Ibu Pembuang Bayi Idap Gangguan Jiwa

1
YULLY S. YULIANTI/JABAR EKSPRES
PENDEKATAN PERSONAL: Kapolsek Banjaran Kompol Susianti Rahmi (kiri) saat melakukan interogasi pada tersangka F (kanan) pelaku pembunuhan anaknya di Mapolsek Banjaran, kemarin (6/4).

jabarekspres.com, BANDUNG – Seorang ibu pelempar anak kandungnya F, 24, diduga mengalami gangguan jiwa sejak kecil. F diketahui membuang anaknya bernama Muhammad Fazar Sulaiman yang masih 16 bulan ke Sungai Singaparaya, Kampung Ciceret, Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Rabu (5/4) sekitar pukul 07.00.

F pun kini ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana terhadap anaknya sendiri.

Menurut kerabat tersangka, Iceu Winjudah, 54, dirinya prihatin dan kaget setelah mendengar F membuang putra bungsunya ke Sungai hingga tewas. Iceu mengaku, bahwa saudaranya itu memiliki gangguan kejiwaan sejak kecil.

Selain itu, kata Iceu, F diketahui sedang mengalami permasalahan rumah tangga. F sering cekcok dengan suaminya hingga pisah ranjang karena tak menerima pekerjaan suaminya sebagai pegawai serabutan. Belum lagi karena himpitan ekonomi yang mungkin menjadi pemicu F tega membunuh darah dagingnya sendiri.

”F sejak kecil belum sempat menjalani perawatan (kejiwaan) karena tidak ada biaya. Suaminya tahu apabila F sedikit mengalami gangguan kesehatan. Bahkan sempat juga bercerai tapi rujuk kembali. Sehingga putra pertamanya pun sejak kecil diasuh oleh kakaknya,” kata Iceu saat ditemui di kediamannya, kemarin (7/4).

Sementra itu, Bupati Bandung Dadang M. Naser ikut prihatin terhadap kasus insiden ini. Untuk mengawal kasus tersebut, Dadang, siap menerjunkan tim untuk memastikan alasan F yang tega menghabisi nyawa putranya sendiri.

”Pembuangan bayi itu murni pidana, kasus ini bukan kali ini terjadi di sejumlah tempat. Oleh karena itu, kami akan mendorong, supaya kasus itu diselesaikan secara tuntas oleh pihak kepolisian. Dan saya secara pribadi turut berduka cita atas meninggalnya bayi tersebut yang telah menjadi korban ibunya sendiri,” kata Dadang.

Dadang juga menjelaskan, motif dibalik kasus pembunuhan anak sebenarnya sering. Mulai dari hubungan gelap, di mana si orang tua yang tidak mau bertanggung jawab, serta himpitan ekonomi seperti pengungkapan kasus di Banjaran.

”Saya harap masyarakat meningkatkan ketakwaan. Dalam situasi sulit apapun menjaga keimanan dan sabar menghadapi berbagai cobaan,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, akan menerjunkan tim P2TP2A untuk mengawal sekaligus mendampingi F. Dirinya meminta seluruh aparat kewilayahan intensif menyosialisasikan soal pemahaman keagamaan kepada masyarakat.

”Ada 3,6 juta penduduk di Kabupaten Bandung. Itu artinya masalah sosialnya juga cukup tinggi. Jadi ya harus dibentengi termasuk dari ancaman kejahatan seksual, dan kejadian yang tak diinginkan seperti pembuangan anak karena faktor ekonomi,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Kamis (6/4), aparat Kepolisian Sektor Banjaran mengamankan F setelah mengaku yang melempar putranya di sungai. Hal itu diperkuat dengan hasil olah TKP usai petugas melakukan serangkaian pemeriksaan pasca menerima laporan tentang penemuan mayat korban dialiran sungai di Kampung Ciceret. F sebelumnya sempat tidak mengaku. Namun setelah didesak akhirnya dia mengakui tindakan tersebut. (yul/fik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here