Banyak Bangunan Berdiri di Sesar Lembang

Masyarakat Harus Waspadai Terjadi Gempa

228
TERUS BERLANJUT: Pembangunan gedung hotel dan apaartemen terus berlanjut meski melanggar tata ruang.

CIMAHI– Ancaman bahaya akibat potensi gempa dari Sesar Lembang membuat daerah yang kemungkinan terdampak, termasuk Kota Cimahi, mesti diwaspadai semua pihak, terutama pemerintah.

Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, daerah utara Cimahi menjadi wilayah yang paling berpotensi mengalami dampak gempa Sesar Lembang bila terjadi.

Hasil pemetaan dari BPBD Kota Cimahi, mesti ditransformasikan menjadi peta rawan bencana atau zona merah di Kota Cimahi, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

ads

Hal tersebut merupakan rekomendasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI terkait peta zona rawan bencana atau amplifikasi yang harus termasuk ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Tentu potensi gempa Sesar Lembang dan bencana lainnya menjadi prioritas kewaspadaan pemerintah. Makanya nantu di revisi RTRW, kita masukkan peta zona bencana sesuai arahan dari Bappenas,” ujar Kepala Bappeda Kota Cimahi, Tata Wikanta, saat ditemui di Kantor Pemerintahan Kota Cimahi, Jumat (19/10).

Saat pihaknya masih menunggu rujukan dari pemerintah pusat melalui Badan Informasi Geospasial (BIH) serta Bappenas terkait peta zona rawan bencana.

“Ini bagi daerah sangat perlu dan kita akan merujuk ke pusat terkait zona-zona sehingga kita tahu persis kondisi wilayah Cimahi yang mana saja titik-titik rawannya,” jelasnya.

Wilayah yang masuk kategori rawan bencana di Cimahi diantaranya Cipageran, Citeureup, dan Pasirkaliki bagian utara yang memiliki kerawanan bencana longsor serta Melong dengan rawan bencana banjirnya.

“Peta zona sudah ada tapi kan pusat sekarang mulai memetakan lebih detail lagi zona longsor mana zona banjir mana. Kita akan mengikuti,” tegasnya.

Khusus membahas Sesar Lembang, dia mengatakan pihaknya akan memberikan sosialisasi terhadap masyarakat dan melakukan persiapan sebagai bentuk antisipasi bila terjadi sewaktu-waktu.

“Masyarakat perlu tahu bahayanya seperti apa. Bukan menakut-nakuti, hanya saja menyiapkan langkah antisipasi itu lebih bijaksana,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas 1 Bandung, Tony Agus Wijaya mengatakan, banyaknya bangunan di sepanjang jalur Sesar Lembang ini patut menjadi perhatian semua pihak. Sebab jika bangunannya tidak kuat menahan gempa, dikhawatirkan akan menimbulkan banyak korban jiwa.

“Sangat tidak disarankan sebenarnya membuat bangunan di sekitar Sesar Lembang ini. Kalau sekarang mungkin sudah terlambat ya, kan bangunannya sudah permanen. Jadi antisipasinya ya harus waspada, atau memperkuat pondasi rumah agar tahan gempa, seperti di negara yang rawan gempa, misalnya Jepang. Warga di sana sudah mendirikan rumah dengan pondasi tahan guncangan gempa”, jelasnya.

Namun sebagai langkah pencegahan saat ini, masyarakat seharusnya tidak acuh terhadap potensi yang bisa ditimbulkan jika sesar Lembang ini bergerak. Pasalnya, gerakan itu bisa memicu gempa yang bahkan kekuatannya bisa menyerupai gempa Pidie Jaya, Provinsi Aceh, beberapa waktu lalu.

“Masyarakat harus mulai melek informasi. Mulai kenali bahaya sesar Lembang itu seperti apa dan bagaimana mengantisipasinya agar tidak menimbulkan korban jiwa. Memikirkan dulu mulai dari hal terburuk, misalnya kalau sampai terjadi gempa, itu harus berlindung ke mana, hal terpenting yang harus diselamatkan itu kan nyawa, bukan harta benda”, paparnya. (zis/yan)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.