Hari Ini, Warga Terima Dana Pembebasan

16

jabarekspres.com, BANDUNG – Banjir di tiga wilayah Kabupaten Bandung tiap tahun berulang. Namun, penyelesaian tak kunjung datang.

Sebelumnya, mencuat solusi yaitu pembuatan kolam retensi. Namun, proyek tersebut terkendala dengan pembebasan lahan.

Kasi Pemerintahan Kelurahan Baleendah, Dadan Sundana menegaskan, pembebasan lahan sudah beres hanya tinggal pembayaran yang akan dilakukan pada hari ini (14/11) hingga Kamis (16/11).

”Kami berharap kolam retensi yang akan dibangun bisa meminimalisir banjir dan bisa secepatnya selesai,” kata Dadan di Kelurahan Baleendah, kemarin (13/11).

Menurutnya, jadwal pembayaran hari ini akan dilakukan RT 01, 02 dan 03 Rw 20. Selanjutnya, Rabu (15/11) pembayaran dilakukan di Rt 04/Rw 20, Rt 02/Rw 28, serta pada Kamis (16/11) akan dilakukan pembayaran Rt 01/Rw 28.

Selama tiga hari itu, lanjut Dadan, pelaksanaan uang pembayaran uang ganti rugi pembebasan Kampung Cieunteung Kelurahan Baleendah. ”Ini belum selesai, masih ada tahap musyawarah RT 01 dan 02/Rw 09, yang jumlah penduduknya sebanyak 38 pemilik,” urainya.

”Kendala mereka bertahan karena belum ada tempat untuk pindah, dan masih menunggu pembayaran. Mungkin mereka mempertahankan hak saja,” sambungnya.

Menurutnya, proyek kolam retensi di Kampung Cieunteung telah dilakukan sejak 2016 lalu. Namun, lahan seluas delapan hektar untuk pembuatan kolam retensi terkendala pembebasan lahan. Sehingga terkesan lamban.

”Kolam retensi ini diharapkan nantinya bisa menurangi banjir yang selalu terjadi saat musim hujan di tiga wilayah, yaitu kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang,” paparnya.

Sementara itu, satu pekan banjir di Kabupaten Bandung tak kunjung surut. Sebab, curah hujan yang cukup tinggi, menyebabkan luapan sungai Citarum masuk ke ribuan rumah warga. Kendati demikian, warga hingga kini tetap bertahan dan enggan mengungsi.

Ulfah Fauziah, 23, warga Dayeuhkolot Kabupaten Bandung memilih tinggal di lantai dua rumahnya. Bukan hanya keluarganya saja, namun tetangga pinggir rumahnya memilih bertahan dari pada harus dievakuasi ke pengungsian.

”Meskipun kebanjiran, kami memilih tinggal di rumah sendiri. Namun, sebagiannya ada juga yang mengungsi ke masjid,” kata Ulfah kemarin (13/11).

Dia mengaku, hidup di pengungsian lebih banyak uang yang harus dikeluarkan. Di samping itu, di penungsian cenderung penuh.

”Pengeluaran lebih besar, makan pun harus beli karena bantuannya jarang, dan tempat pengungsian juga pada penuh,” ungkapnya.

Ulfah juga mengatakan, mereka yang lebih bertahan di rumah jumlahnya mencapai ratusan. Sementara itu, ketinggian banjir mencapai lebih 50 sentimeter. Kondisi yang dialaminya ini sudah berlangsung sejak 2005 lalu. Dirinya pun mengaku heran Sungai Citarum sering dikeruk agar berkurang sedimentasi. Namun tetap terjadi banjir.

Camat Dayeuhkolot Yiyin Sodikin menjelaskan, banjir di Dayeuhkolot tidak bisa dihindari. Sebab, wilayahnya merupakan cekungan dan titik pertemuan sungai dari wilayah Sumedang, Majalaya, Cisangkuy dan Cikapundung. Selain itu, kewenangan mengatasi banjir ada di Provinsi melalui BBWS.

”Kamu bukan tidak ada upaya untuk mengatasi banjir ini, namun kewenangannya ada di BBWS. Namun kami tetap melakukan evakuasi dan pemantauan,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya ketinggian banjir di wilayah Dayeuhkolot mencapai 50-160 sentimeter. Berdampak kepada lebih 14 ribu jiwa dan 2.900 lebih rumah terendam di empat desa. ”Saat ini titik pengungsian mencapai tujuh tempat,” pungkasnya. (yul/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here