Pamerkan Lukisan Warga di Atas Saluran Air

22
SAHRUL YUNIZAR/JAWAPOS
AJAK BERKREATIVITAS: Rahmat jabari saat berada di Kampung Kreatif Dago Pojok, Bandung.

Kampung Kreatif Dago Pojok kini menjadi destinasi wisata alternatif di Kota Bandung. Selain turis domestik, tak jarang wisatawan mancanegara mendatangi kampung tersebut. Siapa orang kreatif yang sukses menyulap kampung artistik itu?

SAHRUL YUNIZAR, Bandung

PERMUKIMAN padat penduduk di RW 09, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, tampak beda dengan kampung-kampung di sekitarnya Tembok rumah warga penuh warna. Kreasi seni rupa menghiasi sudut-sudut kampung dengan populasi 3 ribu jiwa tersebut.

Salah satunya di sebuah gang kecil, di atas saluran air. Bak galeri, sejumlah lukisan ditempel di dinding-dindingnya. Kesannya jadi keren.

Dulu kampung itu memang sepi. Tapi kini sudah berubah. ”Sekarang ramai. Ada aktivitas di mana-mana,” ucap Rahmat Jabaril, seniman Bandung, baru-baru ini.

Pria 48 tahun itu punya peran penting dalam pengubahan wajah kampung tersebut. Dialah seniman yang menggagas dan memulai gerakan berkesenian di sana. Hingga akhirnya lahirlah Kampung Kreatif Dago Pojok (KKDP).

”Seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya warga. Mulai lukisan, patung, hingga kriya. Semua unik,” kata Rahmat.

Enam tahun lalu KKDP resmi dikenalkan kepada publik. Dari mulut ke mulut dan melalui media masa. Sejak saat itu, gaungnya terdengar luas. Bukan hanya lintas negara, bahkan menyeberang ke beberapa benua.

Namun, perjalanan Rahmat sampai menelurkan ide membangun KKDP sudah berlangsung 13 tahun lalu. Berselang lima tahun, Rahmat menuntaskan tugas sebagai aktivis anti-Orde Baru. Dari Jakarta, Rahmat pulang kembali ke Bandung.

Lihat Juga:  Pemkab Masih Mengkaji Soal Upah Sektoral

Rahmat tidak lagi berusaha melawan penguasa. Namun, tetap menunjukkan perjuangan dalam memajukan kampungnya, menjaga tanah kelahiran sendiri. Sebelah utara Kota Bandung, misalnya, menjadi perhatian Rahmat. ”Karena pemerintah mengarahkan pembangunan ke perbatasan di utara Bandung,” ucap dia.

Langkahnya diawali dengan membuka kursus gratis kepada anak-anak di kampung tersebut. ”Mulai melukis, menari, teater, bahasa, hingga matematika. Semua pelajaran,” ujar Rahmat.

Rumah Kreatif Taboo. Begitulah warga menyebut tempat kursus yang dibuka Rahmat itu. Tidak sembarangan, ayah tiga anak tersebut sering mendatangkan pengajar yang kompeten. Dia juga membawa koleganya yang mahir berbahasa Inggris untuk mengajar anak-anak kampung itu. Juga mendatangkan pengajar bahasa Mandarin dan bahasa Jerman.

Program beasiswa bagi anak tidak mampu pun diluncurkan. Sejak Rumah Kreatif Taboo pertama hadir sampai saat ini, ratusan anak turut ambil bagian. Mereka belajar meski dengan segala keterbatasan. Sejak saat itu pula langkahnya semakin jelas.

Selain mengajar, Rahmat berinteraksi dengan warga. Menggali nilai-nilai budaya dan tradisi yang ada di kampung tempat tinggalnya. ”Dulu di sini ada silat, wayang, dan kesenian lain,” kata Rahmat menirukan ucapan warga.

Mendapati cerita itu, dia kemudian mengajak warga membangkitkan kembali seni budaya, tradisi, dan beragam hal yang mengandung nilai seni. ”Ayo meramaikan kampung ini lagi,” ujarnya.

