Melawan Arus Deras, Melewati Gang Sempit nan Gelap

Kisah Heroik Relawan Banjir Jakarta Menyelamatkan Bayi dan Lansia

1
realawan banjir
MENGHARUKAN: Taufiq Hidayat membawa Rizky, bayi 6 bulan yang terjebak banjir di rumahnya di kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, kemarin (21/2).

Banjir Jakarta tak hanya menyusahkan warga, tetapi juga sarat kisah heroik orang-orang yang terlibat operasi penyelamatan dan evakuasi warga tak berdaya. Misalnya, yang dilakukan Taufiq Hidayat, relawan Badan Amil Zakat Nasional, baru-baru ini.

M. SUBADRI JARAWADU, Jakarta

RUMAH Sundari, 25, masih gelap. Padahal, jarum jam sudah menunjuk pukul 07.00 lebih. Pagi kemarin mendung memang menyelimuti langit Jakarta Malam sebelumnya hujan turun cukup deras. Akibatnya, banjir kembali ”menenggelamkan” ibu kota, termasuk kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, tempat tinggal keluarga Sundari.

Dan, seperti biasa, bila Jakarta terendam banjir, Taufiq Hidayat langsung turun gunung. Relawan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) itu selalu tergerak untuk terlibat dalam upaya penyelamatan dan evakuasi warga yang terjebak banjir. Kebetulan, kemarin dia berada di kawasan dekat rumah Sundari.

Saat dia mendayung perahu karet di tengah banjir sedalam dada orang dewasa, tiba-tiba seorang warga berteriak ke arah Taufiq. ”Pak, itu tolong, Pak. Bu Sundari sama bayinya terjebak di rumahnya. Di sana itu rumahnya,” ujar warga tersebut kepada Taufiq sambil menunjuk rumah yang dimaksud.

Tanpa berpikir panjang, Taufiq dan tim relawan Baznas bergegas menuju rumah Sundari yang berada agak ke tengah kampung. Setelah perahu mendekat, terdengar samar-samar suara tangisan bayi. Tetapi, Taufiq cs belum bisa memastikan dari arah mana suara bayi tersebut. Sebab, permukiman itu cukup padat.

Maka, tim Baznas kemudian berupaya mendekat ke salah satu gang untuk mencari sumber suara tangisan bayi tersebut. Namun, sayang, perahu tak bisa masuk karena gang itu sempit. Sebagai ketua regu penyelamatan, insting Taufiq langsung berusaha mencari jalan alternatif. Dia lalu memutuskan untuk turun, sedangkan perahu diparkir di muka gang.

”Menuju rumah Bu Sundari harus melewati gang sempit, gelap. Aksesnya sulit, dalem, dan arusnya deras,” ujar kepala Tim Disaster Tanggap Bencana Baznas tersebut.

Setelah berenang melewati gang sempit itu, Taufiq bersama seorang relawan lainnya berhasil menemukan sumber suara tangisan bayi tersebut. Namun, untuk masuk sampai ke pintu rumah, tidaklah mudah. Berkali-kali dia sempat terseret arus. Setelah berusaha lebih keras, Taufiq dan rekannya bisa mendapatkan pegangan di kusen jendela rumah Sundari. Namun, kuatnya arus air mendorong tubuh Taufiq sehingga jendela yang dipeganginya rusak. Krak…

”Jendelanya copot. Saya langsung memegang kayu kusen yang lain,” ungkapnya.

Setelah bisa menguasai kondisi, Taufiq dan kawannya masuk ke rumah Sundari lewat jendela. Lantai 1 rumah dua lantai itu sudah berantakan. Semua barangnya mengapung. ”Di dalam itu kondisinya parah. Berantakan. Listrik mati,” katanya.

Keduanya lantas bergegas naik ke lantai 2 tempat Sundari dan bayinya, Rizky, 6 bulan, serta Mardiah, 60, ibu Sundari, menyelamatkan diri dari banjir. Tetapi, lagi-lagi sial. Badan Taufiq terempas ke tengah rumah yang kini sudah berubah menjadi kolam itu. Taufiq tidak mengetahui kalau tangga menuju lantai 2 terbuat dari kayu dan sudah lapuk. ”Anak tangganya patah saat saya injak,” ungkapnya.

Untuk kali kedua, Taufiq berusaha naik lagi. Dengan sangat hati-hati, bapak tiga anak itu menuju ke lantai 2 dengan berpegang pada kayu di kanan-kiri tangga. Dan, alangkah terkejutnya dia begitu melihat Sundari beserta bayi dan neneknya di lantai 2. Ketiganya terpuruk di salah satu sudut lantai 2 rumah. Sundari memeluk anaknya. Keduanya bertangisan, sedangkan Mardiah, ibunya, berusaha tenang.

”Bu Sundari tampak panik luar biasa. Maklum, dia hanya bersama anaknya yang masih bayi dan ibunya yang sudah tua. Dia juga tak bisa berenang menyelamatkan diri,” papar Taufiq.

Saat itu, keluarga Sundari memang satu-satunya yang masih terjebak banjir. Warga lain di kampung tersebut sudah mengungsi atau dievakuasi. Karena itu, tak heran bila dia tampak panik karena air terus naik.

Taufiq tak sempat bertanya tentang keluarga Sundari yang lain. Dia hanya melihat rumah tersebut cuma dihuni tiga orang tak berdaya itu. Dia pun berupaya menenangkan ketiganya, lalu meminta rekannya untuk membuat jalur evakuasi. Caranya, membentangkan tali dari lantai 2 rumah Sundari menuju ujung gang tempat perahu karet diparkir. Dengan tali itu, Sundari dan ibunya bisa menitinya hingga ke perahu karet. Sedangkan evakuasi Rizky dilakukan Taufiq dengan menggunakan bak mandi bayi yang diapungkan.

Proses evakuasi cukup menegangkan karena arus air cukup deras. Si bayi terus menangis. Apalagi saat ditidurkan di bak mandi dan dibawa Taufiq menuju perahu. Tangisnya semakin menjadi-jadi.

”Anaknya nangis terus. Untungnya pas keluar dari gang lebih mudah. Saya ikutin arusnya, tetapi tetap menjaga keseimbangan baknya agar tidak tumpah,” jelasnya.

Sepanjang perjalanan menuju perahu karet yang sudah menunggu di ujung gang, Taufiq berenang menerobos banjir. Agar tidak terbawa arus, dia berkali-kali mendekat ke tembok. ”Jadi, saya nempel-nempel gitu. Saya berenang sambil megang bak sambil jaga supaya tidak terlepas dari tali,” ujarnya.

Setelah mengevakuasi Rizky, giliran neneknya yang dituntun sambil berpegangan tali. Juga ke perahu. Apalagi, si nenek sudah dipasangi life jacket. Baru setelah itu giliran Sundari yang juga dikawal hingga ke mulut gang.

Bagi Taufiq, pengalaman mengevakuasi Rizky merupakan peristiwa paling dramatis sepanjang tugasnya sebagai relawan kemanusiaan sejak 2006.

”Sejak remaja saya sering iri kalau lihat tim penyelamat berjibaku di tempat bencana. Makanya, saya lalu terjun menjadi relawan dan memilih jalur pengabdian ini,” ungkapnya. (*/c5/ari/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here