Emil Minta Bebas Memilih

Hanya Partai Nasdem Yang Tidak Sodorkan Cawagub

95
SK DUKUNGAN: Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto saat resmi menyerahkan surat keputusan rekomendasi penetapan pencalonan Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien untuk Pilkada Provinsi Jawa Barat 2018 dari Partai Golkar.

jabarekspres.com, Bandung – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meminta kepada semua partai pendukung untuk memberikan kebebasan dalam menentukan calon wakil gubernur (Cawagub). Meski dia sendiri mengaku tetap menghormati keinginan partai masing-masing.

”Saya mengharapkannya begitu yah. Tapi saya harus mendengarkan langsung dari semua partai,” kata Emil sapaan Ridwan Kamil di Bandung, kemarin (13/11).

Dikatakan Emil, partai yang memberikan kebebasan kepada dirinya dalam menentukan cawagub untuk Pilgub Jawa Barat sampai saat ini hanya Partai Nasdem.  Sisanya, semangat untuk mendorong kader masing-masing sebagai wakil karena merasa berperan untuk meloloskan Emil untuk syarat mencalon.

”Itu kan baru saya dengar dari Partai Nasdem. Memang Nasdem yang membebaskan pilihan,” kata dia.

Alasan dirinya menginginkan kebebasan dalam menentukan wakil, kata dia, agar nantinya tercipta komunikasi yang baik antara dirinya dengan wakil yang dia pilih dalam menjalankan roda pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Namun, dia berkilah, wakil yang disodorkan oleh partai saat ini tidak kompeten.

”Saya ingin mendapatkan pasangan yang chemistry-nya baik. Sehingga lima tahun akan tenang produktif dalam membangun Jawa Barat,” urainya.

Dalam menentukan wakilnya nanti, Emil memastikan tidak akan terlalu melihat latar belakang wakilnya tersebut. Sebab, yang terpenting adalah wakilnya memiliki elektabilitas. Di antaranya dicintai serta mendapat penerimaan dari masyarakat.

”Gak usah pilih-pilih‎ yang penting masyarakat menerima. Salah satu ukurannya harus disurvei yah. Apabila responnya baik, berarti masyarakat menyukai, itu penting faktor elektabilitas dari masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, pernyataan Ridwan Kamil kembali juga mengundang kecaman kader arus bawah dari Partai Golkar. Hal ini terkait ucapan Emil yang menyatakan akan menjadi kader Golkar namun kemudian dibantah.

Juru bicara Forum Komunikasi Pengurus Kecamatan se-Jawa Barat Yayan Heryana mengatakan, seharusnya pria yang menjabat Wali Kota Bandung tersebut tidak memberikan harapan palsu kepada partai Golkar. Terlebih, antara Emil dan Ketua Umum Golkar Setya Novanto, diketahui bersahabat.

”Seharusnya Pak Emil tidak memberikan harapan palsu kepada kader partainya, termasuk kami yang ada di dalamnya sebagai pengurus di bawah,” ujar Yayan, kemarin.

Menurut Yayan, kedekatan Emil dan Setnov—sapaan Setya Novanto—tak sekadar konteks Pilkada Jawa Barat saja. Keduanya diketahui telah lama menjalin kedekatan melalui jaringan usaha jasa arsitek milik Emil. Setnov, diketahui kerap menjadi pengguna jasa tersebut.

”Kalau Pak Setnov membutuhkan jasanya untuk rencana pembangunan gedung, biasanya kontak ke Kang Emil. Jadi, ini mereka berdua sudah bersahabat lama sekali,” tuturnya.

Menurut Yayan, Emil diharapkan bisa menjaga integritas. Sebab, Emil dinilai, kerap melontarkan wacana penawaran posisi calon Wakil Gubernur Jawa Barat kepada seluruh partai pengusungnya.

”Termasuk ke Golkar minta Daniel Muttaqien menjadi cawagubnya. Tapi belakangan semua dibantah dan diarahkan ke partai koalisi,” tuturnya.

Sebelumnya, Ridwan Kamil mengutarakan keinginannya menjadi kader Partai Golkar saat penyerahan rekomendasi partai tersebut kepadanya pada Kamis (9/11) lalu. Namun, pernyataan tersebut dia bantah di Rengasdengklok, Karawang pada Sabtu 11 November 2017 lalu.

Di bagian lain, Pilgub Jabar juga menjanjikan persaingan yang unik. Sebab, parpol-parpol besar memilih untuk mengusung calon nonkader internal. Bahkan, PDIP dikabarkan melirik Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk dicalonkan meski yang bersangkutan adalah kader Golkar.

Hingga kemarin, Ridwan Kamil merupakan satu-satunya calon yang sudah memastikan bisa dengan mudah menjadi cagub Jabar. Dia diusung Partai Nasdem, PKB, PPP, dan Golkar. Total perolehan kursi mereka di DPRD Jabar adalah 38 kursi, jauh di atas syarat minimal pencalonan 20 kursi.

PDIP menjadi satu-satunya parpol yang dapat mengusung calon tanpa koalisi karena memiliki 20 kursi. Namun, hingga kemarin mereka belum memutuskan nama yang bakal diusung.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira hanya menjanjikan bahwa nama calon gubernur yang diusung PDIP diumumkan pada momen yang tepat. Terkait dengan nama Dedi Mulyadi, dia mengakui bahwa politikus Partai Golkar itu masuk dalam radar PDIP. Selama ini, kata anggota Komisi I DPR tersebut, partainya mempunyai hubungan baik dengan Dedi. Begitu juga sebaliknya. ”Dedi juga punya komunikasi baik dengan PDIP di Jawa Barat,” terang legislator asal NTT tersebut.

Namun, Andreas belum bisa memastikan partainya akan mengusung Dedi sebagai cagub Jabar atau tidak. Dia tidak mau berandai-andai dan berasumsi. ”Lihat saja nanti. Ada kejutan saat deklarasi,” kata politikus kelahiran Flores tersebut kemarin.

Sekjen DPP PDHasto Kristiyanto juga belum dapat memastikan kapan nama cagub Jabar dideklarasikan. Mengenai nama, alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyebut sejumlah figur yang aktif berkomunikasi dengan PDIP. Selain Dedi Mulyadi, ada nama Deddy Mizwar dan Netty Prasetiyani Heryawan. Nama terakhir merupakan istri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. ”Itu yang dari eksternal,” ujarnya. Ada juga yang dari internal partai. Misalnya, T.B. Hasanuddin dan Budi Guntur. (mg1/lum/c14/fat/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here