Kartini, Tidak Mengeluh Meski Terbelenggu

5

SOSOK RA. KARTINI masa kini penuh dengan ide-ide ny­eleneh. Up to date dan anti mainstream. Itu pun disadari betul oleh Nia Kurnia yang tak lain adalah owner Rabbani.

Perempuan lansiran Sumedang 1969 itu menilai, tantangan perempuan saat ini dari sisi ekonomi adalah mampu me­ningkatkan kompetensi sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Sebab, perempuan punya peran ganda terkait statusnya.

Dia mencontohkan, sebagai pribadi memiliki tanggung jawab langsung terhadap Allah SWT, maka dia harus memiliki ilmu pengetahuan yang cukup untuk bisa hidup sebagai perempuan yang mulia. Kemudian memi­liki akhlaq yang baik untuk bergaul dengan sesamanya. ”Juga memiliki skill untuk bekal hidupnya,” jelasnya Nia kepada Jabar Ekspres, baru-baru ini.

Poin lainnya, sebagai istri, dia dituntut sukses memerankan pasangan hidup untuk suaminya. Lalu sebagai ibu sukses dalam mengurus dan mendidik anak-anaknya. Terakhir namun tidak kalah penting, perempuan juga harus aktif menciptakan ling­kungan masyarakat yang kon­dusif. ”Dan semua itu hrs ber­sinergi dengan suaminya (bagi yang sudah bersuami),” ucapnya.

Bagaimana memandang sosok Kartini dan peran perempuan berdasarkan kodratnya? Nia mengungkapkan, ulama besar pembaharu Islam Hassan Al Banna mengatakan:”Perempuan tangan kanannya menggoyang ayunan, tangan kirinya meng­guncang dunia.”

Pada dasarnya semua perem­puan memiliki naluri yang sama yaitu cenderung pada fitrahnya yang nyaman di sam­ping suami. Penyayang terhadap anak-anaknya dan rela berkor­ban untuk apapun yang dia mau dan dia perjuangkan.

”Maka tolok ukur keberhasilan­nya adalah seberapa besar pe­rempuan itu memiliki keinginan terhadap sesuatu,” jelasnya.

”RA Kartini yang kita selalu peringati hari kelahirannya, sepemahanan saya sampai saat ini adalah sosok perempuan pejuang berdasarkan zamannya. Berkontribusi besar terhadap peradaban. Dan itu suatu hal yang anti mainstream,” jelasnya.

Bagi ibu enam orang anak ini, sosok Kartini menginspirasi kaum perempuan akan kegigi­hannya dalam berjuang men­capai tujuan yang seharusnya dicapai. Walaupun sering ter­belenggu keadaan, terintimi­dasi dengan norma dan aturan yang eksisting, tapi selama itu untuk hal yang layak dan perlu diperjuangkan maka pantang mundur surut ke belakang, te­rus maju sampai tercapai tu­juan hakikinya.

Disinggung soal kapan seorang perempuan harus memutuskan diri untuk mandiri, Nia menilai, harus sejak dini. Bagi dia, anak perempuan punya kewajiban un­tuk mempersiapkan diri. Menuntut ilmu yang tinggi, punya skill untuk hidup, punya profesi dll. ”Dan percayalah, perempuan selalu mampu,” tegasnya.

Nah, ketika seorang perempuan berkeluarga maka hal tersebut tentu akan sangat bermanfaat untuk keluarganya. ”Hanya ma­salah teknis saja. Dan itu relatif sesuai tuntutan kebutuhan dan prioritasnya. Dan paling penting mau melangkah,” urainya. (rie)

Perlu Menjaga Konsistensi

PERKEMBANGAN teknologi dan informasi mendorong ba­nyak generasi muda perempuan untuk terus berkembang dan kreatif. Dan sangat memungkin­kan disalurkan ke dunia usaha.

Bagi Nia Kurnia, menjadi wi­rausaha saat ini jauh sangat mudah disbanding zamannya dulu ketika membangun Rab­bani dari nol. ”Sebab segala sesuatunya serba offline, mulut ke mulut. Ya wajar, modalnya juga saat itu sedikit,” ungkap Nia kepada Jabar Ekspres, belum lama ini. Sebaliknya, generasi saat ini dipermudah dengan sistem online. Tanpa modal yang besar pun bisa memasarkan item dengan mudah. ”Kalau yang belum, lakukan, mulai dari sekarang,” kata dia.

Menurut Nia, menjadi wirau­saha tidak perlu menunggu kon­disi terjepit. Semakin baik per­siapan, semakin baik juga hasil yang akan diperoleh ketika men­ghadapi beragam cobaan. ”Tidak ada kata terlambat untuk me­mulai. Termasuk dalam keadaan bakat ku butuh (terhimpit kebu­tuhan ekonomi dalam bahasa Sunda, Red),” jelasnya.

Yang digarisbawahi, konsisten. Bagi Nia, konsistensi itu penting untuk dijaga. Dengan begitu, brand yang akan dijual akan bisa dipercaya oleh konsumen.

”Jangan terbawa arus. Usum-usuman, lebih baik konsisten dengan langkah dan visi dari apa yang kita bangun. Tanpa mengecilkan arti up to date ya,” pungkasnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here