10 Tahun Beroperasi Baru Terbongkar

Polda Kejar 7 Tersangka Miras Maut

213
YULLI S YULIANTI/JABAR EKSPRES
BUNKER OPLOSAN: Polda Jawa Barat saat melakukan penggeledahan rumah mewah di Jalan Bypass Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, kemarin (12/4).

BANDUNG – Polda Jabar terus melakukan pengejaran terhadap Tujuh tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus miras oplosan Maut. Ketujuh orang itu menurut Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto, yakni A, SN, A, E, R, dan W dan SS.

”Para pemilik agen miras ini juga masih DPO, saat dilakukan penggerebegan pada Rabu (11/4), para tersangka kabur lewat belakang rumah. Ada tujuh DPO, mereka berperan berbeda tiga orang sebagai agen di Nagrek, Cibiru dan Cicalengka. Sedangkan empat lainnya sebagai peracik,” kata Agung usai meninjau lokasi penggeledahan gudang miras di Kampung Babakan Asih Desa Cicalengka Wetan, Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung kemarin (12/4).

Meski para tersangka berhasil kabur, kepolisian akan fokus melakukan pengejaran terhadap SS dan komplotannya. Sebab sebut dia, SS merupakan kunci dari kasus oplosan maut di Kabupaten Bandung. ”Kita fokus kejar dulu tersangka SS, karena setelah dia berhasil (ditangkap) baru semuanya terbongkar,” tegasnya.

Disebukan Agung, SS memiliki peran besar dalam meracik dan mendistribusikan oplosan maut tersebut ke agen miras. ”Dia yang belanja dan membuatnya jadi kita akan fokus mengejar tersangka,” tandasnya.

Tersangka yang kini masuk dalam daftar DPO ini juga memiliki kaitan kuat dengan Dua tersangka yang telah dibekuk petugas beberapa waktu lalu. ”HM (tersangka yang sudah diamankan) adalah istri SS (DPO) sedangkan JS yang sudah kita amankan juga, itu adalah penjual oplosan,” bebernya.

SS melakukan peracikan miras oplosan dalam bangunan rumah mewah berlantai dua di Jalan Bypass Nomor 40 Kampung Babakan Asih Desa Cicalengka Wetan, Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung.

Rumah yang terletak di pinggir Jalan Bandung-Garut terlihat sangat mewah dengan memiliki Dua kolam renang, penangkaran burung mewah, dan gazebo yang di bawahnya terdapat gudang bawah tanah (bunker).

Disebutkan Agung bunker itulah yang dijadikan tempat pengoplosan minuman miras oplosan. Apalagi luasnya memiliki tinggi 3,5 meter dengan panjang 25 meter persegi.

”Bunker ini, terbelah menjadi dua bagian, yang satu untuk meracik (oplosan) ada eksospen (pembuangan angin) berbentuk cerobong terlihat memang seperti pembuangan angin. Padahal itu, untuk membuang uap yang terdapat dari bahan baku minuman oplosan tersebut,” sambungnya.

Untuk menutup rapat botol kemasan para tersangka diduga menggunakan segel minuman dengan alat pengering, yang sebelumnya ditutupi plastik terlebih dahulu. ”Tersangka mencampur minuman dengan berbagai bahan seperti zat pemanis (Redbell), alkohol dan kuku Bima. Setelah tercampur bentuknya seperti Coca cola kemasan botol sehingga bila dipajang di warung-warung masyarakat tahunya itu ya Coca cola,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menyebutkan minuman yang diproduksi di rumah tersebut mampu menghasilkan 10 dus minuman oplosan. Satu botolnya dijual dengan harga Rp 20 ribu, sedangkan biaya produksi satu dus sekitar Rp 40 ribu. ”Satu dus isi, 12 botol sehari berarti bisa 240 botol kali Rp 20 ribu jadi sekitar kurang lebih Rp 4.8 Juta penghasilan tersangka,” terangnya.

Saat ditanya, mengapa proses pembuatan oplosan tidak sampai terendus sejak dulu. Apalagi dengan melihat aktifitas peracikan menurut informasi sudah ada sejak tahun 2007.

Agung menjelaskan ada jaringan yang terputus, namun aparat keamanan telah melakukan pembatasan ruang gerak para pengedar oplosan dengan razia secara masif.

”Tempat ini, diketahui setelah penangkapan tersangka yang mengaku tempat produksinya di sini. Memang ini, agak susah terendus karena baunya (bahan-bahan pengoplos) tidak tercium sampai keluar rumah. Namun kalau kita masuk ke dalam (dekat bunker) jelas tercium. Oleh sebab itu kita fokus kejar tersangka SS ini,” katanya.

Hasil penggeledahan petugas berhasil menemukan barang bukti berupa, minuman oplosan siap edar sebanyak 224 dus (5.376 botol kemasan 600 ml), bahan dasar air mineral sebanyak 115 dus, RedBell/pewarna makanan sebanyak 39 dus (468 botol kecil), Alkohol sebanyak 23 Jerigen ukuran 25 liter (akan dilakukan pemeriksaan ke laboratorium forensik untuk mengetahui kadar Alkoholnya), Kuku Bima sebanyak 66 dus, alat ukur alkohol sebanyak 3 buah, ember besar sebanyak 27 buah, ember kecil sebanyak 4 buah, saringan sebanyak 3 buah, teko plastik sebanyak 20 buah, jerigen kosong bekas alkohol sebanyak 34 buah, botol kosong sebanyak 6 dus, tutup botol plastik warna biru (jumlah banyak), dan segel plastik warna putih (jumlah banyak).

