Siswa SD pun Galang Dana Untuk Kembar Siam Garut

8

jabarekspres.com, GARUT – Siswa SDN 3 Wanajaya menggalang dana untuk membantu  bayi kembar siam asal Kampung Padasari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja yang kini tengah ditangani di RSHS Bandung.

Aksi penggalangan dana tersebut dilakukan secara spontan oleh siswa di bawah koordinator Alifa Anjini Putri salah satu siswa kelas VI. Menurut dia, hal terssbut dilakukan guna membantu meringankan beban sehari-hari si kembar dan keluarganya selama proses operasi.

”Begitu mendengar kabar orang tua bayi kembar kesulitan dana, semua siswa dengan semangat kebersamaan menyisihkan uang jajannya,” ujar Kepala Sekolah SDN 3 Wanajaya Piah Supiah.

Alhamdulillah, siswa mulai kelas 1 hingga kelas 6 tengah berusaha mengumpukan dana dengan dasar kesetiakawaanan sosial yang ditanamkan kepada para siswa di lingkungan SD ini,” sambungnya.

Dia mengatakan, dalam penyaluran bantuan ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pengurus Karangtaruna Kecamatan dan  Pemerintahan Desa Cinunuk. ”Meski tidak besar. Kami berharap bantuan ini bisa membantu meringankan beban mereka,” tandasnya.

Menurut dia, hasil sumbangan para siswa sekolah yang bernaung  di bawah UPT pendidikan akan diserahkan langsung ke Bandung kepada keluarga.

Sebagaimana diketahui, balita kembar siam asal Garut Alputri Anugrah dan Alputri Dewi Ningsih, sejak lahir divonis tak bisa dipisahkan. Namun seiring waktu, kaki tambahan di tengah kedua kaki terus tumbuh. Kini keduanya berharap kaki yang tumbuh namun tidak berfungsi itu dihilangkan.

Anak dari pasangan Iwan dan Yani warga Kampung Padasari, RT 03/RW 07, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung sejak akhir Agustus lalu.

Iwan mengatakan, pihak RSHS tengah melakukan evaluasi kesehatan anak kembar itu sebelum nantinya operasi pemotongan kaki tambahan dilakukan. Putri dan Dewi sudah berada di RSHS sejak Jumat (25/8)  lalu.

”Sekarang anak saya masih di RSHS. Alhamdulillah ditangani dengan baik. Sekarang masih tahapan evaluasi kesehatan dan sebagainya,” kata Iwan, kemarin.

Menurutnya sejak lahir kedua putrinya itu divonis tidak bisa dipisahkan. Namun seiring berjalannya waktu ada kaki ketiga yang tumbuh secara perlahan namun tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Dia menuturkan kedua anaknya yang merasa kaki ketiga itu tidak berfungsi lalu menyampaikan keinginannya untuk dihilangkan dari tubuhnya.

Setelah dibantu Dinkes dan berbagai kalangan serta  proses cukup lama dan berbagai pertimbangan akhirnya dibawa ke RSHS Bandung. ”Memang kalau tubuh sejak lahir divonis tidak bisa dipisah. Kalau kaki (tambahan) itu sudah ada sejak lahir, sampai sekarang tumbuh terus, tapi tidak berfungsi,” urainya.

”Karena anak sudah bisa bicara, mereka minta dibuang saja,” sambungnya.

Dia mengatakan, ukurannya kaki tersebut setengah kaki yang ada. ”Sekitar 20-30 sentimeter,” ucapnya.

Dia menjelaskan selain menunggu hasil evaluasi kesehatan kedua anaknya, RSHS juga tengah mempersiapkan tim dokter untuk menghilangkan kaki ketiga itu. Dokter bedah, anak dan ortopedi akan dilibatkan dalam operasi kaki anaknya. ”Tim dokter ditangani dokter anak, bedah dan  ortopedi,” kata pria yang hanya buruh serabutan ini Iwan mengaku tidak bekerja selama anaknya berada di RSHS. Meski biaya perawatan ditanggung pemerintah, dia kebingungan dengan biaya sehari-sehari untuk menunggu kedua putri di RSHS. (nal/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here