Gunakan Medsos untuk Perubahan

Ketika Surat Tak Lagi Dijadikan Alat Perjuangan Kartini Masa Depan

”Yang mendorong saya untuk menjadi atlet voli ayah. Namun saat kelas 3 SMP di Jogjakarta, ayah saya wafat. Karena tidak ada motivasi, akhirnya saya berhenti latihan voli,” ujar Kinan.

Seiring waktu, saat kelas 1 SMA, paman Kinan di Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU mengajaknya pindah ke Bandung. Pamannya sebagai pelatih tembak di Paskhas mengarahkan dia agar menjadi atlet.

Untuk meningkatkan kualitasnya, pamannya memasukan Kinan ke Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu seluruh Indonesia (Perbakin). Di situlah bakat Kinan dibentuk.

Menurut dia, fasilitas menembak di Jogjakarta tidak sebagus di Bandung dan DKI Jakarta. Melalui Perbakin dirinya selalu berusaha mengasah kemampuan dalam menembak. Memang sejak awal masuk Perbakin, Kinan memiliki tekad menjadi atlet tembak.

”Setelah lulus SMA tahun 2015, saya daftar Wanita Angkatan Udara, namun tidak lolos. Saya mencari alternative lain, ya pendaftaran paling dekat saat itu masuk Bintara Polisi. Alhamdulillah sekali masuk langsung lulus,” ujar dia.

Meski sudah masuk kepolisian, Kinan tidak serta merta meninggalkan hobinya menembak. Dirinya selalu menyempatkan waktu berlatih dan mengikuti kejuaraan.

Dia selalu bercita-cita tidak ingin menjadi polisi biasa. Dia mengaku, ingin menonjolkan prestasi yang tidak semua orang bisa melakukannya.

”Saya juga mendapat kepuasan batin. Apalagi menjadi atlet itu merupakan hobi yang dibayar. Saya mendapat uang bulanan di samping gaji saya di Polri,” ujar dia.

Lebih lanjut Kinan menambahkan, suatu saat ingin mengikuti kejuaraan menembak tingkat Asia hingga dunia. Namun untuk saat ini, dirinya konsentrasi di kepolisian dan latihan menembak. (fik)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR