Suka Duka Dokter Paliatif Mendampingi Pasien Kanker Kronis

Tak Sembuhkan Penyakit, tapi Beri Kualitas Hidup

MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
DORONGAN PSIKIS: Dokter bidang Medis Paliatif, Maria Witjaksono saat berada di dekat pasien di ruangnya di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Selasa (23/1). Maria menjadi salah satu dokter yang memberikan semangat bagi pasien kanker.

Divonis kanker stadium akhir tidak berarti menyerah dan menunggu takdir. Masih ada harapan di antara penderitaan. Dalam kondisi itulah spesialis paliatif hadir. Memberikan asa agar harapan tersebut bisa menjadi nyata.

Zalzilatul Hikmia, Jakarta

JAKARTA masih temaram pagi itu. Awan hitam masih menyelimuti langit ibu kota. Matahari pun seolah enggan beranjak dari peraduannya. Tapi, kesibukan sudah mulai tampak di ruang tunggu Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais Jakarta Barat Jumat (27/1).

Aktivitas yang sama terjadi di ruang perawatan paliatif yang berada di lantai dasar. Dokter Maria Astheria Witjaksono MPALLC (FU) PC Physician, 55, salah seorang dokter paliatif di unit pelayanan paliatif dan kedokteran komplementer, tampak sibuk memeriksa sejumlah berkas pasien untuk praktik hari itu. Padahal, masih ada waktu lebih dari satu jam sebelum unit tersebut buka untuk melayani pasien pada pukul 08.00.

Aktivitas itu terusik sejenak saat bunyi handphone memanggil. Raut wajah Maria sontak berubah tak lama setelah menyapa orang di seberang sana. Semangat pagi yang ditunjukkan di awal seolah menguap tak tersisa. Bahkan, dia sempat mematung cukup lama. ”Kenapa saya tidak ditelepon tadi malam?” ujarnya lirih setelah sadar dari kebekuannya.

Telepon itu ternyata membawa kabar duka. Salah seorang pasien yang ditanganinya meninggal dunia Kamis malam (26/1). Seketika muncul rasa sesak di dadanya. Kesedihan tak dapat disembunyikan dari wajahnya. Ada penyesalan mendalam karena tak bisa mendampingi keluarga pasien saat pasien tutup usia. Apalagi, semalam Maria sempat berkunjung dan tak melihat gejala buruk. Meski dia sadar kondisi pasien sudah kronis.

Pasien itu memang baru tiga minggu ditanganinya. Namun, kedekatan yang terjalin membuatnya seolah sudah saling mengenal lama. ”Saya semalam memang baru pulang jam 23.30. Tapi, kalau dikabari, pasti saya akan datang,” ujarnya sambil menahan air mata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here