Curigai Praktik Trafficking

P2TP2A Minta Usut Tuntas nikahsirri.com

0
NETTY HERYAWAN
Netty Prasetiyani Heryawan
Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak

jabarekspres.com, BANDUNG – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Prasetiyani, curiga ada praktik perdagangan anak dalam layanan situs nikahsirri.com. Bahkan, ada kecenderungan mengarah pada human trafficking.

”Kami meminta masyarakat waspada, jangan-jangan ini hanya akal-akalan saja dari praktik human trafficking, perdagangan orang dalam hal ini anak-anak. Kami meminta agar kepolisian bisa mengusut tuntas,” ujar Netty, kemarin (24/9).

Untuk mengantisipasi hal itu, Netty mengaku, sudah berko­ordinasi dengan Kapolres Be­kasi Kombes Pol Hero Henrianto Bachtiar untuk menindaklanjuti informasi yang beredar tentang nikahsirri.com yang ada di wilayah kerjanya.

Bila benar ada praktik eks­ploitasi, maka itu sudah ada pelanggaran pidana. Begitu pun, jelas Netty, dengan lay­anan nikah sirri. Ada indi­kasi kuat hal itu bagian dari praktik prostitusi.

”Jadi ini jelas bukan hanya melanggar norma masyarakat dan kaidah agama, tapi juga ada dugaan pelanggaran hu­kum,” jelasnya.

Netty juga mengimbau agar para orang tua lebih intens berkomunikasi dengan anak. Anak jangan sampai terjebak pada bujuk rayu atau iming-iming hasil yang melimpah dari praktik jual keperawanan.

”Jadi, jangan sampai karena iming-iming dikasih rumah, mobil, uang banyak, dan hand­phone bagus lalu ikut layanan mereka. Bentengi anak-anak, jangan sampai terjebak,” ujarnya.

P2TP2A juga mengajak ma­syarakat bila ada yang men­jadi korban agar jangan takut melaporkan hal itu ke penegak hukum. ”P2TP2A Jabar akan membantu mendampingi, mengadvokasi, dan memuli­hkan trauma. Jadi jangan takut, silakan bisa juga lapor­kan ke kami,” jelas Netty.

Sementara itu, beberapa wilayah Jawa Barat memiliki data kasus trafficking yang cukup tinggi. Salah satunya di Kabupaten Cianjur. Berda­sarkan data yang dihimpun hingga Agustus 2017, kasus trafficking mencapai 17 kasus.

Menurut Komisioner Ko­misi Perlindungan anak Bidang Traficking Ai Maryati Solihah mengatakan, untuk membong­kar data trafficking membu­tuhkan penanganan yang maksimal. Bukan hanya itu diperlukan pengawasan yang efektif dan peran media. ”Data tersebut hanya berda­sarkan pengaduan saja,” kata Ai Maryati usai pertemuan dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Beren­cana, Pemberdayaan Perem­puan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Ci­anjur, belum lama ini.

Menurutnya, saat ini data tersebut masih belum menam­pilkan fakta yang terjadi di la­pangan. Walaupun begitu, pihaknya mengapresiasi ma­syarakat yang telah mengadu­kan masalah trafficking.

”Dulu masyarakat sulit un­tuk mengadukan masalah-masalah perdagangan orang. Sebab, lembaga yang menam­pung pelaporan. Namun, sekarang masyarakat hanya perlu keberanian insyaallah kita tangani,” jelasnya..

Sementara itu, salah satu perwakilan DPPKBP3A Ka­bupaten Cianjur Esih Sukae­sih mengungkapkan, saat ini Kabupaten Cianjur akan mendorong upaya pemerin­tah dalam memberantas per­dagangan orang. ”Terutama permasalahan buruh migran dengan meningkatkan sosia­lisasi dan koordinasi dengan berbagai pihak stake holder perlindungan anak,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, pi­haknya akan menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk mengawasi dan berani melaporkan jika terjadi upaya pemalsuan dokumen dalam perekrutan. Biasanya hal ter­sebut terjadi dikarenakan iming-iming gaji yang tidak masuk akal. Bahkan ajakan usia anak untuk bekerja.

”Berbagai modus baru se­perti penipuan melalui media sosial dan iklan lowongan kerja. P2TP2A berhasil me­mulangkan anak-anak korban trafficking ada yang terjadi di Batam, Bengkulu dan lain-lain,” tuturnya.

Esih juga menegaskan, untuk mewaspadai pelaku trafficking yang dilakukan oleh anak-anak. Padahal sebenarnya, anak-anak merupakan korban dari traf­ficking. ”Oleh karena itu kami akan terus kita membongkar sampai pada aktor intelektu­alnya, kami tidak takut,” papar­nya. (yan/yul/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here