sirla yang tewas dikeroyok sejumlah oknum Bobotoh menjelang laga Persib VS Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) 23 Oktober 2018 lalu.

Dalam aksinya, secara bergiliran perwakilan Bobotoh berorasi di atas bus, dengan latar belakang Gedung Sate. Sementara Bobotoh lainnya membentangkan sejumlah poster serta spanduk, berisi kecaman terhadap PSSI yang dinilai bersikap tidak adil, terhadap Persib Bandung dan Bobotoh pendukungnya.

Ketua Viking Persib Club, Heru Joko mengungkapkan, pihaknya akan mendesak PSSI untuk tidak mengambil keputusan yang kontroversi dan cenderung merugikan tim. Sebaliknya, lanjut dia, PSSI seharusnya lebih mengutamakan keputusan yang dapat mendidik dengan melakukan pembinaan yang komprehensif, terhadap tim dan suporter. “Sehingga dengan hal ini bobotoh memprotes dan mengecam sanksi komdis PSSI yang sangat tebang pilih,” sesal Heru disela-sela aksinya.

Menurutnya, Komdis PSSI telah bertindak arogan atas sanksi yang telah dijatuhkan kepada Persib. “Mereka memandang kita sebelah mata, saya rasa mereka mempunyai asas keadilan karena kita sama, semua harus diperlakukan adil,” katanya.

Selain mengutuk keras kebijakan PSSI, pihaknya juga menuntut revisi total hukuman bagi Persib dan mendesak PSSI tidak memutuskan sanksi secara instan. “Kami juga mengajak semua elemen sepak bola untuk melawan hal-hal yang bisa merusak persepakbolaan Indonesia. Selain itu kami mengajak semua elemen Bobotoh untuk menegakkan keadilan dan mengawal Persib hingga jadi juara,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Sepak Bola Kota (Askot) Cimahi, Yus Rusnaya menganggap wajar tindakan Bobotoh Persib memasang spanduk dan pamflet yang bertuliskan protes terhadap Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di berbagai sudut kota dan di beberapa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Kota Cimahi.

Yus mengatakan, pemasangan berbagai spanduk dan pamflet sebagai salah satu bentuk ungkapan kekecewaan bobotoh terhadap keputusan PSSI terkait sanksi yang diberikan kepada Persib.

“Itu bisa saja merupakan ungkapan hati nurani mereka yang tak bisa menerima keputusan PSSI,” ujarnya, disela-sela peresmian Gedung DPC PDIP di Jalan Ciawitali.

Menurut pria yang juga politisi dari PDIP ini, seharusnya sebelum memberi keputusan sanksi, PSSI benar-benar melakukan analisa kejadian di lapangan. Sehingga akan ada pertimbangan-pertimbangan baik kepada club (Persib) ataupun kepada penonton dalam pemberian sanksi. “Sanksi yang sekarang diberikan istilahnya tidak paripurna dalam analisisnya. Jadi wajar bobotoh marah,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Yus, kejadian yang terjadi di luar lapangan berbeda ranah dengan kejadian di dalam lapangan. Sehingga sanksi yang diberikan pun seharusnya tidak dapat diberikan seberat jika terjadi di dalam lapangan.

“Beda halnya yang terjadi saat Arema lawan Persebaya. Itu kan di dalam lapangan. Terus kejadian-kejadian yang dulu yang menimbulkan lebih dari satu korban itu juga harus jadi pertimbangan,” pungkasnya. (yul/ziz)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.