Ketika Mesin Mampu Menari Tradisional

Melihat dari Dekat Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 Regional II

7
KRI 2017
ROBOT PENARI: Tiga orang mahasiswa Telkom University (Tel-U) saat menyiapkan dua robot yang bisa menari, kemarin (19/5).

Promosi seni tradisional Indonesia ternyata tak hanya dilakukan dengan lenggok penari gemulai bersosok manusia. Bagaimana kalau yang mempromosikan itu justru tumpukan besi dan kabel, bisakah robot-robot itu menirukan tarian layaknya manusia.

Igun Gunawan, Bandung

Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 Regional II, berlangsung hari ini (20/5). Hiruk pikuk para calon tukang insinyur sudah berlangsung sejak kemarin hingga larut malam. Dari mulai mempersiapkan sparepart hingga mencoba melatih robot-robot mereka di area pentas, sebelum hari ini mereka dinilai.

Usai berlatih di arena yang beukuran sekira 10×10 meter, dengan sejumlah perkaka pendudung seperti bola dan halang rintang. Para peserta yang usai berlatih langsung membawa robo-robotnya, untuk kembali dipersiapkan saat perlombaan.

Setidaknya ada empat divisi kompetisi yang akan dinilai. Di antaranya Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI). Divisi ini khusus robot pelempar cakram. Kompetisi ini merujuk pada kontes robot internasional yang digelar oleh Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) pada 27 Agustus nanti, di Tokyo, Jepang. Tiga divisi lain, Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) dan Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI).

Untuk tingkat Internasional, ternyata tim robotik tuan rumah sempat mencetak prestasi membanggakan dalam kompetisi robot internasional. Mereka berhasil meraih juara Dua dan Tiga di ajang Singapore Robotic Games 2017 (SRG2017) yang dihelat di Science Centre, Singapura pada 19 Januari lalu. Dua kategori kejuaraan yang berhasil membawa harum nama Indonesia adalah Open Category dan RC Underwater Robot Category.

Di Open Catgory inilah, Ryan febriansyah dan empat kawan lainnya mempromosikan seni tari tradisional Indonesia. Caranya dia memanfaatkan talentanya dalam bidang elektrik, mekanik bersama teman-temannya.

”Iya waktu itu Tel-U –sebutan  Telkom University, dapat meraih juara III dan II dari Underwater Robot Category, dan Open Category. Untuk open kategori kita menampilkan robot yang bisa menari, kebetulan waktu itu temanya tentang tari persembahan. Yang kita ambil dari Minang. Sekarang juga ada di KRAI juga temanya tari Sriwijaya,” kata Ryan pada Jabar Ekspres sebelum timnya di daulat untuk segera latihan.

Ternyata bukan waktu yang sedikit untuk dapat menyuruh manusia mesin dapat menari itu, setidaknya Ryan dan teman-temannya membutuhkan waktu hingga lebih dari Tiga tahun untuk melakukan risset. ”Lamanya memang di risset, kalau di pembuatan sebulan juga bisa,” ungkapnya.

Disebutkan Ryan, trial error pun kerap mereka lakukan bahkan diakuinya belum ada satu riset pas begitu dipraktikan, robotnya langsung berhasil sesuai dengan yang diharapkan. ”Kalau sekali langsung jadi, nggak. Tapi kita beberapa kali melakukan trial error. Kalau dibilang lebih dari sepuluh trial errornya, bisa, bahkan bisa lebih,” ungkapnya optimistis.

Ryan dan teman-temannya mengaku, sengaja membuat robot tarian tradisional. Tujuannya untuk mempromosikan tarian daerah tersebut ke kancah Internasional. Dan, ternyata robot buatan Tel-U itu berhasil menyabet juara.

”Tidak mudah untuk sampai tahap ini, tetapi dengan kerja keras dan dukungan banyak pihak, kami bersyukur bisa menorehkan catatan juara di Singapura. Apalagi peserta Singapore Robotic Games 2017 diikuti puluhan universitas ternama dari banyak negara. Tentu ini adalah hasil kolektif, banyak pihak yang mendukung,” kata Pembina robot Telkom University Muhammad Ikhsan Sani dan Simon Siregar, menambahkan.

Dalam ajang kontes KRSTI, Universitas Telkom mengirimkan tim terbaik mereka Roobics untuk KRAI, Arjuna untuk KRPAI, Rostu untuk KRSBI dan Badaya-SAS. Ajang tahunan kompetisi robot antar perguruan tinggi tingkat Nasional diikuti sedikitnya 86 tim robot dari 37 universitas di Indonesia. Mereka akan beradu mahir dari masing-masing teknologi.

Dari Bandung sendiri diperkuat tim tangguh yakni Telkom University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Maranatha dan Universitas Pendidikan Indonesia. Seluruh rangkaian kompetisi itu akan dinilai oleh tim penilai profesional, antaranya Profesor Mauridhi Hery Purnomo (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Profesor Benyamin Kusumoputro (Universitas Indonesia), dan 8 juri lainnya melibatkan Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan Politeknik Negeri Bandung.

Rektor Telkom University Profesor Mochamad Ashari memberikan apresiasi untuk seluruh peserta yang telah hadir. Terlebih peserta tidak saja dari kawasan Indonesia bagian barat, melainkan banyak dari tengah dan barat.

”Kami sampaikan apresiasi tertinggi untuk seluruh peserta, dari ujung barat Indonesia hingga Timur, pertemuan di Universitas Telkom ini menjadi simbol kebersamaan kita, dalam membangun dan mewujudkan cita-cita bangsa, sebagai bangsa yang maju, tumbuh-berkembang, mandiri dalam hal teknologi dan robotika” ujarnya.

Profesor bidang Elektro ini berkeyakinan, dengan KRI2017 ini, seluruh peserta dapat mengkolaborasi kemajuan dan inovasi di bidang robotika, sehingga pembelajaran menjadi lebih terpacu. “Gelaran semacam ini seyogyanya menjadi momentum elaboratif, kita bisa mengambil pelajaran penting dengan berbagi inovasi antar peserta, juga para pendamping, agar ketika kita pulang ke kampus masing-masing, selain piala kejuaraan, pengetahuan baru juga di dapat,” nasihat Ashari

Ketua Umum KRI2017 Telkom University Dr Palti Sitorus menjelaskan, kontes robot ini merupakan kontes bergengsi skala nasional karena merupakan kompetisi resmi negara melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti). Selain itu, peserta yang lolos sebagai pemenang akan mengikuti puncak kompetisi dan bertemu dengan dengan tim terbaik dari Regional lainnya yang sebelumnya telah bertanding di Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Sriwijaya Palembang.

”Ini gelaran robot terbesar di Indonesia, tentu kami menyiapkan diri sebagai tuan rumah semaksimal dan sefasilitatif mungkin, sehingga peserta dapat berkonsentrasi penuh untuk menunjukkan performa robot-robot andalan mereka,” pungkasnya. (*/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here