Flyover Padasuka Longsor

flyover-padasuka-longsor
NUR AZIZ/BANDUNG EKSPRES
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Perhubungan dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cimahi, Ainul Yakin (bertopi) sedang menunjukan tanah yang longsor di pangkalan jembatan flyover Padasuka, akibat terkikis aliran sungai dan intensitas curah hujan yang tinggi.Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Kamis (6/4).

jabarekspres.com, CIMAHI – Jembatan flyover Padasuka yang sempat terhenti pengerjaannya longsor akibat tergerus sumber air di dalam tanah sekitar jembatan. Longsor dengan ketinggian tanah sekitar 13 meter dengan kemiringan 16 meter dan lebar sekitar 8 meter tersebut jika dibiarkan akan membuat konstruksi jembatan goyah. Sehingga, bisa saja flyover tersebut roboh akibat kontur tanah yang tidak stabil.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Perhubungan dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cimahi Ainul Yakin mengatakan, sebenarnya longsor tersebut terjadi sejak Januari 2017 tetapi tidak terlalu besar. Namun karena intensitas hujan sejak Januari cukup tinggi dan sumber air di bawah tanah yang besar maka longsoran yang besar tak terelakan. Sehingga harus ada perbaikan dengan pengerjaan secara bertahap.

”Mulai ketahuan longsor 24 Januari, 28 Januari longsor kedua, langsung ditangani,” terang dia saat meninjau longsor flyover Padasuka, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, kemarin (6/4).

Dia menjelaskan, kondisi tanah semakin tergerus sumber air didalamnya. Imbasnya, semakin lama tanah akan semakin tergerus. Sehingga harus cepat ditangani agar tidak mengalami kerusakan yang sakin parah. ”Pengikisan tanah, terus longsor, makannya kita tangani,” jelasnya.

Ainul mengungkapkan, untuk penanganan kerusakan, pihaknya memperbaikinya dengan menggunakan bronjong. Tujuanya, untuk menahan dan menguatkan tanah agar tidak longsor. Penanganan dengan bronjong ini dilakukan setelah melakukan konsultasi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) jalan.

”Hasil konsultasi dengan Puslitbang Jalan, arahan dari sana ada beberapa alternatif, akhirnya kita menggunakan bronjong,” ujarnya.

Sedangkan untuk anggaran yang digunakan dalam penanganan dan pemasangan bronjong sendiri, Ainul mengungkapkan, dari dana darurat khsusu flyover Padasuka yang mencapai Rp 750 juta. Namun khusus total pembayarannya akan disesuaikan dan diakumulasikan setelah proses pekerjaanya selesai.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR