Kenalkan Dasar Membangun Negara

2
sosialisasi pilar kebangsaan
BERI SOSIALISASI: Anggota DPR RI Komisi X, Ledia Hanifa Amalia S.Si., M.Psi.T (foto depan kelima dari kiri), saat berfoto bersama guru dan siswa - siswi SMKN 1 Cimahi, usai melakukan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, di Aula SMKN 1 Cimahi Jalan Mahar Martanegara, Leuwigajah, Kota Cimahi, Senin (10/4)

jabarekspres.com, CIMAHI – Untuk memperkenalkan dasar-dasar dalam membangun bangsa kepada para pelajar. Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ledia Hanifa Amalia melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika, di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK N) 1 Kota Cimahi.

Ledia mengatakan, empat pilar kebangsaan merupakan hal yang penting yang harus dipahami para pelajar. Sebab empat pilar kebangsaan merupakan akar dari Bangsa Indonesia, yang semakin hari semakin berkurang untuk dipelajari.

”Makin kesini- makin berkurang, dengan mata pelajaran yang sedikit. Paling hanya dua SKS (Satuan Kredit Semester, Red.) dalam satu semester. Ini kan jadi persoalan,” katanya, usai melakukan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di SMK N 1 Cimahi, Jalan Mahar Martanegara Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, kemarin.

Ledia menjelaskan, dengan sosialisasi yang masif diharapkan siswa bisa lebih sadar dan menjadikan empat pilar kebangsaan sebagi satu hal yang penting. Sehingga banyaknya pelajar yang selama ini apatis dan berujung tidak mau ikut berpolitik dan terkesan acuh terhadap bangsa akan sirna. Pasalnya, jika mereka para pelajar sudah cukup umur dan ilmunya tetapi  tidak mau membantu mengelola negara, siapa lagi yang akan mengurus bangsa ini.

”Maka untuk menanamkan kecintaannya kepada bangsa, harus dimulai dari sekarang. Diawal-awal priode saya sebagai anggota dewan, saat sosialisasi banyak para pelajar yang saat ditanya, gak ada yang mau jadi anggota dewan karena takut korupsi,” jelasnya.

Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, hal itu terjadi karena minimnya para pelajar dalam pengetahuan mengenai tugas dan fungsi anggota dewan. Padahal ada banyak tugas dan fungsi DPR yang juga perlu diketahui oleh para pelajar. Oleh karena itu, Ledia lebih memilih untuk sosialisasi kepada para siswa, guru atau mahasiswa.

Dia melanjutkan, para pelajar merupakan generasi penerus dan penentu terhadap kemajuan bangsa, sehingga para pelajar harus terus diberi pengetahuan dan pengertian untuk lebih mencintai bangsa. Tidak hanya pelajar, tetapi hal tersebut juga perlu diberikan kepada para guru, sebab menurutnya, dengan perkembangan tata negara kita yang terus berkembang, para guru dituntut untuk bisa membahas dan menjelaskan hal terbaru tentang bangsa ini kepada para siswa.

”Seperti tadi ada pertanyaan, kurikulumnya masih menjelaskan penjelasan UUD 45 padahal penjelasan itu di UUD nya sudah tidak dipergunakan. Tetapi kenapa malah diajarkan? jadi buat gurunya juga pusing. Ini yang jadi bagian kita harus membentuk kelompok diskusi untuk para guru, supaya nanti tidak sulit serta mereka jadi tau apa saja yang dibahas dan bagaimana menjelaskan kepada siswa,” ujarnya.

Ledia menyebutkan, pada tahun-tahun lalu ada beberapa guru Cimahi yang justru mendorong ke siswanya untuk bertanya ke anggota DPR lewat medsos. Meski sebutnya, melalui medsos waktunya terbatas, sehingga ia berfikir harus memaksimalkan sosialisasi dengan berkeliling agar siswa setidaknya mempunyai pengetahuan mengenai mengapa harus lebih mencintai bangsanya.

Selain itu, tujuan lain mensosialisasikan mengenai empat pilar kebangsaan pada guru-guru adalah untuk meluruskan mengenai materi empat pilar kebangsaan dan wawasan kebangsaan yang wajib disampaikan kepada pelajar.

”Kadang gurunya sendiri tidak paham mengenai materi yang disampaikannya. Supaya nanti tidak sulit dipahami siswa, serta mereka jadi tau apa saja yang dibahas dan bagaimana menjelaskan kepada siswa, makanya kita berikan sosialisasi juga kepada guru-guru,” sebutnya

Ia juga mengingatkan agar guru-guru perlu meningkatkan skillnya, terutama dalam mempersiapkan materi yang akan disampaikan. Karena menurutnya anak-anak zaman sekarang sudah lebih efisien dengan memanfaatkan internet.

“Tidak sinkron rasanya kalau mengajarkan mengenai UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika menggunakan materi yang tidak update. Selain itu, permasalahan kebangsaan sekarang juga semakin mengkhawatirkan. Bagaimana caranya dari penyampaian materi juga menumbuhkan jiwa nasionalisme pelajar dan remaja,” jelasnya.

Menanggapi banyak dan beragamnya jenis pertanyaan yang dilontarkan para siswa dan rata-rata mengkritisi pemerintah, ia mengaku hal tersebut cukup bagus sebab hal tersebut mengindikasikan jika para siswa memperhatikan kinerja pemerintahnya.

Ia juga menyampaikan jika sebagai anggota dewan, maka harus selalu siap untuk menjawab segala pertanyaan yang ditujukan kepada pihaknya. Hal tersebut juga sebagai kontrol dan tuntutan tanggung jawab yang dilayangkan kepada lembaga perwakilan rakyat.

“Kalau anggota dewan takut ditanya itu menjadi persoalan. Justru ini merupakan mekanisme pengawasan dan kontrol, tidak hanya dari siswa, ternyata para guru juga punya banyak pertanyaan terutama yang berkaitan dengan tugas pokok mereka ini merupakan bagian dari yang harus dilakukan untuk menggali lebih dalam berapa banyak persoalan-persoalan di masyarakat yang harus diselesaikan,” pungkasnya. (adv/ziz)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here