Mantan Preman Ciptakan Kompor Penghasil Listrik

AMRI RACHMAN DZULFIKRI/BANDUNG EKSPRES
TUNJUKAN PENEMUAN: Ujang Koswara memperlihatkan kompor penghasil listrik hasil temuannya yang diberi nama Hawuko di Jalan Gudang Utara, Kota Bandung, Rabu (29/3). Produk teknologi kompor penghasil listrik itu akan disosialisasikan ke sejumlah daerah di Indonesia, terutama derah terpencil yang belum teraliri listrik agar dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat.

jabarekspres.com, BATUNUNGGAL – Kreativitas tidak hanya dimiliki anak sekolah menengah kejuruan (SMK) atau mahasiswa teknik saja. Ujang Koswara, 48, warga Gang Samsi RT 6/1, Kelurahan Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, membuat sebuah penemuan sederhana namun sangat bermanfaat.

Siapa sangka, mantan preman ini berhasil menciptakan kompor berbahan bakar sampah yang bukan saja bisa digunakan untuk memasak, tetapi jugasebagai penghasil energi listrik.

Dalam presentasinya, Ujang menunjukan bagaimana dirinya men-chrager sebuah telepon genggam dan menyalakan lampu neon saat kompor tersebut dinyalakan.

Kompor yang diberi nama Hawuko ini berawal saat melihat istrinya menyetrika pakaian di rumah. Sebab menurutnya jika energi listrik bisa menghasilkan panas tentu sebaliknya energi panas bisa menghasilkan energi listrik.

Dirinya menamakan Hawuko dari akronim dari hawu (tungku) dan kompor. Kompor tersebut juga merupakan modifikasi ’kompor sakti’ yang pernah dipoduksi pada 2009 lalu.

”Kompor sakti merupakan kompor yang berasal dari bahan bakar sampah yang pembakarannya menggunakan tenaga blower,” kata Ujang kepada wartawan di Rumah Workshoop Universitas Kehidupan Otonom (UKO), Jalan Gudang Utara, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, kemarin (29/3).

Ujang mengungkapkan, sebelum me-launching Hawuko, dirinya sempat mengajarkan pembuatan kompor sakti ke pelosok-pelosok kampung. Kompor ini bisa membuat masyarakat mandiri dalam menghasilkan energi. Sebab, kompor yang berbahan bakar sampah itu bisa menghasilkan energi listrik sebesar 5 watt.

Menurutnya, inspirasi dalam menciptakan kompor berbahan bakar sampah ini lantaran dulu keluarganya hanya mengandalkan hawu untuk memasak. Saat itu, keluarganya sangat kesulitan untuk membeli elpiji. Dirinya berinisiatif membeli kipas angin kecil seharga Rp 7.000 yang digunakan untuk meniup tungku.

”Semenjak menggunakan kipas angin untuk meniup tungku. saya kemudian terinpirasi membuat kompor sakti,” jelas Ujang.

Namun demikian, Ujang mengaku belum sepenuhnya mengetahui teori bagaimana panas bisa menjadi listrik. Dirinya hanya melihat Google serta Youtube untuk membuat alat pengkonversi panas menjadi listrik tersebut.

Bahkan, saat membuat kompor tersebut sempat mengalami beberapa kali gagal. Dengan elemen khusus, panas bara api bisa dikonversi menjadi energi listrik yang kemudian disalurkan ke generator listrik.

”Huwako merupakan kompor sederhana, seperti kompor sakti, bahannya dari kaleng cat bekas. Hanya saja, kaleng cat itu dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa menjadi kompor penghasil energi,” pungkasnya. (dn/fik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here