Sirine-Lampu Peringati Warga Cepat Evakuasi

Siswa SMA Baleendah Ciptakan Detektor Banjir

12
ERUS RUSTANDI/JABAR EKSPRES
IDE KREATIF: Oliver Enrico menunjukkan detektor volume air buatan dia bersama enam anggota KIR di SMAN 1 Baleendah, kemarin.

Bandung selatan hingga kini belum juga terbebas dari ancaman banjir. Meski sudah menjadi bencana tahunan, namun banyak warga terlambat mengevakuasi diri karena banjir kerap datang tiba-tiba. Dan ini yang memacu siswa SMAN 1 Baleendah untuk membuat detektor banjir.

Erus Rustandi, Soreang

Oliver Enrico, 16, terlihat gugup. Dia tak banyak bicara ketika media berusaha melihat langsung apa yang dia buat bersama enam siswa lainnya di Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Baleendah, Kabupaten Bandung.

Pelajar bertubuh gempal ini baru terlihat nyaman ketika sang guru ikut menemani dirinya presentasi kecil-kecilan. Dia hanya berkeyakinan, apa yang dibuat bersama teman-temannya akan berdampak besar. Alatnya, berupa pendeteksi (detektor) banjir dari bahan daur ulang ekonomis.

Oliver lantas mencelup-celupkan detektor yang menyerupai tabung ke dalam ember berisi air. Tak lama kemudian, muncul suara dari sirine dan pijar lampu.

Bentuk detektor tersebut seperti tabung dengan celah-celah yang berada di bawahnya. Tampak seutas kabel di atas alat tersebut yang tersambung ke sebuah papan yang dipasangi lampu dan sebuah sirine.

”Begitu detektornya terendam air, akan ada tanda peringatan seperti ini. Dengan begitu, saat detektor terendam pada batas ketinggian tertentu, sirine akan berbunyi. Ketika itu terjadi, masyarakat sebaiknya langsung mempersiapkan diri,” papar Oliver, kemarin.

Alat yang diciptakan oleh para siswa ini, terbilang sederhana. Hanya  memerlukan pipa, botol bekas, lilitan tembaga, sirine, lampu dan dudukan saklar. Pengerjaannya pun cukup singkat, kurang dari satu pekan. Harga bahannya pun terjangkau, tak lebih dari Rp 100.000 per unit.

Oliver mengatakan, cara kerja alat tersebut tak ngejelimet. Teknisnya, botol yang berada di dalam tabung pipa, akan terangkat bila terendam oleh air seiring naiknya volume air ketika banjir. Botol tersebut akan menyentuh tembaga yang kemudian menyalurkan sinyal berupa lampu dan suara.

”Penyokong tenaga untuk sirine dan lampu, bisa menggunakan batre. Pemakaian energi batrenya juga rendah, sebab baru menyala ketika botol naik dan menyentuh tembaga,” urainya.

”Voltasenya juga kecil. Jadi tidak berbahaya ketika terendam seluruhnya,” sambungnya.

Siswa kelas XI itu memerinci, alat tersebut bisa ditanam di sekitar rumah atau digantung di sungai. Namun, untuk dipasang di sungai, perlu ditopang penahan atau pipa yang lebih kuat. Hal ini untuk mencegah alat tersebut tak terbawa arus sungai.

”Kami juga pakai rangkaian seri, agar kalau terjadi kerusakan bisa langsung ditemukan kerusakannya, biar masyarakat bisa lebih waspada,” ujarnya.

Alat tersebut, diakui Oliver belum pernah diujicobakan di sungai. Namun, dia memastikan detektor tersebut bisa dimodifikasi dengan mudah, sesuai dengan kebutuhan. ”Kalau ujicoba di belakang rumah, pernah. Sebelum air meluap ke dalam rumah, detektor memberikan peringatan,” tukasnya

Dia mengaku, pembuatan alat ini terinspirasi dari warga yang rumahnya rawan terkena banjir di Bojongsoang dan sekitarnya. Dia bersama Bagja Mulyana, 17, serta anggota KIR lainnya, lantas berdiskusi. Intinya, bagaimana caranya membantu warga dengan pemikiran dan tenaga yang mereka punya.

”Setidaknya dengan adanya alat ini, bisa membantu masyarakat agar lebih sigap dan waspada serta mengurangi kerugian yang lebih besar ketika banjir tiba-tiba datang,” paparnya.

Sayangnya, Bagja yang mencetuskan detektor murah meriah itu tak bisa ditemui awak media. Sebab, sedang berada di Magelang untuk suatu keperluan. ”Saya mewakili teman saya,” aku Oliver yang juga ikut dari awal proyek tersebut.

Sementara itu, Guru Pembina KIR Yulianti mengaku, sangat mengapresiasi ide tersebut. Menurutnya, membuat alat yang berguna bagi masyarakat setiap tahunnya, merupakan program dari ekstrakuliler tersebut. ”Alat ini memang belum tersosilisasi dengan baik, saya harap alat ini bisa diuji kelayakannya, agar manfaatnya terasa, terutama bagi masyarakat yang terdampak banjir,” kata Yulianti.

Yulianti mengatakan, belum memikirkan untuk mematenkan produk ciptaan siswanya tersebut. Kendati demikian, dia berharap alat tersebut bisa berguna bagi masyarakat luas.

”Mungkin nanti masyarakat yang sering kebanjiran, bisa membuat detektor tersebut di rumah-rumah, sebagai bentuk peringatan dini, karena biasanya warga terlelap saat malam hari, setidaknya bisa memberikan peluang lebih untuk menyelamatkan  nyawa dan harta benda,” tandasnya. (*/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here