Made Wirawan Dua Kali Nyaris Tewas

36

jabarekspres.com, BANDUNG – Insiden yang menimpa kiper Persela Lamongan menjadi momok sepak bola nasional. Sebab, risiko yang menghantui pemain tidak hanya cedera, tapi juga kematian.

Penjaga gawang Persib Bandung I Made Wirawan mengaku turut berduka atas meninggalnya Choirul Huda. Dia berharap, dalam pertandingan sepak bola tak lagi menelan korban jiwa.

”Sebagai pemain, sahabat saya turun berduka sedalam-dalamnya atas meninggalnya Choirul Huda. Semoga insiden tersebut tidak terulang,” kata Made jelang kepulangan ke Bandung, di Makassar, kemarin (16/10).

Dia mengaku, kedekatan dirinya dengan Choirul Huda tidak hanya dari sisi profesi dan posisi.

Tapi dia juga pernah sama-sama memperkuat timnas. Di saat-saat itu, dia mengaku, sangat dekat satu sama lain. ”Saya pernah sekamar sama almarhum. Zamannya Pra Piala Asia waktu sama Jacksen (F Tiago),” kenangnya.

Pemain asal Gianyar, Bali ini mengenal Choirul Huda sebagai sosok yang ramah. Mendiang dalam pandangan Made, termasuk pemain yang konyol, kerap bercanda. Mengenang itu, membuat dia sedih.

Sebelum sahabatnya itu ber­pulang, Made mengaku, sering bertegur sapa sekalipun kedua tim sedang tidak bertanding. Biasanya mereka kerap ber­canda via chatting. ”Karena jauh, kita sering bercanda lewat WhatsApp,” ucapnya.

Disinggung soal insiden yang menimpa Choirul, Made mengaku, sangat kaget. Sebab, nyawa Choirul tidak terse­lamatkan tim medis.

”Kami (pemain Persib, Red) sempat shock. Kami men­dengar kabar itu saat mela­kukan pemanasan,” urainya. ”Saya tak tega lihat tayangan ulangnya,” sambung penjaga gawang berusia 38 tahun itu.

Secara pribadi, Made pun memiliki trauma, lantaran beradu dalam pemain lainnya dalam laga. Bahkan kejadian itu sudah dua kali menimpa dia. ”Saya dua kali mengali insiden yang kurang lebih sama. Sampai sekarang saya gak pernah lihat insiden yang menimpa saya di tayangan ulang. Ngeri,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Infokom PMI Kota Bandung Priyo Handoko SE mengatakan, saat pertandingan kandang Persib Bandung, pihaknya selalu diminta un­tuk menurunkan anggota untuk penanganan medis untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terkait keselamatan di lapangan.

Priyo memerinci, PMI Kota Bandung biasanya menurun­kan delapan orang tim tandu yang bertugas menjaga pe­main. ”Mereka itu yang bia­sanya bersiap di pinggir la­pangan dan mengevakuasi pemain jika cedera di la­pangan,” kata Priyo kepada Jabar Ekspres, kemarin.

Rincian lain, kata dia, ada tiga orang tim ambulan luar, tiga orang tim ambulan sela­tan, tiga orang tim ambulan VIP. ”Teknis mereka di bawah koordinasi dokter umum yang ada di PMI bukan dari RS Hasan Sadikin. Jika kritis, kami segera koordinasi ke RS terdekat,” ungkapnya.

”Para personel yang ditu­runkan memiliki standar. Mereka memiliki setifikasi pertolongan pertama (PP) ambulan,” sambungnya.

Dia memastikan, Panpel Persib Bandung selama ini selalu melayangkan permin­taan khusus ke PMI Kota Bandung. Di antaranya, te­naga dokter yang turun langs­ung ke lapangan serta semua personel harus memiliki ser­tifikasi PP ambulan.

”Meski demikian, memang tidak semua sempurna. Ter­masuk penanganan pada pemain asing. Sering miskomu­nikasi,” ungkapnya. (rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here