BIOS Dorong Peningkatan Ekonomi Petani Kopi

Sosialisasi Hasil Riset BIOS dan KKATB ITB

923
FOTO OPEN - dari kebun ke kafe-foto bersama desiminasi integrasi lebah dan kopi -
RISKY ANGGIONO/ JABAR EKSPRES
FOTO BERSAMA: Para peserta seminar dan workshop berfoto bersama di sela-sela kegiatan diseminasi integrasi kopi dan lebah “Dari Kebun ke Kafe”, Kegiatan ini digelar oleh Biorefinery Society (BIOS) bekerjasama dengan Kelompok Keahlian Agro Teknologi Bioproduk (KK ATB) ITB serta Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB dengan melibatkan beberapa instansi di Perkebunan Kopi Arjuna, Desa Cibodas, Lembang, Sabtu (15/9).

CIBODAS – Biorefinery Society (BIOS), startup berbasis komunitas di Indonesia, membawa hasil risetnya di kampus agar bisa diimplementasikan kepada masyarakat. Salah satu visinya berupa memberikan desiminasi atau proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola, dengan mempertemukan berbagai stakeholder seperti pihak pemerintah, masyarakat dan akademisi, dengan harapan dapat membangun sebuah industri.

Bagoes Muhammad Inderaja

Co-Founder Sekaligus CEO Biorefinery Society (BIOS)

BIOS bukan merupakan lembaga profit. Keberadaannya lebih condong kepada berbuat sosial. Salah satu langkah BIOS yaitu membuat kegiatan diseminasi integrasi kopi dan lebah “Dari Kebun ke Kafe” dengan melibatkan beberapa instansi di Perkebunan Kopi Arjuna, Desa Cibodas, Lembang, Sabtu (15/9).

Mereka yang hadir di antaranya dari Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK ATB) ITB di bawah Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB , Kelompok Tani Cibeusi (LMDH Cibeusi) Jatinangor, Gapoktan Arjuna Kabupaten Bandung Barat, beberapa startup berbasis komunitas, para dosen SITH ITB yaitu Dr. Robert Manurung, Dr. M. Yusuf Abduh dan Dr. Rijanti Rahaju Maulani, sebagai pemateri.

sambutan pak agus- kabid sdm-
NUR AZIZ/ JABAR EKSPRES
BERI SAMBUTAN: Kepala Bidang Sumber Daya Perkebunan Jawa Barat, Ir. Agus Sutirman, MP turut hadir mewakil pemerintah. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa konsep “Dari Kebun ke Kafe” memiliki makna dan energi yang besar sejalan dengan upaya pemerintah dalam membina petani, serta membuka peluang meningkatkan nilai tambah tambah para petani.

Bagoes Muhammad Inderaja, pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) BIOS mengungkapkan, tujuan digelarnya dari acara Dari Kebun ke Kafe, selain memberi materi dan ilmu hasil riset, juga ingin menjembatani antara masyarakat, pemerintah dan anak muda yang sedang menginisiasi sebagai startup.

“Di sini hadir BIOS sebagai startup utama sekaligus EO acara. Bio and Oil spesialis bagian propolis dan lebah. Nara sebagai startup baru dengan spesialis menyampaikan hasil-hasil riset kepada masyarakat dan juga Kopi Arjuna,” ungkapnya di sela-sela acara, Sabtu (15/9).

dari kebun ke kafe - maeri-dari-dr-robert-manurung
RISKY ANGGIONO/JABAR EKSPRES
BERI MATERI : Ketua KK Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk, Dr. Robert Manurung menyampaikan sosialisasi mengenai produksi lebah dan kopi yang terintegrasi. Beliau berharap hasil riset ini bisa memberi pengetahuan lain yang akhirnya dapat menyejahterakan para petani dan desanya.

Bagoes mengatakan, untuk saat ini pihaknya melakukan riset terhadap kopi dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian para petani kopi. Menurutnya, industri kopi sangat besar. “Kita berharap anak muda tidak hanya menikmati kopi saja tetapi bisa membantu rantai pasoknya,” kata Bagoes.

Alasan BIOS melakukan riset terhadap kopi, lanjut Bagoes, beberapa tahun terakhir dari data yang didapatkannya, produksi kopi di Jawa Barat berkurang atau menurun hingga 20 persen. Dengan demikian otomatis suplai pasokan biji kopi Jabar berkurang. Padahal saat ini tren kafe-kafe kopi semakin menjamur.

workshop intergrasi kopi - lebah
NUR AZIZ/ JABAR EKSPRES
BERI PEMAPARAN : Tim sekaligus Dosen KK ATB dan SITH ITB, Dr. M. Yusuf Abduh memaparkan tentang konsep integrasi perkebunan kopi dan lebah kepada Kepala Bidang Sumber Daya Perkebunan Jawa Barat, Ir. Agus Sutirman, MP. Workshop ini juga menjelaskan tentang inovasi sarang lebah diberi nama MOTIVE (Modular Trigona Hive) serta pemanfaatan sensor pada sarang untuk optimalisasi meningkatkan probabilitas dan kualitas propolis serta madu yang dihasilkan.

“Kita tidak ingin kebun-kebun kopi ini tidak ada yang mendukung. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan kopi kepada kafe-kafe tersebut harus mengimpor kopi dari luar. Bisa saja akhirnya mereka gulung tikar,” bebernya.

Dari alasan itulah, BIOS memiliki ide untuk membuat penelitian agar dapat mendukung keberlangsungan petani kopi. Dengan harapan dari riset yang dilakukan, produktivitas kopi naik serta ada alternatif pemasukan tambahan bagi para petani kopi.

