Humas Pemprov Akan Ikuti JIPO Award

20

jabarekspres.com, BANDUNG – The Jabar Ekspres Institute of Pro Otonomi (JIPO) terus menggencarkan sosialisasi Jabar Innovation Award. Sebuah kompetisi inovasi pelayanan publik antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jawa Barat dan pemerintah kabupaten/kota di Jawa Barat.

Apresiasi perdana datang dari Bagian Humas Pemprov Jawa Barat. Kabag Humas Ade Sukalsah menyatakan langsung tertarik mengikuti kompetisi tersebut. ”Saya akan mencoba menjadi yang pertama mendaftar lomba ini,” kata Ade penuh antusias kepada Direktur Eksekutif JIPO Suhendrik dan Manajer Jabar Innovation Award JIPO Andy Rusnandy.

Ade mengungkapkan, pihaknya sudah memiliki inovasi yang akan diajukan kepada panitia. Inovasi ini sudah diterapkan dan manfaatnya sudah bisa dirasakan oleh masyarakat. Bahkan, dia menyebut inovasinya ini belum dimiliki di bagian humas daerah lain. ”Sepertinya, baru kami yang memiliki inovasi seperti ini. Di tempat lain tidak ada,” ujarnya.

Ade mengakui, inovasi yang diciptakan tidak berbasis aplikasi. Dia meyakini jika sebuah inovasi tercipta tak melulu mengandalkan aplikasi. Pihaknya justru menitikberatkan pada nilai kemanfaatan dari inovasi tersebut. ”Output inovasi kami ini konkret,” tegasnya.

Untuk mengikuti awarding, Ade sudah memerintahkan stafnya untuk merancang kemasan proposal yang bisa menarik perhatian tim juri. Termasuk memilih nama inovasi yang unik, kreatif, familiar, dan mudah diingat.

Sementara itu, dalam sosialisasinya, Manager Jabar Innovation Award Andy Rusnandy menegaskan, proposal yang eye cathing mampu menghipnotis juri untuk membaca lebih lanjut. Penamaan inovasi juga merupakan hal dasar yang sangat penting. ”Deskripsi dalam proposal sangat menentukan,” katanya.

Andy menjelaskan, Aparatur Sipil Negara (ASN) kerap dihadapkan pada kalimat baku yang tertera pada peraturan perundang-udangan. Kalimat baku itulah yang dinilai tidak menarik perhatian tim juri untuk membaca lebih lanjut proposal yang diajukan.

”Semisal dalam latar belakang proposal inovasi, OPD sudah menyebutkan dasar aturan A, aturan B, dan lainnya. Atau penamaan inovasi yang standar saja,” ungkapnya.

Tim juri, kata Andy, menerima banyak proposal. Mereka membaca proposal tersebut satu per satu. Jika ingin menarik perhatian juri, tentu kalimat demi kalimat dalam proposal harus diperhatikan. ”Kalau dalam bab pendahuluan saja sudah tidak menarik, ya bisa-bisa proposalnya langsung disimpan. Tidak dibaca,” paparnya.

Andy mengingatkan, sesuai jadwal, pendaftaran dan penyerahan proposal Jabar Innovation Award pada Januari hingga Maret 2018. Kemudian, seleksi proposal April hingga Mei. Lalu pada Juni, tim penilai turun ke lapangan sekaligus penganugerahan kepada pemenang.

Melalui Jabar Innovation Award, JIPO mencoba mendorong percepatan lahirnya berbagai program inovasi pelayanan publik di Jawa Barat. Baik di OPD Jawa Barat. Maupun pemerintah kabupaten kota di Jawa Barat. Sekaligus sebagai upaya mendukung program kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) yang digelar Kemenpan-RB.

”Kompetisi ini dilaksanakan secara paralel. Harapannya, menjadi exercise (latihan, Red) dan membiasakan diri pelayanan publik kita berinovasi,” kata Andy.

Pada Kompetisi Sinovik 2017 Kemenpan-RB,  OPD Pemprov Jabar berhasil mengirimkan 21 inovasi. Selain itu, inovasi pelayanan publik dari Kota Sukabumi, Kabupaten Sumedang dan Kota Tasikmalaya masuk Top 99. Berkaca dari hal itu, semangat berinovasi dalam pelayanan publik sebenarnya cukup tinggi.

”Tinggal kami ikut mendorong peserta yang ikut kompetisi ditingkatkan. Caranya dengan berlatih secara bersama-sama. Melalui kompetisi ini,” ungkapnya.

Andy menjelaskan, penamaan judul proposal sebagai salah satu elemen terpenting dari hasil Sinovik 2017. Inovasi Samsat Jawa Timur memperkenalkan program layanan Easy Samsat. Salah satu layanan inovasinya yakni jemput bola mendatangi wajib pajak ke desa-desa.

Layanan Easy Samsat itu, menurut Suhendrik, pada prinsip layanannya sama seperti program layanan yang ada di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jawa Barat. Di mana layanan tersebut bernama Samsat Gendong. ”Hanya kemasan mereka lebih bagus. Tapi menurut saya, esensi program layanannya lebih bagus milik Bapenda Jabar,” ucap dia.

Oleh karena itu, penamaan inovasi dan pembuatan proposal menjadi fokus utama. Dengan adanya kompetisi yang digelar JIPO, diharapkan OPD dan pemerintah kabupaten/kota lebih mampu memberi nama  inovasi. Pembuatan proposal lebih menarik lagi. Tidak kalah penting adalah dampak pelayanan publik makin terasa bagi masyarakat. “Harus eye catching dalam mengemasnya. Itu penilaian penting,” tegasnya.

Dari hasil pengamatannya, penamaan program yang condong kepada bahasa daerah, jadi penilaian krusial oleh tim juri di Kemenpan-RB. Pihaknya tidak memungkiri penamaan layanan berdasar pada kedaerahan sudah sangat tepat. Hanya saja, karena inovasi tersebut berada pada level nasional, tim juri sepertinya lebih memilih penamaan yang bersifat umum. Bukan kedaerahan.

”Misalnya saja nama layanan KPK Peluk Kebo dari DKI Jakarta. Atau Pantasi Mart dari Kabupaten Sumedang. Nama-nama itu sepertinya lebih disukai tim penilai dibanding nama yang condong kesundaan,” ulasnya.

Wawan Sobari, dosen FISIP Universitas Brawijaya yang juga Supervisor JIPO mengungkapkan, kompetisi ini bisa menjadi pintu masuk bagi lembaga-lembaga bantuan internasional masuk ke Jawa Barat. Selama ini, sejumlah lembaga tersebut sudah mau memberikan bantuannya ke Jawa Timur.

”Ini pintu masuk. Sebab, di Jawa Barat baru sedikit lembaga yang masuk. Dan itu pun melalui perantara orang lain. Tidak langsung bersentuhan dengan lembaga yang bersangkutan,” papar pria yang juga peneliti JPIP ini.

Keterlibatan media dalam memasarkan inovasi pemerintah sangat penting. Kompetisi ini mendorong OPD terbiasa melakukan inovasi. ”Harian Umum Jabar Ekspres akan produktif memberitakan inovasi tersebut dan memprofilkan para inovator yang menjadi pahlawan inovasi di masing-masing OPD dan daerah,” ungkap dia. (and/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here