Upaya BOMA Pulihkan Ketertiban Tatar Sunda

Redam Isu Intoleransi, Para Olot Dengarkan Wejangan Solihin GP

BOMA
NAWWAR HILMAN-JOB/BANDUNG EKSPRES
BERBAGI PENGALAMAN: Tokoh Sunda Solihin GP saat mengadakan diskusi dengan dalam Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jabar GP di Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, (Rabu, 18/1).

Isu organisasi masyarakat (ormas) intoleransi menyita banyak perhatian warga. Tidak terkecuali para sesepuh adat di Jawa Barat yang tergabung dalam Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jabar.

FIKA FITRIA-Job, Cimenyan

BOMA Jabar turut angkat bicara terkait kisruh akibat pro dan kontra pelecehan lambang Pancasila oleh imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Sihab. Pemanggilan Rizieq memantik bentrokan antara dua kubu pro dan kontra.

Kelompok pro tentu masa FPI di bawah Rizieq Sihab, sementara kelompok yang kontra yakni Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Kisruh ini pun semakin blunder, dengan munculnya wacana pembubaran kelompok intoleran.

Menyikapi hal tersebut, BOMA Jabar bertekad meredam isu intoleransi demi keutuhan NKRI. Setelah mendatangi markas Polda Jabar pada Selasa (17/1), keesokan harinya BOMA menggelar diskusi dengan sesepuh Solihin GP di Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Rabu (18/1). Kedatangan BOMA ke Polda Jabar menuntut Kapolda Jabar Anton Charliyan secepatnya mengembalikan ketertiban dan keamanan di tatar Sunda.

Humas BOMA Jabar Hari Safiari mengatakan, acara ini membahas permasalahan intoleransi yang kini marak sekaligus cara menyikapinya. ”Usai acara kemarin (kunjungan ke Polda Jabar), para Olot (sebutan tetua adat BOMA) tidak langsung pulang. Akan tetapi, diminta berdiskusi terlebih dahulu tentang sikap intoleransi tersebut,” ujar Hari kepada Bandung Ekpres.

Dia mengutarakan, pernyataan sikap ini tentunya hasil dari pengamatan yang amat panjang. ”Para olot ini tentunya sudah lama mengamati situasi Jawa Barat. Mereka bertahun-tahun mengamati. Ada yang mengamati di sekitar tempat tinggalnya, di desa maupun di pegunungan. Setelah mengamati, ternyata mereka sadar ada desakan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kearifan lokal,” ujarnya.

Adapun menurut mantan Panglima Siliwangi Solihin GP, pembahasan wicara ini mengenai bagaimana cara agar rakyat tetap hidup dengan aman, tertib dan teratur. ”Bayangkan saja, akan seperti apa kalaulah ketika rakyat bekerja tapi tiba-tiba timbul gangguan-gangguan. Dalam acara ini, kita menyusun bagaimana untuk menghindari penggagalan dari pihak-pihak yang ingin terus mengganggu NKRI,” ujarnya antusias.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here