Industri Kreatif Sulit Dapat Pinjaman Bank

FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES
UKIRAN WAJAH: Perajin menata kerajinan seni bayangan yang dipajang pada acara Bazar UMKM Mitra Binaan PT Kereta Api Indonesia di Area Parkir Stasiun Bandung, Jalan Kebonjati, Senin (2/1).

jabarekspres.com, SUMUR BANDUNG – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mempertemukan pelaku eko­nomi kreatif subsektor desain produk, desain interior, dan desain komunikasi visual dengan perbankan pada acara Bekraf Financial Club (BFC) di Hotel Aryaduta, Jalan Aceh, Kota Bandung, kemarin (7/4).

Direktur Akses Perbankan Bekraf Restog K. Kusuma mengatakan, acara ini untuk mendapatkan pola pembiayaan perbankan yang sesuai untuk pelaku ekonomi kreatif. Sebab, para pelaku industri kreatif ma­sih kesulitan mendapat pinjaman modal dari perbankan.

Restog menyatakan, modal merupakan salah satu ken­dala dalam mengembangkan usaha kreatif. Sementara per­bankan masih belum menge­nal nature business dari sub­sektor ekonomi kreatif.

”Kami berharap perbankan mengetahui dan memahami nature business dari rantai nilai subsektor desain produk, in­terior, dan komunikasi visual. Sehingga, perbankan bisame­nyalurkan pembiayaan kepada pelaku ekonomi sub sektor ekonomi kreatif,” ucapnya.

BFC mempertemukan dan mampu menjembatani pelaku ekonomi kreatif dan juga kalangan perbankan dari konvensional dan syariah. Di mana pesertanya mencapai 50 persen.

”Ini adalah salah satu fasi­litas Bekraf untuk bisa menge­tahui angka realisasi jumlah modal yang di salurkan perbankan kepada pelaku eko­nomi kreatif,” terangnya.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat Ismet Inono mengatakan, saat ini usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau eko­nomi kreatif sedang dikembangkan dan didorong. Apalagi saat ini, Kota Bandung sudah menjadi Kota Kreatif Dunia.

Akan tetapi, Kota Bandung saat ini lebih banyak kon­sumsinya dari pada produksi­nya. Yakni sekitar 60 berban­ding 40 persen. ”Untuk me­rubah hal itu, kita harus bisa melihat sub sektor seperti ekonomi kreatif ini,” katanya.

Karena, menurut dia, sub sektor ekonomi kreatif ini memiliki nilai yang cukup besar. Karena dunia ekonomi krea­tif ini tidak ada yang memba­tasi, tergantung pemikiran para pelakunya.

”Apalagi Indonesia memi­liki keuntungan demografis. Dan anak muda yang cukup tinggi nilainya sampai tahun 2030, yang harus kita jaga dan diarahkan,” terangnya.

Sambung dia, saat ini perbankan sulit memberikan pinja­man atau kredit terhadap para pelaku ekonomi kreatif ini karena kurang pahamnya mereka tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pemegang HKI banyak menghasilkan produk intansible namun tidak semuanya bersertifikasi.

”Dari sekian banyak para pelaku ekomoni tapi hanya sedikit yang mendaftarkan hasil karyanya,” ungkap dia.

Selain itu, narasumber dari sektor Desain Komunikasi Visual (DKV) Hastjarjo Boedi Wibowo mengatakan, DKV merupakan subsektor berba­sis pelayanan, bukan prodak. Dan software adalah modal utama dalam menjalankan pekerjaan ini. Sedangkan bagi pelaku ekonomi kreatif di subsektor DKV yang bergerak di ranah produksi membutuhkan mudal kerja besar.

”Kebanyakan modal sendiri, saat usahanya berkembang baru merekrut orang untuk jadi tim dalam pengerjaan. Dan semoga dengan adanya acara ini Surat Perintah Kerja (SPK) bisa di jadikan jaminan bank,” harapnya. (pan/fik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here