Presiden Ingin Dorong Industri Dalam Negeri

7
MOBIL-LISTRIK
CHANDRA SATWIKA/JAWA POS
DUET ASING-LOKAL: Mobil listrik Tesla (kiri) buatan USA dan mobIl listrik Selo buatan Indonesia, di Graha Pena, Surabaya, Jumat (12/5).

Keresahan merundung para penggiat mobil listrik nasional (mo­lina). Penyebabnya, peraturan presiden (perpres) tentang per­cepatan pengemban­gan kendaraan listrik dianggap berpotensi mengubur mimpi mer­eka. Berbagai masukan pun disuarakan agar Presiden Joko Widodo tak keliru mengambil kebijakan.


SEJAK beberapa bulan terakhir Presiden Jokowi memang sering mengungkapkan keinginannya agar Indonesia segera mengembangkan mobil listrik. Jokowi tak ingin Indonesia terlambat lagi dalam mengembangkan industri otomotif.

Karena itu, dia ingin membuat kebijakan yang pro penemu, periset, dan industri.

”Selain persiapan regulasi dan riset, pemerintah juga perlu menyusun insentif yang dapat mendorong semangat pengembangan mobil listrik. Insentif tersebut bisa diberikan kepada penemu, peneliti, maupun industri,” ujar presiden dalam acara Lebaran Betawi di Setu Babakan, Jakarta, Minggu, 30 Juli 2017. Suara Jokowi itu ternyata diterjemahkan oleh para pembantunya (menteri-menteri terkait) lewat pembuatan peraturan presiden (perpres).

Sayang, isi draf Perpres Percepatan Pemanfaatan Tenaga Listrik untuk Transportasi Jalan tersebut justru menciutkan mimpi para periset dan pelaku industri dalam negeri. Kegalauan mereka seperti perasaan para fans Raisa yang mengetahui kabar pernikahan idolanya.

Isi draf perpres itu memang terkesan hanya memberikan karpet merah bagi masuknya raksasa otomotif internasional. Salah satu yang mendasari argumen tersebut, ada pemberian insentif yang berupa pembebasan bea masuk dan pajak barang mewah. Isi perpres juga sama sekali tak mengatur perlindungan terhadap industri mobil listrik nasional.

”Yang saya dengar dari pemberitaan kan memang seperti itu. Kalau itu yang terjadi, tentu kita kalah bersaing,” ujar Staf Ahli Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Agus Puji Prasetyono. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Agus memberikan paparan dalam sarasehan yang diadakan Institut Teknologi Sepuluh No­pember (ITS), Surabaya, pada Kamis (31/8).

Mengapa bisa kalah bersaing? Sebab, menurut Agus, saat ini kebanyakan pengembangan kendaraan listrik dalam ne­geri masih bersifat merakit. Meskipun ada periset dari be­berapa perguruan tinggi yang telah mampu membuat kom­ponen utama kendaraan listrik. Misalnya motor, baterai, dan platformnya. Salah satunya ITS dengan motor Gesits-nya.

”Tapi, itu (yang sudah bisa membuat sendiri, Red) pun kalau harus dijual ya masih kalah dari sisi harga,” tutur Agus. Sebab, tetap ada komponen yang harus didatangkan dari luar negeri. Juga, tentu ada bea masuk yang harus ditanggung. ”Di sinilah kita akan kalah ka­lau kendaraan listrik dari luar negeri nanti dibebaskan be­gitu saja bea masuknya,” papar Agus.

Agus mengatakan, mewu­judkan kemandirian tekno­logi harus dilakukan melalui penguasaan teknologi. Ada beberapa cara penguasaan teknologi. Ada penguasaan yang dilakukan dari hulu sam­pai hilir. Juga harus ada re­verse engineering.

Reverse engineering merupa­kan sebuah proses untuk men­cari dan menemukan teknologi yang bekerja di balik suatu sistem, perangkat, atau objek. Pene­muan itu melalui sebuah proses analisis mendalam. Baik struktur, fungsi, maupun cara kerja sistem, perangkat, atau objek yang di­teliti.

Untuk kasus kendaraan listrik, misalnya, pemerintah bisa membuat kebijakan agar teknologi dari produk pabrikan asing yang akan masuk ke Indonesia dip­elajari atau diaudit dulu. Setelah itu, dipetakan mana yang bisa dibangun dalam negeri. ”Nah, teknologi yang bisa dibangun dalam negeri itulah yang harus diserahkan kepada kita (industri dalam negeri, Red). Sehingga tidak masuk secara gelondongan,” tutur Agus. (gun/c11/ang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here