Program Studepreneur Mencetak Pengusaha Mandiri

46
TAMBAH PENGALAMAN: Anggota Studepreneur STIE Ekuitas saat kunjungan ke pabrik C59 sebagai produsen baju ternama di Bandung.

LAPANGAN pekerjaan yang terbatas berbanding terbalik dengan para pencari kerja membuat persaingan semakin ketat. Untuk itulah, mahasiswa sebagai penggerak ekonomi masa depan diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas dengan menjadi wirausahawan mandiri.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas melalui program Studepreneur konsisten mencetak wirausawahan mandiri. Mahasiswa yang berminat menjadi seorang pengusaha bisa mengikuti program ini.

Kepala Bagian Pengembangan Kewirausahaan STIE Ekuitas Dr. Dito Rinaldo Novandi CRA SE mengatakan, Studepreneur telah berjalan selama enam tahun. Setiap tahun, pihaknya sukses menghasilkan 20 mahasiswa entrepreneur yang berkompeten di berbagai bidang usaha seperti fashion, makanan dan minuman serta jasa.

”Kalau dulu semua mahasiswa dan warga umum boleh ikut Studepreneur. Namun sejak tiga tahun terakhir ini hanya dipilih 20 khusus mahasiswa setiap tahunnya melalui seleksi. Hal ini karena kami benarbenar ingin menghasilkan pengusaha yang unggul dan berkesinambungan. Bukan mahasiswa yang sekedar mengisi waktu luang dan coba-coba,” ujar Dito kepada Jabar Ekspres, belum lama ini.

Dito mengatakan, syarat mahasiswa yang bisa mengikuti Studepreneur yaitu yang sudah memiliki produk. Meskipun produknya belum terlalu bagus dan produksinya baru sedikit jangan khawatir, karena akan diberi pelatihan dan bimbingan agar usahanya berkembang.

Dirinya menambahkan, ada tujuh level bimbingan yang dia berikan kepada mahasiswa anggota Studepreneur. Pertama, pengembangan dan penguatan softskill. Kedua, pelatihan strategi bisnis yang bekerja sama dengan para ahli di bidangnya. Ketiga, pelatihan perbaikan tata kelola bisnis untuk para anggota, Keempat, penempatan magang dan kunjungan industri sesuai bidangnya. Kelima, klinik bisnis sebagai sarana konsultasi tentang berbagai legalitas hukum seperti perizinan, PIRT, BPOM, hak cipta, hingga ekspor.

Keenam, pelatihan dan bimbingan membuat proposal usaha. Pihak kampus pun membantu akses permodalan kepada perbankan maupun lembaga keuangan non bank. Ketujuh, Bazaar gelar produk anggota Studepreneur.

”Hingga saat ini, sudah tercatat 100 angota Studepreneur yang sukses menjalankan bisnisnya meskipun sudah lulus kuliah. Mereka ada yang membuka cafe, restoran, clothing market serta perusahaan jasa. Bahkan, ada anggota Studepreneur yang sudah mendapat omzet rata-rata Rp 60 juta hingga 80 juta per bulan,” ujar Dito. (adv/fik)

 

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.