NUR AZIZ/ JABAR EKSPRES
BERIKAN INFORMASI: Co-Founder Sekaligus CEO Biorefinery Society (BIOS), Bagoes Inderaja saat menjelaskan proses pembuatan teh kulit ceri kopi atau disebut juga dengan teh Cascara kepada peserta workshop “Dari Kebun ke Kafe”, Cascara memiliki karakteristik persilangan di antara teh dan kopi. Walaupun cascara berasal dari pohon kopi, tapi memiliki rasa dan aroma seperti teh. Harapannya para petani bisa memproduksi cascara sehingga penghasilan mereka dapat bertambah.

“Selama ini penghasilan mereka hanya pada hasil panen biji kopi. Tapi dengan hasil riset kami, mereka (petani kopi) bisa juga mendapatkan penghasilan tambahan,” ucapnya.

Menurut Bagoes, penghasilan tambahan yang bisa didapat dari kopi di antaranya dari kulit biji kopi. Selama ini, kulit kopi jadi limbah. Atau hanya bisa dijadikan pupuk. Namun, ternyata dapat dijadikan teh. Selain itu, mereka bisa memelihara lebah yang selalu ada di kebun kopi yang bisa menghasilkan propolis dan madu.

RISKY ANGGIONO / JABAR EKSPRES
ANTUSIAS : Para peserta terlihat antusias menyimak workshop pembuatan sabun dari pemanfaatan ampas propolis dalam rangkaian acara Dari Kebun ke Kafe.

“Lebah ini bisa pula meningkatkan produktivitas kebun kopi. Itu juga yang menjadi alasan mengapa kita memulai penelitian kopi ini. Harapannya perekonomian petani kopi bisa meningkat,” jelasnya.

Bagoes berharap dengan hasil riset yang ditularkan kepada para petani kopi bisa membangun industri kopi yang lebih sinergis. Sebab sangat penting adanya “pemain” kopi duduk dalam satu tempat untuk saling bertukar pikiran dan informasi.

dari kebun ke kafe-workshop-barista-kopi-arjuna
RISKY ANGGIONO/ JABAR EKSPRES
RACIKAN KOPI: Seorang Barista Gepoktan Kopi Arjuna tengah menuangkan kopi ke dalam cangkir para peserta pada acara workshop Dari Kebun ke Kafe, Sabtu (15/9). Peserta juga mendapat pengetahuan cara meracik kopi dengan baik dan benar.

“Sebelumnya kita juga sudah melakukan riset di tujuh desa yaitu lima di Sumatera Selatan dan dua di Jawa Barat. Kami ingin mereka bisa buka jaringan bangun pasar dan juga terinspirasi dari kemajuan yang lain,” imbuhnya.

Diakui Bagoes, meski memang keberhasilan secara ekonomi belum signifikan. Namun untuk keberhasilan mengimplementasikan dari apa yang sudah diberikan pihaknya sudah ada di beberapa daerah.

Bagoes menegaskan siap membantu para petani kopi seandainya pemasaran menjadi salah satu kendala. “Dengan pertemuan seperti ini mereka bisa membuka pasar sendiri. Bukan kita yang harus men-setting akhir pasar, menyetel pertemuan mereka, tapi dengan acara seperti ini, kita juga berharap bertambah pengetahuan dari kondisi masyarakat secara riil bukan hanya sekadar teori dan jika memungkinkan kita juga bisa jadi konsultan pemerintahan untuk longtime benefit,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kopi Arjuna yang juga Ketua Asosiasi Petani Kopi Bandung Barat Kurnia Danumiharja, mengapresiasi apa yang dilakukan BIOS. Sebab dengan apa yang telah diberikan banyak manfaat yang didapat.

“Yang selama ini petani kopi tidak tahu. Seperti budidaya lebah trigona dan propolis. Sekarang lebih terbuka. Kami berharap kerja sama ini bisa lebih dikembangkan lagi agar para petani kopi bisa meningkatkan pendapatannya,” ucap pria yang kerap disapa Abah Kurnia ini.

Menurut Kurnia, ada perbedaan yang sangat mencolok antara sebelum mengembangkan propolis dengan sesudah. Selain itu, dengan edukasi-edukasi yang diberikan pihak ITB kepada petani kopi membuat wawasan petani semakin berkembang.

“Selama ini petani kopi yang minim teknologi, informasi dan pengetahuan. Tetapi setelah BIOS masuk kemari, kami menjadi lebih tahu tentang dunia kopi itu seperti apa,” ujarnya.

Ia mengakui, setelah mendapatkan sosialisasi, pihaknya mengetahui banyak hal yang bisa dikembangkan dari bertani kopi. Selama ini, petani kopi hanya tahu punya produk tanpa pernah berpikir untuk mengembangkan produknya. Setelah ini, mereka berpikir bagaimana produknya bisa mempunyai brand sehingga harganya bisa lebih tinggi.

“Biasanya kami mempunyai hasil dari kopi antara Mei sampai Agustus dan September hingga April agak kehilangan sumber penghasilan. Dengan penyuluhan dari hasil riset yang dilakukan BIOS, hal itu tidak akan terjadi lagi karena ada hasil-hasil lain yang bisa dimanfaatkan dari kopi. Sehingga akan mendorong minat para petani kopi untuk tetap bertahan sebagai petani kopi,” terangnya. (ziz/adv)


Tentang Biorefinery Society (BIOS)

Biorefinery Society (BIOS) adalah badan start-up yang berhimpun untuk menerapkan konsep kilang hayati pada bioindustri skala kecil.

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.