Kapolda Jabar Resmi Berganti

Kapolri Instruksikan Tangkap Pendana - Pemesan Saracen

7
PIMPINAN BARU: Pejabat baru Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto (kanan) dan Pejabat lama Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Anton Charliyan (kiri) melakukan salam komando seusai upacara serah terima jabatan Pati Polri di Rupatama Mabes Polri.

jabarekspres.com, JAKARTA – Tampuk jabatan Kapolda Jabar resmi berganti. Irjen Pol Agung Budi Maryoto resmi menggantikan Irjen Pol Anton Charliyan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memimpin upacara serah terima jabatan sekaligus pelantikan. Resmi tidak lagi menjabat sebagai Kapolda Jabar, Anton akan menjabat sebagai Wakil Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Lemdikpol). Selain itu, Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Zulkarnain juga resmi dilantik menggantikan posisi Irjen Pol Agung Budi Maryoto yang kini menjabat sebagai Kapolda Jabar.

Kapolda Riau kini posisinya resmi digantikan oleh Brigjen Pol Nandang yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Barat. Sebagai pengganti Nandang, Kapolda Riau kini dijabat Brigjen Pol Baharudin Djafar yang sebelumnya menjabat sebagai Karopaminal Divpropam Polri.

Sementara itu, untuk Kapolda Lampung yang baru kini juga resmi dijabat oleh Irjen Pol Suroso Hadi Siswoyo yang sebelumnya menjabat sebagai Pati Baintelkam Polri (Penugasan PD BIN).

Suroso sendiri yang kini menjabat sebagai Kapolda Lampung yang telah menggantikan posisi Irjen Pol Sudjarno, yang kini menjabat dalam jabatan baru sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang Sabhara Baharkam Polri.

Selain memimpin upacara tersebut, Tito juga langsung memimpin pembacaan sumpah serah terima jabatan yang diikuti oleh pejabat Polri yang melakukan serah terima jabatan.

Usai melakukan sumpah serah terima jabatan, Tito menuturkan, banyak konsekuensi yang harus diterima oleh anak buahnya tersebut. ”Apabila melanggar sumpah ini akan menjadi konsekuensi di dunia dan akhirat,” tuturnya.

Pergantian posisi di jajaran Polri itu tertuang dalam Surat Telegram Nomor ST/2032/VIII/2017 Tanggal 25 Agustus 2017 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Polri.

Di sisi lain, pengungkapan kasus produsen ujaran kebencian dan sara Saracen terus tidak akan berhenti hanya pada tiga tersangka. Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menginstruksikan untuk mengembangkan kasus tersebut hingga siapapun yang terlibat. Terutama, pada pemberi dana dan pemesan ujaran kebencian.

Mantan Kapolda Papua tersebut mengaku telah menginstruksikan pada Bareskrim untuk mengembangkan kasus pembuatan hoax yang berunsur ujaran kebencian dan SARA tersebut.

”Saya minta kembangkan hingga tidak ada lagi yang membuat hoax, konten negatif dan provokatif yang melanggar aturan,” tegasnya.

Ada sejumlah pihak yang harus dikejar dalam kasus tersebut, yakni pemberi dana dan pemesan ujaran kebencian. Kesemuanya harus ditindak tegas. ”Saya sudah sampaikan tangkap-tangkapain aja semua,” terang jenderal berbintang empat tersebut.

Tidak hanya itu, sesuai informasi yang diterimanya masih ada banyak produsen ujaran kebencian dan SARA sejenis Saracen. ”Yang sejenis itu harus juga dikejar, tidak pandang bulu,” paparnya.

Dia mengungkapkan, sindikat ujaran kebencian dan SARA seperti Saracen ini yang berada dibalik perpecahan selama ini. ”Mereka yang selama ini memecah masyarakat,” urainya.

Dia mengatakan, dalam pemilihan presiden 2014 dan pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, Saracen dipastikan telah bermain untuk memecah belah. ”Sudah eksis dalam dua pemilihan itu,” tuturnya.

Apakah ada pengguna jasa untuk memenangkan pemilu? Tito mengatakan bahwa penanganan kasus belum sampai ke tahap tersebut. Yang pasti, saat ditemukan fakta hukum keterlibatannya, siapapun pasti diproses. ”semua yang terlibat tanggungjawab,” paparnya.

Sementara itu, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, saat ini penyidik sedang menyusun semua puzzle dalam kasus tersebut. Perlu diketahui bahwa kasus ini ibarat bangunan yang besar. ”Konstruksinya harus diketahui satu per satu untuk mengetahui gambaran lengkapnya,” terangnya.

Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) telah digandeng untuk mempercepat penelusuran terhadap siapapun yang telah bermain. ”Pemesannya siapa tentu akan diketahui,” ujarnya.

Menurutnya, penyelidikan kasus Saracen masih berlangsung, saat semua lengkap tentu akan diketahui dengan pasti pemesan-pemesan tersebut. ”Tunggu semuanya lengkap dulu,” paparnya.

Sebelumnya, Bareskrim mengungkap tiga orang anggota sindikat Saracen. Kelompok tersebut memiliki 800 ribu akun media sosial. Seorang ketuanya berinisial JAS memiliki 10 ribu akun yang dikelola sendiri. JAS juga memiliki kemampuan untuk bisa mengambil alih akun media sosial pihak yang ditargetkan. (idr/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here