Perbaikan Rutilahu Butuh Kesabaran

4
RUTILAHU
TUNJUKAN KERUSAKAN: Seorang petugas verifikasi tengah menunjukan kerusakan rumah milik warga yang harus segera diperbaiki dalam program Rutilahu di Kabupaten Bandung.

jabarekspres.com, SOREANG – Entah apa yang ada dibenak pejabat daerah Kabupaten Bandung ketika melihat warga desanya masih ada saja yang tinggal dirumah yang tidak layak huni. Seperti, kondisi rumah bapak Sumarna (70) di Desa Cimaung.

Ketika dikonfirmasi tentang kondisi tersebut Kepala Bidang Pengembangan Perumahan Ben Indra Agusta mengakui, bahwa keberadaan rumah tersebut belum dilaporkan oleh aparat desa setempat. Padahal berdasarkan penuturan ketua RT 01 Agus yang rumahnya tidak jauh dari keluarga Sumarna mengakui sudah 2 tahun lalu mengusulkan ke tingkat desa agar rumah milik keluarga Sumarna diperbaiki.

Menurutnya, dari informasi di lapangan, pihaknya sudah melakukan peninjauan berdasarkan hasil laporan masyarakat dan untuk desa Cimaung sendiri dinyatakan sudah menerima program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Namun, sangat disayangkan dari hasil penelusuran Jabar Ekspres di desa tersebut, ada 4 rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan, secara tegas Ben menyatakan bahwa, untuk tahun ini Desa Cimaung tidak teranggarkan.

“Tahun ini tidak masuk, ya mungkin aparat desa punya prioritasnya sendiri,” jelas Ben ketika ditemui sosialisasi perbaikan Rutilahu di Gedung Dewi Sartika Soreang, kemarin (5/9).

Kondisi ini sungguh sangat ironis ketika dia menuturkan bahwa program rutilahu mengalami peningkatan untuk jumlah rumah yang akan diperbaiki di tahun ini yaitu dari 1 desa 5 rumah menjadi 10 rumah.

Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Marlan menekankan, agar program Rutilahu ini berjalan sesuai rencana. Untuk itu, perlu ada kolaborasi antara pemerintah dan pihak ke tiga. Sehingga, kendala keterbatasan anggaran dapat tercover dengan baik.

“Kita dorong ini dan agar seluruh rumah tidak layak huni di Kabupaten Bandung diberikan Bantuan dan masalah terselesaikan,”kata dia.

Dirinya memaparkan, sumber dana program Rutilahu itu berasal dari APBN dan APBD Provinsi dan Kabupaten. Namun, jumlahnya sangat terbatas dan tidak mungkin terselesaikan untuk memperbaiki Rutilahu dalam setahun.

Sehingga, kolaborasi dan Inovasi dengan pihak ke tiga perlu dilakukan dengan dukungan dana Coorperate Social Responbility (CSR) dari perusahan BUMN, BUMD ataupun pihak Swasta.

Marlan mengakui, di Kabupaten Bandung masih banyak daftar antrian Rutilahu yang ingin segera diperbaiki. Namun, untuk pelaksanaannya butuh kesabaran. Terlebih, setiap desa biasanya memiliki prioritas tersendiri.

Sementara itu Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Erwin Rinaldi menyebutkan, berdasarkan data ada sekitar 70 ribu Rutilahu.

Dirinya memaparkan, pada prosessnya saat ini masih menyisakan 20 ribu rumah. Tetapi, pada 2017 anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 24 miliar yang hanya bisa memperbaiki 2000 rumah saja. Sementara untuk memperbaiki 1 unit rumah dibutuhkan biaya sebesar Rp.7.5 sampai 15 juta per rumah

“Jadi tetap kita prioritaskan dan dikoordinasikan dengan Provinsi dengan melibatkan swasta juga,”ucap Erwin.

Erwin menambahkan, tahun ini pihaknya memprioritaskan sesuai usulan kewilayahan ditingkat desa, dengan target perbaikan rumah sebanyak 1000 unit untuk 30 kecamatan.

“Jadi Untuk rumah yang belum tertangani harus segera melaporkan pada kami, sehingga akan dilakukan verifikasi dan dianggarkan untuk tahun selanjutnya,”tutup Erwin (rus/yan)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here