Trauma Akibatkan Henti Napas dan Jantung

Choirul Huda, Salah Seorang Kiper Terbaik Indonesia

86
Choirul Huda

Sepak bola Indonesia berduka. Choirul Huda, salah seorang kiper terbaik di kasta tertinggi sepak bola tanah air, meninggal kemarin (15/10). Nyawa kiper Persela itu terenggut akibat benturan dalam pertandingan melawan Semen Padang.

Farid S. Maulana, Lamongan

KEMENANGAN atas Semen Padang di Stadion Surajaya kemarin (15/10) seharusnya berakhir indah. Berkat raihan 3 poin itu, Persela Lamongan berhasil menjauh dari ancaman zona degradasi. Laskar Joko Tingkir –julukan Persela– pun punya harapan besar untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.

Namun, kesedihanlah yang muncul dari kemenangan itu. Kemenangan atas Semen Padang harus dibayar sangat mahal. Persela harus kehilangan sosok panutan di tim. Choirul Huda, kiper nomor satu dan pemain yang dikenal paling loyal, mengembuskan napas terakhir karena berbenturan dengan Ramon Rodrigues pada pengujung babak pertama. Tepatnya pada menit ke-43.

Saat itu Semen Padang yang tertinggal satu gol dari Persela berusaha membangun serangan. Marcel Sacramento yang berhasil lolos dari jebakan offside berhadapan dengan Huda.

Sambil berlari cepat mengejar bola, Marcel yang dipepet Ramon di belakangnya beru­saha menendang bola ke arah gawang.

Huda menyongsong bola untuk mematahkan serangan itu. Dengan kecepatan lari yang sangat cepat, Marcel berhasil menghindari Huda. Nahas, Ramon yang berada di belakang Marcel menabrak Huda.

Lutut kanan Ramon menge­nai rahang sebelah kiri sang kiper. Ramon terpelanting ke arah gawang, sedangkan Huda jatuh dengan posisi bahu kanan lebih dahulu membentur tanah dengan keras.

Huda sempat memegangi rahangnya dan langsung pingsan. Lidahnya menjulur ke luar. Sontak, beberapa pe­main, termasuk Marcel, langs­ung berteriak ke arah tim medis agar memberikan pertolong­an. Huda pun harus ditandu ke luar lapangan dan lantas dilarikan ke RSUD dr Soegiri dengan ambulans.

Pertandingan memang di­lanjutkan. Huda digantikan kiper cadangan Ferdiansyah. Persela akhirnya juga menam­bah gol dari kaki Jose Ma­nuel Barbossa pada menit ke-50. Namun, nyawa Huda yang sudah mendapat pera­watan di rumah sakit tidak tertolong.

Dokter Yudhistiro Andri Nugroho, kepala Unit Instala­si Gawat Darurat RSUD dr Soegiri, menjelaskan cedera yang dialami Huda. Menurut dia, Huda mengalami benturan keras di dada dan rahang se­belah kiri dengan Ramon. Benturan itu membuat Huda tergeletak dan sempat tidak sadarkan diri. ’’Mengalami trauma. Huda terkena henti napas dan jantung seketika,’’ jelasnya.

Yudhi menyatakan, tim medis di Stadion Surajaya sudah bertindak tepat. Pembebasan napas melalui alat bantu medis sudah dilakukan. Pukul 15.40, Huda juga langsung dibawa dengan ambulans ke RSUD dr Soegiri. ’’Kami di IGD sudah siap. Pukul 15.50 Huda langs­ung kami tangani,’’ tegasnya.

Doktes spesialis anestesi itu mengungkapkan, Huda sempat sadarkan diri setelah dipasangi alat bantu napas permanen. Kulitnya sempat memerah setelah mendapat perawatan sekitar 30 menit. Sayang, sete­lah itu kondisinya menurun drastis. ’’Kami langsung lakukan pompa jantung. Tapi, sudah tidak ada tanda-tanda kehidu­pan,’’ ungkap Yudhi.

Timnya terus melakukan pertolongan. Namun, lebih dari sejam mendapat perawa­tan, Huda tidak terselamatkan. Pemain kebanggaan publik Lamongan itu meninggal pukul 16.50. ’’Saya memang belum lakukan scanning karena kon­disi Huda yang kritis. Tapi, menurut analisis saya, dia ter­kena trauma akibat benturan. Terutama di rahang. Sebab, di bagian leher ada saraf yang terhubung ke otak. Di situ kenanya. Vital soalnya,’’ terangnya.

Zakky Mubarok, tim medis yang merawat Huda di lapangan, menuturkan, sang pemain masih sadar saat ditandu ke ambulan. Namun, beberapa saat kemudian, napas dan de­tak jantungnya terhenti. ’’Kami langsung memberikan perto­longan secepatnya. Sepanjang perjalanan masih hidup. Di rumah sakit baru meninggal,’’ ungkapnya.

Marcel menyatakan, dirinya memang berusaha menghin­dari tabrakan dengan Huda. Dia sadar, bola tidak akan bisa diraihnya. ’’Tapi, bek Persela tidak tahu kiper sudah maju. Mereka tabrakan,’’ katanya.

Pesepak bola bernomor punggung 8 itu mengaku sem­pat melihat keadaan Huda setelah bertabrakan. Lidah sang kiper sudah menjulur ke samping. ’’Saya shock. Turut berdukacita atas me­ninggalnya Huda,’’ ujarnya.

Meninggalnya Huda men­jadi tragedi yang menyesakkan bagi sepak bola Lamongan. Bahkan Indonesia. Kota dengan luas 1.782 kilometer persegi itu kehilangan pahla­wan lapangan hijaunya.

Ya, pria kelahiran 2 Juni 1979 itu memang melegenda di klub berkostum biru langit tersebut. Huda tidak pernah pindah ke klub lain sepanjang karir profesionalnya. Dia ber­seragam Persela mulai 1999 hingga meninggal kemarin.

Huda jugalah yang ikut mem­bantu Kota Soto menembus kasta tertinggi sepak bola nasional. Dimulai dari Divisi II Jawa Timur 2000, perlahan Persela merangsek naik ke Divisi Utama. ’’Dia tidak ter­gantikan. Sosok pemain yang selalu membuat rekan setim tenang dalam bermain,’’ ung­kap Charles Putiray, rekan Huda yang juga ikut mengan­tarkan Persela hingga ke liga utama pada 2002.

Atas dedikasi Huda selama 18 tahun, manajemen Persela berencana memensiunkan nomor punggung 1 milik Huda. Edi Yunan Ahmadi, manajer tim, menyatakan, hal itu merupakan bentuk apresiasi terhadap loyalitas Huda. Penghar­gaan untuk sosok legenda yang tidak akan tergantikan di Per­sela. ’’Huda adalah Persela. Dia pahlawan bagi kami,’’ tegasnya.

Selamat tinggal, Kapten. Selamat jalan. Semua aksimu pasti sela­lu dikenang. (*/c5/ang/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here