Wisata Canggih di Museum Gedung Sate, Padupadankan Sejarah-Teknologi

36
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
MUSEUM TERCANGGIH: Pemandu Museum Indri Yuniati (kiri) menjelaskan pembangunan dan maket Gedung Sate kepada wartawan saat pre-launching Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, kemarin (6/12). Museum Gedung Sate akan diresmikan Jumat (8/12) dan digratiskan hingga akhir Desember 2017.

jabarekspres.com, BANDUNG – Warga Jawa Barat akan segera menikmati Museum Gedung Sate nan canggih. Sebab, museum ini memadupadankan sejarah dan teknologi mutakhir.

Secara resmi, Museum Gedung Sate ini akan dibuka untuk umum pada Jumat (8/12). Lokasinya di bagian timur Gedung Sate.

Kepala Bagian Publikasi Setda Jabar Ade Sukalsah mengatakan, museum tersebut memiliki luas 500 meter persegi untuk sementara memang digratiskan untuk umum hingga akhir Desember 2017 mendatang. Selanjutnya, pengunjung museum akan ditarif masuk dengan harga terjangkau yaitu Rp 5000 per orang. ”Untuk waktu operasional, pukul 10.00-16.00 WIB. Buka tiap hari, Senin libur,” papar Ade di Gedung Sate, kemarin (6/12).

Ade memaparkan, museum ini berkonsep teknologi arsitektur Gedung Sate sebagai salah satu gedung terindah di dunia. Tidak lupa museum tersebut juga mengajak pengunjung untuk tahu banyak mengenai sejarah yang menyertainya.

Dia memerinci, museum tersebut memiliki tiga segmen: prolog, eksplorasi dan kontemplasi. Yang pasti, museum tersebut sangat memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung.

Ketua Tim Museum Gedung Sate, Ade Garnandi mengatakan museum ini dibangun karena Gedung Sate adalah lambang di Jawa Barat yang memiliki nilai historis tinggi.

”Banyak nilai-nilai perjuangan di dalam sini (Gedung Sate, Red). Bahkan ada yang sampai mengorbankan jiwa raga melindungi statusnya sebagai milik bangsa Indonesia,” urainya.

Garnandi mengatakan, museum ini dirancang dari dua tahun. Pencarian informasi (riset) dilakukan sampai ke Belanda dan beberapa museum perpustakaan di sana. Pembangunan fisik museum yang berada di lantai dasar Gedung Sate ini memerlukan waktu lima bulan dengan penyelesaian konten museum dilakukan sekira 3,5 bulan.

Pengunjung juga dapat mencoba kacamata virtual reality yang membuat pengunjung seolah-olah menaiki balon udara mengelilingi area sekitar Gedung Sate. Ada juga ruangan yang membuat pengunjung seolah-olah terlibat pada pengerjaan Gedung Sate, dengan teknologi augmented reality.

Di museum ini, kata dia, pengunjung tidak hanya dapat melihat sejarah Gedung Sate. Tapi, juga digeret mengetahui banyak soal sejarah Kota Bandung.

Menurut dia, informasi yang akan disajikan dalam museum ini ditampilkan menggunakan teknologi digital. Dengan begitu, konten yang ditampilkan mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kalangan mulai anak-anak hingga orang tua.

Tidak hanya itu, kata dia, konten yang ada di dalam museum bisa diperbaharui apabila ada kesalahan atau penemuan baru. Dengan begitu, informasi sejarah yang disuguhkan tidak keliru dan sesuai fakta keilmuan. (mg1/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here