PCC Biasa Dipakai PSK, Bisa Meningkatkan Daya Rangsang

9
BNNK
JOKO HARDYONO/RADAR SAMPIT
PANTAU SISWA: BNNK Kobar melakukan razia ke SDN 1 Sidorejo Pangkalan Bun antisipasi beredarnya obat PCC, kemarin (15/9). Para siswa tampak kaget dengan kedatangan BNNK.

jabarekspres.com, CIMAHI – Aparat gabungan Kota Cimahi terus memperketat pengawasan kepada apotek yang kemungkinan masih menjual obat PCC (Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol). Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyalahgunaan peredaran PCC.

Di sisi lain, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi Fitriani Manan mengatakan, carisoprodol merupakan berupa senyawa meprobamate yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif). Namun jika dicampur alkohol maka akan sangat berbahaya sekali yang menjadikan refleknya over aktif.

”Makanya sampai terjadi ada yang meninggal pada orang yang mengonsumsinya,” ujar Fitriani di ruang kerja, kemarin (15/9).

Fitriani menjelaskan dalam PPC, mengandung tiga kandungan, yakni Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol. Di antara ketiganya, kandungan yang berbahaya ialah carisoprodol.

Carisoprodol biasanya di­gunakan oleh para Wanita Tuna Susila (WTS/PSK) untuk menambah daya rangsang saat berhubungan intim. ”Se­bagai penambah stamina, bahkan dulu katanya dipakai pekerja tuna susila untuk me­ningkatkan ambang geli,” terang Fitriani.

Perihal peredaran tablet PCC di Cimahi, lanjutnya, dia me­mastikan hingga saat ini belum ada kasus peredaran obat keras tersebut. Kendati de­mikian, Fitriani mengaku, pihaknya akan memperketat pengawasan di setiap apotek dan toko obat di Kota Cimahi. ”Kita akan selalu mengawasi semua apotek dan toko obat secara berkala,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Sa­tuan Narkoba Polres Cimahi AKP Wahyu Agung mengata­kan, pihaknya tak ingin wi­layah hukumnya yang meli­puti Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Margaa­sih kecolongan dengan pere­daran obat maut tersebut. Untuk itu pihaknya atau Sa­tuan Reserse Narkoba Polres Cimahi akan terus mening­katkan pengawasan dengan menyebar anggotanya.

”Sampai sekarang belum ada laporan yang masuk terkait obat itu (PCC). Kita akan awasi peredarannya,” kata Wahyu Agung, di Mapolres Cimahi, kemarin (15/9).

Sebagai langkah awal untuk mencegah adanya penyalah­gunaan obat tersebut, Wahyu mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat terutama orangtua, agar lebih teliti ter­hadap peredaran obat yang tidak jelas maupun baru di­ketahui.

”Beritahu kepada anak-anaknya kalau sekarang ada obat yang bisa mengancam kesehatan dan berujung pada kematian,” imbaunya.

Namun demikian, lanjut Wahyu, pihaknya belum bisa memastikan bahwa, obat ter­sebut masuk jenis narkotika atau tidak. Terlebih, hingga saat ini Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sedang melakukan penelitian.

”Jadi kita tunggu hasil penelitiannya seperti apa, baru kita bisa simpulkan kalau obat itu masuk golongan narko­tika atau tidak,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Pence­gahan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Cimahi, Wahyu Harja Prayoga me­minta, peran aktif dari orang­tua dan pengguna media sosial untuk bisa menyebar­kan informasi mengenai ba­hayanya tablet PCC. Sehing­ga dengan tersebarnya infor­masi yang lebih cepat, diha­rapkan masyarakat khususnya remaja dan anak-anak akan lebih tahu dampak dari men­gonsumsi obat tersebut.

”Memang, anak-anak men­jadi sasaran empuk para bandar narkoba untuk menyebarkan barang haramnya. Anak-anak sekarang sedang dalam bahaya, makanya media sosial, dan orangtua itu perannya sangat krusial sebagai benteng pertama anak-anak dari serangan para pengedar narkotika maupun obat-obatan terlarang lain­nya,” bebernya, saat ditemui di kantor BNNK Cimahi, Jalan Cihanjuang Kota Ci­mahi, kemarin. (ziz/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here