Belajar Merakit Shukoi dari Bule Kampung

Berbagi Pengalaman Bersama Teknisi Pesawat Rusia (Bagian 1)

96
shukoi
SALING KERJASAMA: Mayor Teknik Heri Heryadi (tengah) didampingi dua rekannya dari kru super cargo Antonov An-124/100 Capt. Alexei dan Capt. Vladimir pada tahun 2011 lalu.

Kedatangan Tiga Pesawat Shukoi, merelakan dirinya melepas kebahagian bersama keluarga. Pemandangan menakjubkan dia alami manakala bagian belakang pesawat kargo Ilyusin terbuka. Pada proses Unloading pesawat berbadan besar itu ternyata dapat masuk dalam tubuh pesawat kargo.

Yayan Agustianto, Bandung

HARI itu mendekati Idul Fitri. Sejumlah persiapan seperti pada umumnya dalam menyambut lebaran sudah dipersiapkan. Sayangnya kebahagian berkumpul bersama keluarga yang dinanti-nantikan Mayor Tehnik Heri Heryadi hanya sebatas mimpi. Sebab, kebersamaan dengan anak dan istri tercinta di hari bahagia itu pupus sudah. Panggilan negara harus segera dilaksanakan.

Kabar kedatangan tiga unit pesawat tempur Shukoi tahap ke dua sampai ditelinganya, bahkan seketika itu juga dia ditunjuk langsung petinggi TNI AU sebagai Liaison Officer (LO) yang mengakomodir seluruh kebutuhan teknisi dari Rusia.

”Saya waktu itu berdinas di Ujung Pandang. Pada 2011 diberikan tugas sebagai supervisi untuk menyambut kedatangan tiga unit pesawat Shukhoi,” ucap Heri ketika ditemui di kediamannya Jalan Otter, Komplek Auri Sukaraja, Gunungbatu, Kota Bandung.

Meskipun mengaku lupa tanggal pastinya, saat itu tepatnya September 2011 kedatangan pesawat pesawat kargo Ilyusin tipe 54-E200 milik Rusia sudah lama dinantikan semenjak keberangkatannya dari wilayah Kabarov Siberia.

Ketika pesawat angkut super jumbo ini tiba di Ujung Pandang, pemandangan menakjubkan terlihat ketika bagian belakang pesawat Ilyusin terbuka. Sebab, pada proses Unloading pesawat Shukoi yang berbadan besar dapat masuk dalam tubuh pesawat kargo tersebut.

”Jadi ini sih pesawat naik pesawat, ini juga menunjukkan kemampuan dan keandalan teknologi Rusia dalam melakukan pengiriman sangat baik,” ujar pria yang pernah merestorasi helikopter milik Bung Karno itu.

Kedatangan pesawat dengan bobot total 16.380 kilogram ternyata tidak dalam bentuk utuh, melainkan dikemas perbagian pesawat dalam bentuk Knock Down. Sehingga, harus dirakit ulang yang terdiri badan pesawat, sayap, stabilizer dan asesoris lainnya.

Perwira prajurit karir angkatan 1998 ini mengatakan, tugas sebagai LO ketika pesawat unloading menjadi tantantangan tersendiri. Sebab, dari 12 teknisi Rusia yang datang ternyata tidak ada satupun dari mereka yang lancar menggunakan bahasa Inggris. Namun, satu orang teknisi yang bernama Kapten Alexei bisa berbahasa Inggris meski tidak begitu fasih.

”Ya mungkin ini juga yang membuat saya ditunjuk langsung untuk menjadi supervisi karena memiliki kemampuan bisa bahasa Rusia,” ucap Heri.

Dari kesan pertama berbincang dengan mereka ternyata pengaruh peran dingin masih membekas pada benak orang-orang Rusia. Bahkan para teknisi ini hanya dari orang sipil dan dua orang saja berasal pensiunan militer Rusia. Mereka dikirim dari perusahaan Rosboronexport yang merupakan BUMN nya Rusia yang menangani penjualan Alutsista (alat utama system persenjataan, Red) ke berbagai negara.

Hal ini, menjadi alasan mendasar kenapa mereka kurang mahir berbahasa Inggris. Terlebih, mereka ternyata tidak begitu pandai juga dalam bidang IT.

”Ya maaf ya, kalau boleh bilang agak kurang mengenal gadget juga, dan ini sih sama saja dengan bule kampung,” ujar pria lulusan Tehnik Penerbangan ini seraya sambil tertawa.

Kendati begitu, secara personal orang Rusia ini memiliki budaya kerja sangat baik. Mereka melaksanakan tugas dengan profesional dan sangat mudah bergaul dengan siapapun. Malah, ada salah seorang teknisi meminta jalan-jalan dengan naik ojek.

Dia menilai, keterbatasan bahasa ini mungkin disebabkan doktrin dari negaranya. Sebab, mereka adalah para teknisi yang memegang peran penting untuk bangsanya. Sehingga, sampai petunjuk teknis, tool kit dan Manual Book Sukhoi pun menggunakan bahasa Rusia.

”Inikan bisa saja ada alasan politis takut teknologinya kecium sama orang lain. Jadi, kalau pingin belajar teknologi rusia maka harus belajar dulu bahasa Rusia,” cetus Heri.

Merakit pesawat temput Shukhoi (Full Assembling) sebut dia, untuk Satu unitnya menghabiskan waktu selama Dua pekan. Dalam penanganannya masing masing bagian ada tiga teknisi. Sedangkan tugas yang diemban Heri adalah memenuhi segala kebutuhah para teknisi.

Dari perkenalannya dengan para teknisi Shukoi ini memberikan kesan mendalam bagi pria yang hobi me recovery mobil-mobil moliter antik. Tugas yang dia kerjakan ternyata sangat menambah ilmu berharga untuk kemajuan teknologi dirgantara di Indonesia.

Bahkan bila melihat nama-nama kota di Rusia pada perhelatan Piala Dunia pikirannya seakan terbayang dengan wajah-wajah orang Rusia yang dia kenal ketika bersama-sama merakit Sukhoi.

’’Seperti nama Kabarov, Kazan, Amour, pokonya daerah yang sekarang lagi sebut di World Cup saya jadi ingat sama orang-orang Rusia itu,” (*/ign)

BAGIKAN


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.