37

Ivestasi Bodong Masih Mengancam

OJK
SINERGIS: Kepala OJK KR 2 Jabar Sarwono (paling kiri) mendampingi Anggota Dewan Komisioner OJK Ilya Avianti (kedua kiri) bersama Anggota DPR RI Ecky Awal Mucharam.

bandungekspres.co.id, BANDUNG – Otoritas Jasa Keuangan mengklaim, investasi bodong di Indonesia sudah berkurang. Sebab, masyarakat sudah mulai aware seiring penindakan hukum yang kian ketat.

Anggota Dewan Komisioner OJK, Ilya Avianti mengatakan, baru-baru ini Bareskim bersama OJK sudah melakukan penangkapan kepada orang-orang yang telah melakukan penipuan investasi.

”Jadi sekarang sudah mulai berkurang, tapi kalau ada di daerah lain coba-coba nanti satgas investasi sudah bergerak,” jelas Ilya, kemarin  (17/1).

Di samping itu, menyikapi berbagai macam investasi asing, pihaknya saat ini telah bekerjasama dengan Interpol dan lembaga keuangan di berbagai Negara. Sehingga ketika investasi ini masuk ke Indonesia bisa terditeksi.

Menurutnya, beberapa investasi asing bisa dengan mudah diidentifikasi dibanding investasi lokal. Sebab dalam memasarkan produksi biasanya ditawarkan secara virtual. Dengan kata lain, tidak memiliki kantor perwakilan di Indonesia. ”Jadi ini juga patut diwaspadai oleh masyarakat luas,” jelas

‎Kepala Perwakilan OJK Jabar Sarwono mengungkapkan permasalahan investasi bodong yang terjadi cukup banyak. Nah, pihaknya tidak bisa menditeksi perusahaan tersebut jika tidak dibantu laporan dari masyarakat.

Menurutnya, dari beberpa kasus yang baru-baru ini terjadi seperti di Cirebon dan Depok, kerugian investasi ini bisa mencapai triliunan rupiah.

Untuk itu dirinya mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan keuntungan yang tidak rasional atau tidak memiliki legalitas saat berinvestasi.

”Penwaran ini sering disamarkan sebagai penjualan langsung atau peluang bis‎nis dengan skema atraktif,” ucap Sarwono.

Dirinya menyebutkan saat ini OJK telah menangani dan memproses 80 perusahaan yang menwarkan investasi bodong di seluruh Indonesia.

Untuk itu, lanjut dia dalam berinvestasi terdapat dua penilaian yang harus diperhatikan masyarakat. Pertama, harus wajib dipahami imbal dan tingkat risikonya. Untuk tingkat ini biasanya masyarakat dan perusahaan investasi masih memiliki sikap kenyamanan dan kurang peduli pada risikonya. (yan/rie)

 

 

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.