Dukungan BMI Tidak Konsisten

Pertemuan 4 Balonbup Dinilai Bentuk Kegalauan

5
BMI
DUKUNGAN: Jajaran Pengurus BMI Kabupaten Bandung Barat saat menyatakan dukungan kepada pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati, Elin Suharliah dan Maman Sunjaya untuk maju pada Pilkada KBB 2018 mendatang di Ngamprah, Selasa (12/9).

jabarekspres.com, BANDUNG – Pertemuan empat bakal calon bupati (balonbup) yang juga kader PDI Perjuangan dinilai sebagai gesekan di internal PDIP. Sebab, dukungan Banteng Muda Indonesia (BMI) Kabupaten Bandung Barat kepada Elin-Maman dipandang tidak konsisten.

”Saya memandang itu bentuk kegalauan mereka. Padahal seharusnya disikapi dengan bijak tanpa harus berkumpul seperti itu,” tegas Ketua Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Kabupaten Bandung Barat, Heri Setia Munandar di Padalarang, kemarin (14/9).

Menurut dia, pertemuan ini dinilai sebagai cara untuk mengkotak-kotakan di internal PDI Perjuangan. Itu dapat terlihat dengan tidak hadirnya Elin dan Maman. Padahal, semua kader itu harus memikirkan bagaimana memajukan partai ini semakin besar dalam menghadapi Pilkada, Pileg dan Pilpres.

”Ini terlihat mengotak-kotakkan antar kader di internal sendiri. Kalaupun mau, silakan mereka juga bisa didukung oleh sayap partai atau dari luar partai. Itu sah saja,” ungkapnya.

Heri membantah, bila dukungan BMI dan Repdem terhadap Elin-Maman sebagai bentuk kegaduhan di internal partai. Dukungan dari sayap partai merupakan sikap yang sah dan diperbolehkan. ”Kami juga membantah bila dikatakan bikin kegaduhan karena mendukung Elin-Maman. Justru dengan adanya pertemuan empat balonbup tersebut yang membuat kegaduhan,” tutur Heri seraya menyebutkan sayap partai terdiri dari BMI, Bamusi, Taruna Merah Putih dan Repdem.

Heri menjelaskan, alasan dukungan bagi Elin-Maman dari BMI dan Repdum lantaran sudah melalui proses hitungan dan kajian yang dilakukan di internal sayap partai. Pasangan Elin-Maman dinilai lebih berpeluang besar untuk menang dalam Pilkada dibandingkan dengan yang lainnya.

”Dalam mendukung Elin-Maman kita lakukan kajian dan hitungan. Walaupun memang Maman itu bukan kader, tapi kalau dipadukan dengan Elin justru peluang menang sangat besar,” tuturnya.

”Ini pasangan yang memang potensial, daripada harus mengusung pasangan dari sesama kader yang memang peluang lebih kecil, kita tidak mau. Saya ambil contoh, perpaduan dengan non kader pernah terjadi antara Abubakar dengan Ernawan, buktinya menang,” sambungnya.

Diakui Heri, tantangan ke depan seharusnya semua pihak memikirkan agar PDI Perjuangan bisa lebih besar di Kabupaten Bandung Barat. Ini dapat terlihat sejak Pemilu Legislatif 2009 lalu, jumlah pemilih untuk PDI Perjuangan di KBB mencapai 138.000 orang dengan jumlah 12 kursi. Tahun 2014, meningkat menjadi sekitar 200.000 pemilih.

”Pada saat itu, Elin juga sebagai Ketua Bapilu. Artinya, bila Elin-Maman dipasangkan, maka suara PDI Perjuangan ke depan bisa naik terus,” ujarnya.

Sebelumnya, empat kader PDI Perjuangan yang juga bakal calon bupati (balonbup) Pamriadi, Yayat T Somitra, Aa Umbara Sutisna dan Udis Supriatna berkumpul di Kota Baru Parahyangan. Pertemuan mereka disinyalir sebagai respon atas dukungan BMI kepada Elin-Maman.

Bahkan, sikap BMI dipandang membuat kegaduhan di internal PDI Perjuangan oleh empat balonbup tersebut. Aa Umbara Sutisna menyatakan, saat ini semua kader yang sudah mendaftar ke PDI Perjuangan masih menunggu hasil resmi dari DPP PDI Perjuangan tentang hasil rekomendasi sebagai calon bupati. Sehingga semua pihak diminta untuk menghormati dan menunggu hasil dari DPP. ”Kami bersepakat untuk menjaga soliditas partai. Jangan sampai ada kegaduhan di internal PDI Perjuangan (seperti sikap BMI, Red),” ujar Aa. (drx/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here