Cukup Modal Untuk Mengabdi Di Jabar

1
emil-indramayu
UTOYO PRIE ACHDI/RADAR INDRAMAYU BLUSUKAN KE INDRAMAYU: Ridwan Kamil (tengah) saat melakukan kunjungan ke Desa Cemara Wetan Kecamatan, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, kemarin (23/7).

jabarekspres.com – BERHASIL memimpin Kota Bandung, Ridwan Kamil dinilai sudah piawai soal pe­merintahan, politik serta sosial dan kemasyarakatan. Dengan pengalaman dan pengetahuannya itu maka sangat potensial bagi Emil—sapaan Ridwan Kamil untuk memimpin Jawa Barat.

Pengamat politik dari Uni­versitas Parahiyangan (Unpar) Asep Warlan mengaku, ba­nyak orang mengapresiasi keberhasilan Emil membangun Kota Bandung. Meski­pun tidak dapat dipungkiri masih ada juga kekecewaan dari sebagian orang. Tapi apresiasi (baik) itu bisa dijadikan modal Emil untuk dibawa ke Jabar,” kata Asep kepada Jabar Ekspres, belum lama ini.

”Kalau pun ada yang kecewa, tapi itu wajar dalam sebuah kepemimpinan,” sambung­nya.

Dari sisi subtansi kompe­tensi, Emil memadai untuk memimpin Jabar. Sebab, penguasaan, pengetahuan dia untuk problem kemasyara­katan dan pembangunan Jabar juga sudah cukup baik.

Asep menuturkan, meski sejauh ini baru partai Nasdem dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang baru mendeklarasikan dukungan. Meski, jika melihat kursi yang mereka miliki, belum memenuhi syarat untuk mencalonkan. Namun, koalisi tersebut su­dah menjadi modal tambahan Emil untuk maju menjadi Jabar I.

”Memang masih perlu men­cari mitra koalisi partai lain. Sejauh ini kita belum tahu siapa yang akan gabung dan siapapun masih terbuka un­tuk bergabung dengan RK,” tuturnya.

Tidak hanya peran Emil yang dominan, tapi pentingnya koalisi partai Nasdem dan PKB serta mesin partainya bergerak dan berkomunikasi meyakinkan partai lain untuk bergabung.

Untuk meyakinkannya, la­njut Asep, bisa dengan dua cara. Pertama, dengan program yang sesuai dengan partai mereka atau dengan menawarkan pendamping.

”Bisa dikerjasamakan se­perti itu. Namun tidak dengan dua hal itu saja, diperlukan pula kekuatan tim suksesnya serta ke kuatan materi. Nah, itu juga akan menjadi bahan pertimbangan partai untuk bergabung,” jelasnya.

Saat disinggung terkait po­pularitas Emil di Jabar, Asep mengatakan, jika dilihat dari hasil survei yang dibuat oleh lembaga indepen­den, hingga saat ini masih menempatkan Emil di tiga besar. Itu berarti, Emil sudah dike­nal oleh publik di Jabar dan bisa menjadi salah satu mo­dal kuat.

”Peluangnya cukup besar karena sudah dikenal publik. Tinggal bagai­mana ca­ra­nya peluang tadi didukung dengan kekuatan partai supaya dia bisa mendaftar,” katanya.

Apalagi dengan isu yang beredar, Golkar mulai men­jajaki untuk ikut bergabung dengan Emil itu akan me­nambah kekuatan bagi Emil. Sehingga hal tersebut harus bisa di­manfaatkan sebaik mungkin. ”Apakah dengan menawarkan program atau menawarkan salah satu kader Golkar se­bagai pendamping,” ucapnya.

Di sisi lain, politik juga abu-abu. Tidak bisa ditebak. Ma­kanya, dia mewanti, Emil bersama tim berhati-hati dalam memilih pendamping. Minimal pendamping yang mempunyai kemampuan tidak jauh dengan dirinya.

”Pendampingnya harus orang yang punya pengeta­huan, pengalaman serta intregitas yang tidak jomplang. Juga tidak ego, sehingga benar-benar bisa kompak,” imbuhnya.

Lantas bagaimana untuk meyakinkan masyarakat un­tuk memilih? Untuk mening­katkan kepercayaan masy­arakat agar mau memilih Emil sebagai gubernur, kata Asep, maka yang di­tawarkan harus sesuai dengan standar keinginan masyarakat. Pertama harus bisa meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Pendidikan, Keseha­tan. ”Tidak kalah penting adalah meningkatkan daya beli,” ujarnya.

Kemudian, me­ningkatkan pemerataan pembangunan di Jabar. Bila ini dilakukan, makan kesen­jangan pembangunan, khu­susnya di bagian selatan, utara dan tengah tidak ter­jadi lagi.

Terakhir tidak kalah penting, reformasi birokrasi. ”Emil harus bisa menunjukkan bahwa kelak Jabar akan mem­punyai birokrasi yang bersih, berkualitas dan kedekatan sosial yang menggambarkan Jabar aman nyaman dan tidak ada konflik,” tandasnya.

Senada dengan Asep War­lan, pengamat politik Un­jani Arlan Sida mengatakan, dengan melihat elek­tabilitas dan popularitas yang ada, maka cukup mumpuni dan percaya diri (PD) bagi Wali Kota Bandung ini untuk maju. Dan suatu kewajaran jika Emil berani mencalonkan menjadi Jabar I.

”Masuknya Ridwan Kamil (Emil) ikut dalam kompetisi di Pilgub yang akan datang pasti menambah semarak dan makin seru secara dina­mika politik,” ujar Arlan ke­pada Jabar Ekspres.

Menurut Arlan, terobosan-terobosan yang dilakukan oleh Emil menjadi pelajar politik dan pemerintahan. Namun secara politis, kelemahan Emil tidak memiliki partai atau bu­kan kader. ”Berarti masih ku­rang untuk pengetahuan po­litiknya,” ucap dia.

Namun demikian, Arlan menjelaskan, keberhasilan membangun Kota Bandung akan berbeda dengan membangun sebuah provinsi. Sebab dalam konteks pembangunan saja akan ada perbe­daan karakter antara di dae­rah utara dan selatan. Se­hingga mau tidak mau pria berkacamata itu akan men­ghadapi kesulitan dengan problem di Jabar tersebut.

”Di sini diperlukan kerja keras dari partai pengusung agar mewujudkan Jabar lebih baik. Dengan terobosan-terobosan baru yang di luar mainstream Emil selama ini,” jelasnya. (ziz/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here