Selain itu lanjut Agung, setelah dilakukan pemeriksaan, lebih jauh oplosan racikan yang diproduksi di dalam rumah mewah tersebut mirip dengan hasil pengungkapan razia yang dilakukan Polrestabes Bandung beberapa waktu lalu. ”Kemasan dan warna minumannya sama, seperti yang sempat diungkap Polrestabes Bandung. Jadi diindikasi, ini (oplosan) didistribusikan sampai ke Kota Bandung,” katanya.

Agung menambahkan berbeda seperti kasus kematian sejumlah korban di Ciamis dan Sukabumi (Pelabuhan Ratu) dari hasil identifikasi para korban, diduga mencampur sendiri minuman keras. ”Kalau di Ciamis dan pelabuhan ratu, mereka (korban) yang meracik lalu diminum barengan, mabuk hingga akhirnya meninggal,” tambahnya.

Dia menegaskan, untuk menanggulangi kejadian serupa dia akan menugaskan jajaran kepolisian Polda Jabar, Pangdam dan Pemda setempat bersama BPPOM terus melakukan menggelar razia secara rutin. ”Saya koordinasi dengan Pangdam dan bupati agar terus melakukan razia, dari hasil operasi selama satu minggu ini ada kurang lebih 30 ribu botol miras. Kegiatan ini, akan terus kita lakukan sampai bulan ramadhan,” imbuhnya.

Hingga saat ini, ucap Agung, polisi telah mengamankan beberapa tersangka yang diduga menjual oplosan seperti di Polres Bandung sebanyak dua orang, Polrestabes Bandung tiga orang, Kabupaten Sukabumi (Pelabuhan Ratu) satu orang dan Kabupaten Ciamis satu orang.

Jumlah total korban yang meninggal dunia paling banyak tercatat di wilayah Kabupaten Bandung yaitu 41 orang, sedangkan pasien yang datang ke RSUD dengan keluhan sesak nafas, mual dan muntah hingga saat ini ada sekitar kurang lebih 222 orang.

Agung mengimbau masyarakat jangan pernah tergoda dengan minuman-minuman yang membahayakan kesehatan, seperti halnya oplosan tersebut yang dikenal sebagai Minola ginseng. “Ini (Minola ginseng), kan isinya alkohol metanol bila dikonsumsi akan mual, sesak nafas, muntah yang kemudian kembali susah bernafas akhirnya meninggal dunia. Kalau ginseng kan menyehatkan ini malahan mematikan,” terangnya.

Hingga saat ini petugas kepolisian Polres Bandung berhasil mengamankan dua tersangka yaitu JS dan HM keduanya diganjar Pasal 240 KUHPidana, dengan ancaman maksimal 15 Tahun Penjara.

Menurut salah satu tetangga DPO SS, Rukhiyat mengatakan, rumah mewah ini merupakan tempat penampungan dan pendistribusian miras oplosan ke berbagai daerah, seperti Sukabumi dan Jakarta. Dia juga mengaku sudah kesal dengan adanya aktivitas yang dilakukan SS dan HM selama sepuluh tahun terakhir ini.

”Itu rumah agen miras, ya sudah hampir 10 tahunan lah, yang saya tau itu tempat produksi sama pengiriman, untuk ke Jakarta dan Pelabuhan Ratu. Dengan dilakukan penggeledahan ini, saya sangat senang, kalau nggak gini rumah mereka sudah dihancurkan sama warga,” kata Rukhiyat

”Selama ini juga masyarakat resah, diusahakanlah semuanya musnahkan, kalo transaksi pembeli kesitu (kios), dianya khusus untuk pengiriman ke luar daerah dan kabarnya kalau tempat pembuatannya itu di daerah nyalindung, itu juga punya dia (SS),” terangnya.

Salah satu istri Dede Rohimat, 31, korban miras yang meninggal dunia Irna, 32 mengungkapkan, suaminya meminum minuman keras itu sejak Kamis pekan lalu, namun dilanjutkan pada hari Jumat. Setelah itu, katanya, Dede mengaku merasa sakit setelah minum miras oplosan tersebut.

”Almarhum suami saya mengatakan membeli miras di toko dengan gudang yang digeledah saat ini. Padahal, dia (korban) sering minum gingseng, namun tidak pernah mengeluh sakit, namun pas hari itu, dia mengeluh sakit, katanya gingsengnya berbeda,” ungkap Irna.

Irna pun menjelaskan, korban minum dengan sesama teman ojeknya, uang untuk beli minuman hasil patungan dengan teman-temannya padahal dia sudah melarangnya. “Hari Kamis sudah mengeluh sakit, tapi hari Jumat dia diajak lagi sama teman-temannya, akhirnya dia minum lagi, dan hari Sabtu saya bawa ke rumah sakit,” katanya.

Menurutnya, pada Jumat malam, korban mengaku sakit dada, muka merah, mata pucat, dan penglihatannya terganggu. “Dia bilang mata nggak bisa melihat, semuanya warna putih, dan nggak jelas,” ucap Irna yang memiliki dua anak hasil pernikahannya dengan korban miras Dede Rohimat.

”Saya tidak minta apa-apa, namun, saya berharap nyawa di bayar dengan nyawa, tidak cukup hanya di hukum beberapa tahun, harus di hukum mati, karena korbannya banyak,” pungkasnya. (yul/ign)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.