Pelan-pelan Rahmat memetakan sekaligus memberikan evaluasi tentang potensi seni yang tersimpan di sekitar tempat tinggalnya. Sudah enam tahun (2003-2009) dia melakukan pemetaan. ”Setelah itu, saya melakukan pendekatan kultural,” terang suami Ika Ismurdyahwati tersebut.

Lihat Juga:  Ribuan Warga Antusias Ikuti Gerak Jalan

Pendekatan itu dia lakukan lantaran gagasan KKDP bermisi membentuk ekosistem berkesenian di antara warga. Bukan sekadar mengajak. Itu penting lantaran kegiatan berkesenian harus dilandasi dorongan dari dalam diri sendiri. Bukan perintah, apalagi paksaan. Selama enam tahun dia memetakan, pelan-pelan ekosistem itu mulai terbentuk.

Enam di antara sembilan RT di RW 09, Kelurahan Dago, punya identitas sendiri.

Bila warga aktif berkesenian, kata Rahmat, RT 1 bisa menjadi pusat mural dan industri rumahan ornamen ruangan. Batik dan jaipong juga kembali hidup. Lalu, RT 2 menjadi tempat untuk mengembangkan wayang golek, layang-layang, dan seni ukir.

Kemudian, di RT 3 disiapkan studio untuk para pelukis. Sedangkan RT 4 dan RT 7 menjadi area pemancingan ikan serta kerajinan bambu. Lalu, RT 9 dipakai sebagai tempat mengembangkan permainan tradisional untuk anak-anak.

Selama dalam proses pemetaan, banyak tantangan yang harus dilalui pria yang merayakan ulang tahun setiap 17 Agustus itu. Penolakan secara terang-terang dan nada-nada nyinyir warga menjadi makanan sehari-hari. Lebih dari itu, dia harus bersusah payah menyadarkan orang-orang yang sering bertindak onar di kampung tersebut.

”Sekarang mereka aktif berkarya,” katanya bangga. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi pengurus Kampung Kreatif Dago Pojok.

Pendekatan kultural yang dilakukan Rahmat memang tidak selalu mendapat sambutan positif. Namun, perlahan tapi pasti, warga bisa menerima gagasan dia. Pada 2009 warga sepakat memakai nama Kampung Wisata Dago Pojok sebagai identitas. Sebab, salah satu tujuan mengupayakan gagasan tersebut adalah mendatangkan wisatawan ke kampung itu.

Lihat Juga:  Alice Norin Naik Hingga 10 Kilo

Namun, tiga tahun berselang, Kampung Wisata Dago Pojok berganti nama menjadi Kampung Kreatif Dago Pojok. Sampai saat ini nama tersebut masih dipakai. Rahmat menilai hal itu selaras dengan kehidupan warga.

Kini KKDP semakin berkembang. Setiap bulan dikunjungi ratusan wisatawan. Ada yang berniat pelesir, ada pula yang ingin belajar. Tamu dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand juga melimpah. ”Tamu dari instansi pemerintah atau mahasiswa dari luar kota juga sering mampir kemari,” ucap dia.

Lebih dari itu, tamu dari luar Asia juga mulai melirik kampung tersebut untuk dikunjungi. Di antaranya, turis dari Eropa dan Amerika. ”Minggu depan ada rombongan dari Eropa,” ucap Rahmat. Lantaran datang untuk belajar dan meneliti, para tamu itu kerap menginap di kampung tersebut. Pernah ada yang menginap sampai 10 hari.

Selain ladang untuk berbagi ilmu, KKDP menjadi lahan yang bisa dimanfaatkan warga untuk menambah penghasilan. ”Hasilnya untuk warga. Pengurus nggak ambil,” tegas Rahmat.

Setelah lima tahun berjalan, dia ingin modal bisa dimaksimalkan. Untuk itu, mulai tahun ini dia bersama pengurus KKDP yang lain menitikberatkan program pembangunan infrastruktur. Tujuannya, KKDP semakin baik dan terkenal. Bukan hanya aktivitas berkeseniannya, tapi juga bisa menyediakan fasilitas untuk berbagai kegiatan. Hal itu penting dilakukan agar KKDP bisa menjadi proyek percontohan untuk pembangunan kampung kreatif di Indonesia lainnya. (*/c10/ari/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.